
Sarah sedang membuat cemilan olieballen, kue khas belanda yang dari tadi pagi sudah di wanti-wanti Raka, minta dibuatkan oleh istrinya itu.
"Sayang, rasanya aku mau olieballen..."Raka berucap manja, sambil menemani Sarah duduk berjemur bersama babby Rae sambil membuka beberapa map yang baru di antar Dea.
"Olieballen?" alis Sarah bertaut dengan heran mendengar nama yang agak asing ditelinganya itu.
"Iya."Sahut Raka pendek.
"Bitterballen kali?"
"Bukan bitterballen tapi olieballen."Raka bersikukuh.
"Itu apa? nama makanan?"
"Ya, iyalah sayang...masa nama kucing?"
"Baru dengar, sayang. Sarah terkekeh melihat sang suami yang kesal karena Sarah tidak mengerti maksudnya.
"Katanya setengah chef, masa olieballen belum pernah bikin."
"Belum pernah, sayang...sumpah deh." Sarah mengernyit dahi pada Raka, sementara Rae yang duduk di pangkuan Sarah tak bisa diam.
Raka mengambil ponselnya, lalu menunjukkan hasil pencarian di google sebuah gambar kepada Sarah.
"Ini?" Sarah mengernyit dahinya, memperhatikan gambar yang terpampang di layar handphone Raka.
"Iya, sepertinya enak kalau jadi kudapan sore nanti." Raka menyahut.
"Oalah, sayang...ini sih roti goreng...!" Sarah tak bisa menahan tawanya.
Di kepalanya tadi sempat terbersit, makanan yang di maksud Raka itu sejenis cake atau semacamnya, yang sulit di buat.
"Coba bilang dari tadi, roti goreng, kan aku bisa cepat loadingnya."
Raka manyun kepada Sarah, ditertawakan sang istri membuatnya cemberut.
Raka paling suka dengan semua makanan yang dibuat oleh tangan Sarah, menurutnya semua hasil karya istrinya itu enak semua.
Sejak Rae lahir dan sekarang sudah berusia hampir dua bulan, Sarah menjadi istri yang banyak berdiam di rumah saja.
Untuk bisnis butiknya, sekarang lebih banyak dipercayakannya pada Jen dan Grace.
Meskipun kadang-kadang jika ada salah satu klien yang fanatik dan mengorder baju hanya dari desain Sarah, mau tidak mau Sarah meluangkan waktu untuk membuat desain dari rumah saja.
Sarah benar-benar semaksimal mungkin berusaha merawat dan mengasuh baby Rae dengan tangannya sendiri. Tak banyak yang di lakukan oleh suster Dian, babby sitter yang bertugas membantu Sarah, disewa oleh Raka secara khusus karena takut istrinya kewalahan mengurus baby Rae sendirian.
Maklumlah, Sarah baru pertama kali jadi ibu, banyak hal yang belum terlalu dikuasainya dalam merawat bayi.
__ADS_1
"Sayang...olieballennya sudah siap belum?" Tiba-tiba Raka muncul mendadak di dapur, dengan nakal dia memeluk Sarah dari belakang.
"Minyaknya panas, sayang...jangan dekat-dekat." Tegur Sarah, tapi si papa muda ini tak perduli, kepalanya malah makin menyusup di bahu Sarah.
Bi Asih yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil, dengan cepat menyingkir dari dapur, membiarkan tuan dan nyonya mudanya itu di sana.
"Heran, anak jaman sekarang, kok doyan mesra-mesraan di depan wajan." Wajah bi Asih merona sendiri.
"Cepat sekali pulang hari ini..." Sarah membalik kue bulat yang berkubang di dalam minyal panas di depannya itu.
"Menyindir, nih...?" Raka melingkarkan tangannya di pinggang Sarah, ini adalah kali pertama dia pulang sudah sesore ini, biasanya Raka malah pulang pas waktu makan siang, hanya sekedar mengambil atau melakukan pertemuan singkat dengan klien atau kolega. Selebihnya segala hal di kerjakan dari rumah.
Dia kalau sudah melihat Rae, bawaannya selalu tak mau kemana-mana.
"Siapa bilang menyindir." Sarah terkekeh.
"Cuma heran, tak biasanya pulang jam segini." Sarah mengangkat bulatan-bulatan roti kuning keemasan yang berisi kismis dan potongan buah apel itu menggunakan tirisan.
Sarah mematikan kompor dan berbalik kepada Raka, yang balas menatapnya dengan sedikit misterius. Mata itu berkilat dengan ragu, ada kecemasan dan kegelisahan di sana. Sarah sangat mengenal raut wajah Raka jika sedang menyembunyikan sesuatu.
"Daddy Rae ini pasti sangat sibuk tadi." Sarah tersenyum pada Raka yang merenggangkan pelukannya.
Sarah menyimpan sedikit keheranan dengan sikap Raka yang tak biasa ini. Terbersit sedikit kekuatiran di mata Raka yang selalu hangat itu, tapi segera berganti dengan senyuman.
"Ada seseorang yang ingin bertemu tadi." Sahut Raka kemudian sambil merenggangkan pelukannya.
"Sayang...ini sudah 51 hari, lho?" Tiba-tiba Raka menyeletuk dengan genit.
"51 hari?" Sarah mengerutkan keningnya sambil melepaskan celemek yang dipakainya.
"Iya."
"Ada yang ulang tahun? kamu masih ulang tahun dua bulan lagi, kan?" Sarah sedikit bingung dengan maksud dari suaminya itu.
"Bukan itu..." Raka masam-mesem seperti anak yang malu-malu.
"Terus?"
"Kemarin kan dibilang tunggu habis 40 hari?" Raka nyengir.
"Oooooooh...." Sarah langsung ngakak mendengar keterangan sang suami ini. Dia memang sering mempermainkan Raka soal puasa suaminya ini yang diperpanjang Sarah sesuka hati.
"Jangan bilang ada perpanjangan lagi." Raka mendekap sang istri dengan wajah memelas yang lucu.
"Astaga sayang, soal yang itu kamu ingat sekali..." Sarah memasukkan sebuah olieballen ke mulut sang suami dengan gemas.
Raka langsung mengunyahnya tanpa bisa bicara lagi.
__ADS_1
"Sayang, aku kan kangen." Raka mencium tengkuk istriny dengan manja.
"Ini dapur sayang, bukan kamar..."
"Tapi janji, ya..."
"Iya...iya...nanti malam, tunggu Rae tidur yah..."Sarah mencubit lembut perut suaminya yang masih menggunakan kemeja karena baru pulang dari kantor.
"Tapi kamu wajib tidurin Rae ini malam, kalau Rae masih melek, puasa di perpanjang."
"Siap, amankan batman kecil, nyonyahku..." Raka menyasar sebuah ciuman sebelum kabur meninggalkan dapur.
sarah tercenung sepeninggal Raka, dia masih mengingat wajah yang tampak ragu dan gelisah ketika Sarah seolah menanyakan kenapa dia datang lebih lambat dari kebiasaannya, selama baby Rae hadir.
Selama ini Raka tidak pernah melewatkan satu momen makan siang sekalipun.
"Sayang..."sebuah sentuhan singgah di pundak Sarah.
"Mama." Sarah hampir telonjak karena terkejut, dia sama sekali tidak menyadari kehadiran mama.
"Kok, melamun begitu?" Mama tersenyum kecil pada Sarah.
"Kamu tidak apa-apa kan, sayang?" mama menepuk bahu menantunya itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa, ma. Cuma tadi memikirkan sesuatu." Sarah tersipu sambil menyibukkan diri menyusun kue ke dalam piring porselen.
"Rae di mana, ma?" Sarah sedikit bingung, melihat si bayi kecilnya itu tak nampak
Tadi, si baby Rae masih bersama mama, ketika dia masuk ke dapur membuat kue pesanan sang suami.
"Sudah dengan daddynya..."Jawab mama sambil mengambil segelas air dari atas meja.
"Mau ditidurkan katanya." Lanjut mama dengan bingung.
Sarah mengggaruk kepalanya sendiri.
"Ini kan masih kesorean menidurkan Rae..."Sarah bergumam dalam hati, sambil masam mesem sendiri.
(Hai...hai...maafkan aku para readers kesayangan, dua hari author mengurus real life jadi tidak sempat UPš¤ nantikan episode selanjutnya, ada apa dengan pamud kesayangan kita iniš jangan lupa VOTE, LIKE, KOMEN untuk dukungan buat novel iniš¤)
...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikanš...
...I love you allā¤ļø...
__ADS_1