
Sebuah ketukan di pintu ruangan Mytha, membuat terganggu perempuan setengah baya yang sedang sibuk membalas WA salah satu temannya, soal janji untuk bertemu di sebuah pesta malam ini. Ada di gelar judi online yang di hubungkan dalam layar besar pada sebuah villa, mereka akan bertaruh hanya dengan mentransfer sejumlah uang ke rekening penyelenggara sebagai saldo, poker virtual itu sedang trend.
Karena ibu-ibu petinggi dan sosialita yang menghadirinya, tentu saja taruhannya di atas ratusan juta sekali bertaruh.
Mytha terkenal sebagai petaruh yang nekad, karena itu dia menjadi member VIP dalam perkumpulan itu.
"Masuklah..."Ujarnya tetap tak mengalihkan pandangannya dari handphonenya.
"Selamat pagi, bu..." Dea yang kembali bekerja pada Raka setelah sekian lama cuti, muncul dari belakang pintu.
(Rian yang menjadi asisten sementara Raka sudah di rekrut Edgar untuk menjadi asistennya😊 Sekedar info, siapa tahu ada yang nanya jomblo ngenes itu🤭)
"Ada apa?" Tanya Mytha dengan acuh tak acuh, dia tidak punya pekerjaan apapun di kantor itu karena dia tak mengerti apapun tentang perusahaan.
Paling-paling memberikan tanda tangan jika ada yang memang memerlukan tanda tangan para komisaris.
"Pak Raka dan Bu Sarah ingin bertemu ibu..." Jawab Dea sambil mengerjapkan matanya, dia masih belum terbiasa dengan softlens pengganti kacamata yang di sarankan Sarah padanya.
"Suruh saja masuk."
"Mereka tidak menemui ibu di sini..."
Mendengar jawaban Dea, kepala Mytha terangkat, alisnya berkerut tampak tak senang.
"Mereka ingin bertemu di mana? Urusan apa yang membuat mereka menjadi kurang ajar begitu? Yang ingin bertemu siapa? Aku tidak perlu ke ruangan bocah-bocah itu! anak-anak tak hormat pada orantua, semakin lancang saja!!" Mulut Mytha meruncing dalam sumpah serapah. Dia tampak kesal.
"Ibu Mytha di tunggu di ruang meeting." Jawab Dea, tetap formal tak perduli teriakan Mytha.
"Ruang meeting? Hari ini ada rapat?" Mata Mytha terpicing, rasanya tak ada orang yang memberitahukannya akan di adakan rapat.
__ADS_1
"Ibu di tunggu di ruang meeting. Terimakasih, bu. Saya permisi." Dea membungkukkan badannya dan keluar.
Mytha berdiri dengan mimik masih kesal, mau tidak mau mengikuti Dea.
...***...
Ruang meeting itu lengang, ketika Mytha tiba, tapi di sana telah berdiri menghadap meja, Raka, Doddy dan juga Sarah.
Mytha menaikkan alisnya dengan curiga, pada tiga orang yang seketika menoleh bersamaan saat dirinya tiba. Tapi yang sedikit menyita perhatiannya adalah kehadiran Doddy Alfajri yang tak biasa.
"Ada apa? Jangan katakan omong kosong, karena waktuku tak banyak." Dengan pongah Mytha mengambil tempat di kursi komisarisnya yang empuk, membiarkan tiga orang muda itu tetap berdiri di tempatnya masing-masing.
Doddy berjalan sambil membawa beberapa lembar kertas dokumen menuju meja Mytha.
"Saya memberitahukan, dari mulai hari ini, saya resmi tidak terlibat dalam perusahaan Rudiath-Wijaya Group." Katanya sambil mengangsurkan kertas-kertas di tangannya.
Dengan mata terpicing Mytha mengambil kertas itu, dia sedikit heran dengan pernyataan Doddy mengingat dia dan Doddy mempunyai sebuah kerjasama di belakang layar.
Mata Mytha semakin terbeliak memperhatikan kata demi kata di baris perjanjian itu, yang paling diperhatikannya adalah, Doddy menjual semua saham yang dipegangnya kepada Raka termasuk saham yang kini masih di atasnamakan padanya neski sebenarnya telah di jualnya diam-diam kepada Doddy, supaya dia tetap bisa duduk di kursi itu, meski hanya sebagai pajangan.
"Aku menjual semua asetku di sini kepada pak Raka, karena saya memerlukan uangnya segera untuk pembukaan pabrik baru di Kalimantan." Jawab Doddy dengan ringan.
"Ta...tapi...bagaimana dengan sahamku?"
"Saham anda?" Doddy mengerutkan keningnya.
"Bukankah saham anda telah di jual padaku seluruhnya?" Doddy bertanya dengan wajah yang seolah bingung.
"I...Iya, tapi kan perjanjiannya aku masih boleh berada di sini meskipun saham itu milikmu?"
"Oh, untuk hal itu sudah bukan ranah saya lagi bu, karena Saham itu sudah di beli oleh pak Raka, maka yang berhak menentukan boleh atau tidaknya adalah pak Raka." Doddy tersenyum, benar-benar tanpa dosa.
__ADS_1
"Kenapa kamu menjualnya pada dia? Aku tidak pernah menyuruhmu menjualnya pada mereka!" Mytha mengacungkan telunjuknya yang tiba-tiba gemetar itu ke wajah Sarah dan Raka yang masih berdiri tanpa bicara.
"Bukankah ibu Mytha telah menjualnya padaku? Bukankah ibu Mytha telah mengambil uangnya? Saham itu sebenarnya adalah hak saya sepenuhnya, dan karena aku dan papa menyepakati untuk fokus pada pabrik baru, jadi kami memutuskan menguangkan kembali saham itu. Kalau saya kembalikan ke ibu Mytha, saya tak yakin ibu punya dananya, karena itu saya menawarkan kepada salah satu petinggi di perusahaan ini. Apa saya salah?" Doddy, pemuda yang kalem itu, ternyata sangat licik di mata Mytha.
"Aku...aku tahu, ini pasti permainan kalian berdua!!!" Mytha berdiri sambil menghempas meja menunjuk wajah Sarah dan Raka.
"Kalian semua sedang mempermainkanku! Kalian menjebakku!!!" Teriakan penuh kemurkaan itu menyembur dari bibir Mytha. Matanya nyalang, tangannya masih teracung pada ketiga orang di depannya itu bergantian.
"Maaf, bu...tidak perlu mengacungkan jari untuk masalah ini. Biar saya luruskan, saya membeli saham 30 persen utuh dari Doddy sesuai dengan kesepakatan jual beli. Beliau membutuhkan dana segera dan saya bisa mencairkannya sesuai dengan nilai yang di minta. Karena itu, semua saham yang pernah di atasnamakan ibu Mytha yang di jual kepada pak Doddy dan sekarang secara otomatis adalah milik saya." Raka menjelaskan dengan tenang.
Mytha kelojotan mendengar kalimat terakhir Raka itu, kata-kata itu adalah klaim terbuka bahwa Mytha sekarang tak punya apa-apa.
"Sekarang, mungkin ibu mengerti, karena itu saya akan permisi. Terimakasih atas kerjasamanya." Doddy membungkukkan badannya menyalami Raka dan Sarah bergantian, kemudian menyodorkan tangannya hendak menyalami Mytha.
"B@jing@n kamu, Doddy!" Mytha meradang. Doddy tersenyum dan menurunkan tangannya yang mengambang di udara.
"Ini hanya masalah bisnis, bu Mytha...hanya masalah bisnis. Sebaiknya aku undur diri, ada pertemuan lain yang harus saya hadiri." Doddy pamit meninggalkan ruangan itu, menyisakan Mytha yang tampak shock. Mendapati dirinya telah kehilangan semua kepemilikannya di perusahaan itu.
"Aku rasa, ibu Mytha boleh berkemas untuk mengosongkan ruang komisaris. Tidak baik tinggal si sana tanpa jabatan apa-apa, nanti menjadi bahan tertawaan orang. Percayalah, menjadi gunjingan orang itu berat, ibu tak akan sanggup." Senyum Raka mengembang, tangannya melingkar di pinggang Sarah seakan ingin menunjukkan kemesraannya dengan sang istri di depan Mytha yang masih melotot di tempatnya berdiri.
"Sayang..." Untuk pertama kalinya Sarah membuka suara, kepalanya menoleh pada suaminya yang masih menyeringai puas melihat Mytha yang tampak benar-benar shock di depan matanya.
"Bisakah kamu memberiku waktu sebentar, aku akan berbicara dengan mama..." Kalimat itu terdengar lembut dan setengah memohon.
Raka mengernyitkan kening, tak biasanya di dalam kantor itu Sarah menyebut kembali panggilan mama pada Mytha, biasanya dia bersikap formal dengan menyebut mama angkatnya itu dengan Bu Mytha.
"Ya, of course." Raka melepaskan tangannya dari pinggang Sarah.
"Jangan lama-lama, sayang...kita ada janji makan siang hari ini bersama klien." Sebuah kecupan mendarat di dahi Sarah, Raka benar-benar sedang mempertunjukkan betapa sayangnya dia pada istrinya itu di depan Mytha.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....