
"Kamu membuatku takut..."Air mata Sarah tak terbendung, dia terisak di pelukan Raka. Tas yang berada di genggwnnya, di jatuhkannya begitu saja di kakinya, tangannya benar-benar gemetar.
Raka memeluk Sarah dengan lebih erat, di ciumnya puncak kepala Sarah.
"Maafkan aku, sayang." Raka berbisik lembut, dia benar-benar tak tega mendengar istrinya terisak sekarang akibat pranknya.
"Kalau tidak begini, aku tak tahu apakah kamu benar-benar takut kehilanganku atau tidak." Raka berucap setengah menggoda.
"Jahat...jahat...! Kamu Jahat!" Sarah memukul dada Raka masih dengan setengah menangis.
"Kenapa bisa kamu melakukannya padaku...? Ku kira kamu telah bosan denganku."
"Bagaimana aku bisa bosan padamu? Tidak melihatmu sehari saja rasanya kepalaku mau pecah." Raka menangkap tangan Sarah yang memukulinya dengan tidak serius itu, dan mencium jemari istrinya itu.
Sarah menatap Raka dengan tatapan nanar, sementara Raka kemudian mengusap air mata Sarah dengan lembut.
"Sayang, maafkan aku..."
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu." Sarah menyela.
"Aku sudah berprasangka buruk padamu. Aku mengira kamu telah mengkhianatiku. Aku terbawa perasaanku sendiri dan tak mempercayaimu." Desah Sarah.
Raka terkekeh sambil mempererat pelukannya.
"Sudahlah...yang penting, aku tak melakukannya? Jangan menangis lagi. Sekarang kita berdua merayakan ulang tahunmu di sini saja." Raka menepuk punggung istrinya lembut.
"Merayakan ulang tahunku?" Sarah mendonggak kepada Raka, dia tidak melihat ada sesuatu di ruang kerja Raka yang membuat mereka seperti sedang merayakan sesuatu.
"Kemarilah..." Raka membimbing Sarah menuju kursi sofa tamu. dan mendudukkan istrinya di situ.
Di atas meja itu ada sebuah kotak yang tak seberapa besar, Raka membukanya.
__ADS_1
Sarah terpesona, kue berwarna putih dengan dekorasi setangkai bunga tulipe berwarna pink muda, sederhana dan elegan.
Raka menyalakan sebuah lilin kecil diatasnya,
"Selamat ulang tahun, istriku..." Ucap Raka sambil menyodorkan kue mungil sebesar telapak tangan orang dewasa itu.
Mata Sarah berkaca-kaca karena haru, baru kali ini dia merayakan ulang tahun hanya berdua dengan bersama suaminya itu.
Tahun kemarin dia berulang tahun saat usia kandungannya tujuh bulan, mereka terlalu sibuk untuk tujuh bulanan perutnya sehingga hanya di rayakan dengan makan malam bersama di rumah. Di ulang tahun sebelumnya malah dia menangis sendiri di dalam kamarnya, karena merindukan Raka di Leiden.
Ketiga kalinya Sarah berulang tahun selama menikah dengan Raka, dan hari ini suaminya ini menyodorkan sebuah kue ulang tahun di depan hidungnya, membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu, make A wish dan tiuplah lilinnya sebelum meleleh habis." Tegur Raka menyadarkannya.
Sarah memejamkan matanya, dua bulir bening keluar dari sela matanya.
Lindungi dan berkatilah mereka dengan umur yang panjang seperti Engkau memberkatiku..."
Do'a itu di sematkannya dalam hatinya, sebelum dia meniup lilin kecil itu.
"Terimakasih sayang, terimakasih..." Sarah memeluk suaminya dengan hati yang mengharu biru.
"St...tunggu dulu." Raka meletakkan kue itu di meja, dengan sedikit tergesa.
"Aku tak mempersiapkan hadiah apa-apa untuk istriku ini hari ini, tapi besok aku berjanji akan memberikan sesuatu..." Ucap Raka sambil menerima pelukan istrinya dengan suka cita.
"Aku tak perlu hadiah apa-apa darimu,ini adalah ulang tahun terbaik sepanjang hidupku." Sarah memeluk leher Raka sambil meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
Raka tiba-tiba merogoh sakunya, mengambil handphonenya dan memanggil nomor, Rian, asisten magang, pengganti Dea.
__ADS_1
"Ya, pak..." Terdengar suara Rian yang gemetar.
"Rian, tolong jaga pintu, saya tidak menerima tamu selama dua jam ke depan." Kata Raka dengan suara tegas.
"I..iya pak..." Rian, si asisten memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, bosnya ini benar-benar aneh, sepanjang pagi menjelang siang, selalu mengatakan jika ada orang yang mencarinya hari ini dia tidak ingin di ganggu dan mengurung diri di dalam ruangannya seolah sedang menunggu sesuatu sambil berpesan kalau dia sedang ada tamu meskipun dia tahu bosnya itu tidak sedang bertemu siapa-siapa.
Sekarang, dia yakin sedang ada pertengkaran hebat antara bosnya itu dengan istrinya yang cantik tapi galak, mengingat mata perempuan yang mengaku istrinya tadi sebesar kelereng melotot padanya.
"Oh, iya...semua janji untuk hari ini di tunda sampai besok, saya ada sedikit kesibukan." Raka berucap lagi sambil mencium pipi Sarah.
"Dan...tolong, reservasikan lunch untuk dua orang di Magnolia restorant untuk dua jam lagi."
"Iya, pak." Rian menjawab lega, setidaknya setelah bertengkar mereka masih ingat makan, pikir Rian.
"Sayang, kenapa harus dua jam lagi?" Sarah bergelayut manja di leher Raka.
"Karena dalam satu jam ini mungkin kita berdua akan sedikit sibuk di sini." Tangan Raka dengan nakal menjalar di balik stelan Sarah sambil mengedipkan matanya.
"Hah...di sini?" Sarah melotot pada Raka, sambil mengedarkan ruang kantor sang suami.
"Memangnya kenapa?" Raka balik bertanya dengan genit.
"Dalam ruang kantor di siang bolong begini?" Sarah menatap Raka dengan takjub.
"Sttt...tadi malam baby undur-undur membuat si kukuk pingsan, siang ini si kukuk mau balas dendam." Raka berbisik serak, bibirnya menempel tak sabar pada bibir sang istri yang terbuka menggoda itu.
(Triple UP kemalaman, author ketiduranš¤£)
...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø......
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikanš...