Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 176 DUA SETERU CINTA


__ADS_3

Sally mundur beberapa langkah, sekarang dia baru mengenali perempuan di depannya itu dengan baik, mengapa dia merasa mengenalnya dalam skali tatap, tapi dia ragu jika dia salah, karena Diah yang dia tahu adalah perempuan jelek yang tak terurus, sementara yang kini terpampang di depannya, Diah yang berbeda, begitu terawat dan berkelas.


Sarah berpaling kepada Diah, menatapnya sesaat, lalu berkata pada perempuan yang sejenak terlihat membeku bersitatap dengan Sally,


"Diah, mungkin kamu telah mengenalnya jauh sebelum aku harus mperkenalkan adikku ini padamu." Kalimat itu terdengar begitu dalam.


"Dia adalah Sally, mungkin kamu cukup mengenalnya sebagai puteri salah satu komisaris di sini, atau sebagai apapun yang mungkin membuatmu menjadi kenal padanya." Sarah melirik pada Sally yang masih dengan raut terpana itu.


"Karena dia tak punya tempat, maka aku memberikan ruanganku ini padanya. Tolong perintahkan beberapa orang OB untuk memindahkan dokumen-dokumen penting dan barang-barang pribadiku ke ruangan pak Raka." Sarah memberi instruksi dalam kalimat panjang dan jelas.


"Mulai hari ini aku akan tinggal di ruangan yang sama dengan suamiku. Setidaknya dengan begitu, tak ada hal yang perlu ku cemaskan jika ada ular yang berusaha menyusup meski hanya untuk berusaha menjilat." Sarah sesaat melihat kepada Diah yang berdiri terpaku dengan wajah yang begitu tenang.


"Oh...ular tak pernah menjilat, Diah...ular itu berbisa, dia akan mematuk tanpa peringatan. Karena itulah aku senang jika bisa satu ruangan dengan suamiku." Sarah tertawa kecil, seolah dia sedang mengucapkan joke, sementara kiasan berupa sindiran itu segera membuat wajah Sally merona kembali.


Sarah benar-benar suka menarik dan menghempaskan perasaannya.


"Baik, bu. Jangan kuatir, akan saya pastikan semua barang pribadi ibu akan berada di ruang bapak, hari ini." Diah menganggukkan kepalanya dengan patuh, seulas senyum tipis tersurat di bibirnya yang terpoles lipstik nude matte itu.


Sarah menepuk bahu Diah dengan lembut, mata itu berkilau hangat, seperti memberikan satu kekuatan pada Diah untuk tetap berdiri di sana, entah dengan maksud apa.


"Ingatlah, apa yang selalu kukatakan padamu, kendalikan dirimu saat berhadapan dengan sesuatu yang tak penting dan tentu saja...buanglah sampah pada tempatnya." Kata-kata itu di tujukan kepada Diah tapi terdengar menusuk sampai ke otak Sally.


Dengan langkah panjang tanpa basa-basi lagi, Sarah keluar dari ruangan itu, tak sedikitpun menoleh lagi. Dagunya terangkat dengan pandangan lurus, senyumnya yang aneh dan misterius itu seolah tertinggal dalam ruangan itu.

__ADS_1


Sarah meninggalkan Diah dengan sengaja, bersama dengan Sally yang masih menatap pada Diah dalam keterkejutan yang tak dapat di sembunyikannya. Dia benar-benar terkejut mendapati istri dari selingkuhannya itu kini berada di depan hidungnya.


Ada waktunya, seseorang harus di beri kesempatan untuk bertemu dengan akar deritanya, supaya dia bisa menghadapinya sendiri, apakah mencabutnya dengan cara yang kejam ataukah menuangkan racun padanya perlahan-lahan, atau bahkan membiarkannya begitu saja seperti rumput liar, hidup dan tumbuh menggerogoti menunggu karma datang sendiri, setiap orang punya pilihan atas cara untuk mengakhiri kesengsaraannya sendiri.


Sally sangat tahu, siapa Diah, istri sah dari Bram, laki-laki yang menjadi selingkuhannya bertahun-tahun itu.


Bram sangat lancar mendeskripsikan kelemahan, kekurangan dan kebodohan istrinya itu sebagai alasannya untuk menyelingkuhi istrinya itu.


Dan yang terpenting untuk Sally, Bram selalu mengatakan dia menikah dengan Diah karena pelariannya dari patah hati, di tinggalkan Sally bertunangan dengan Raka.


Sebagai perempuan yang egois dan cenderung tak tahu diri, Sally merasa tak bersalah karenanya, baginya Bram adalah kekasih pemuas nafsunya, dimana mereka berdua adalah pasangan yang kecewa atas hubungan mereka dan kembali merenda masa lalu dalam rangkaian nafsu.


Bram mengatasnamakan rasa cinta pada Sally sementara Sally menghalalkan dirinya dalam gelimang dosa itu karena bersembunyi di balik rasa kesepiannya.


Dan Diah, seolah bukan korban yang layak untuk di pertimbangkan perasaannya dalam kubangan penderitaannya.


Sekarang hanya mereka berdua dalam ruangan itu, dua orang seteru cinta.


Tapi Sally jelas tak bisa menyembunyikan jengah dan salah tingkahnya. Dia hendak segera pergi ketika dengan suara berat Diah berkata,


"Saya tahu, seperti apa hubunganmu dengan suamiku..."


__ADS_1


Kalimat itu tak urung membuat Sally gemetar, dia tak menyangka saat dia bertemu langsung dengan istri Bram itu, dia merasa gentar. Selama ini yang di fikirkannya, istri Bram itu bukan apa-apa dalam segala hal jika di banding dengan dirinya, jadi dia tak merasa takut dan bersalah atas kelakuan jahatnya sendiri.


"Itu...itu bukan salahku...tapi salahmu yang tak bisa menjaga suamimu dengan benar." Sally menyeringai, sebagai pelakor bahkan dia tak sadar bahwa untuk memandang istri orang yang telah di sakitinya bertahun-tahun itu sesungguhnya dia tak pantas mengangkat wajahnya.


Mamanya pernah berkata "Jangan merasa bersalah merebut sesuatu yang kamu sukai, karena jika dia berpindah menjadi milikmu, berarti pemiliknya tak mampu menjaganya dengan baik. Itu adalah takdirmu."


Dan Sally, merasa percaya diri, takdir Bram untuk menjadi tempatnya membuang kejenuhannya, bukankah Bram sendiri yang salah, terlalu gila menyukainya?


"Benarkah?" Diah menaikkan alisnya, menatap tanpa emosi kepada Sally.


"Suami yang lari kepada perempuan lain itu karena istrinya tidak becus mengurus suaminya!" Sally membalas tatapan Diah, dengan penuh intimidasi.


"Suami yang hanya tertarik pada sel@ngk@ng@n perempuan murahan, juga tidak layak di sebut becus. Menjaga marwah rumah tangganya saja dia tak mampu, apakah itu pantas di sebut suami?" Pertanyaan Diah itu begitu menohok, membuat darah Sally seketika naik sampai ke ubun-ubunnya.


(Seorang ibu adalah hal pertama yang dilihat dan di tiru oleh seorang anak, karena itulah seorang ibu wajib mendidik anaknya tidak hanya dengan perkataan tetapi lewat cerminan sikap dan tingkah laku...😉Kadang-kadang bersikap lunak dan memanjakan boleh, tapi berlebihan jangan, karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Menjadi keras tak apa sekali-kali tapi jangan menyakiti🙏


Di dalam mendidik anak, ayah dan ibu harus satu suara, ketika kedua orangtua bertentangan, seorang anak bisa salah asuh.


Menjadi apa seorang anak adalah tergantung dari didikan, karena setiap didikan itu di simpan dalam memorry anak sampai seumur hidupnya🙏 )



(Yukkk, selanjutnya kita akan melihat bagaimana cara Diah berhadapan dengan perempuan yang telah merebut kebahagiaan rumah tangganya itu...apakah dia bisa menahan diri di depan seorang pelakor sekelas Sally🤣 akak double UP lagi hari ini, pantengin terus yaaa🙏😅)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......


__ADS_2