Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 76 NGIDAM CENDOL


__ADS_3

Hampir tiga minggu sudah Raka dan Sarah tinggal di rumah orang tua Raka. Keseharian mereka terasa begitu tenang dan penuh kebahagiaan, menikmati masa hamil muda bersama orang-orang yang mencintainya


Sarah merasakan limpahan perhatian dan kasih sayang yang tak pernah di terimanya selama ini.


Seumur hidup tak pernah dia dimanja sebegitu rupa oleh semua orang. Rasanya begitu aneh tapi menyenangkan.


"Sayang, aku mau es cendol?" Tiba-tiba Sarah sudah duduk di depan suaminya yang sedang sibuk menghadap beberapa dokumen di meja kerjanya pada ruang kerja Raka di sebelah ruangan kamar mereka. Ruangan itu terhubung dengan sebuah connecting door dengan ruangan kamar pribadi Raka.


"Cendol?" Raka mengernyit dahinya, melepaskan bollpoint yang sedang di pegangnya dan menutup layar laptopnya, supaya bisa langsung melihat wajah manja istrinya itu.


"Iya..."


"Cendol itu apa?"


"What?" Sarah mengerjap matanya lalu melotot kepada Raka.


"Kamu tidak tahu apa itu cendol, sayang?" Sarah tak percaya, suaminya ini tidak tahu cendol.


Raka menggeleng kepalanya dengan serius.


"Cendol itu buah?"


"Memangnya di SD kamu pernah dengar guru memperkenalkan cendol sebagai buah?"


Raka menaikkan alisnya lalu menggeleng lagi.


"Berarti itu bukan buah! Cendol itu minuman, sayang." Sarah menepuk dahinya sendiri.


"Di Kantin sekolahku dulu, ibu kantinnya juga jual es cendol, lho. Es cendolnya enak."Sarah menceritakan dengan bersemangat.


"Tapi di kantin sekolahku tidak ada yang jual es cendol."Sahut Raka membela diri.


"Itu buka google dulu, searching es cendol itu gimana bentuknya. Masa sih cendol saja tidak tahu." Sarah merengut di seberang meja.


"Kok mendadak mau yang aneh-aneh?" Raka menatap Sarah bingung.


Sarah meminggirkan semua dokumen dan laptop milik Raka ke pinggir meja, lalu dia berdiri dan mencondongkan wajahnya ke arah wajah Raka, sementara kedua sikunya menekuk di atas meja dan dagunya bertopang di atas kedua telapak tangannya.


"Sayang..." Sarah menatap Raka dengan raut yang memelas.


"Aku sepertinya ngidam..." Bisiknya, sambil mengedipkan mata.


Raka sekarang yang bergantian melotot.


"Ngidam?"


"Iya..."

__ADS_1


Mendengar jawaban itu, Raka tampak begitu bersemangat sekaligus gugup. Dia pernah mendengar kalau perempuan di awal-awal kehamilannya sering minta yang macam-macam.


Dan mitosnya, menurut cerita pegawai di kantornya kemarin kalau istri lagi ngidam, keinginannya harus di penuhi jika sang suami tidak memenuhinya, si jabang bayi bisa ngambek dan saat lahir akan selalu meneteskan liur.


"Itu pak, tetangga saya di sebelah rumah, istrinya mau makan kedondong tapi kedondongnya harus langsung di ambil dari pohonnya. Parahnya lagi, kedondongnya harus dicuri dari pekarangan rumah pak RT. Gara-gara suaminya tidak sanggup mengabulkannya, anaknya sampai sekarang umurnya dua tahun masih ngeces." Nining salah satu pegawai di kantor Raka menceritakan sebuah pengalaman ngidam waktu Bosnya itu mengumumkan kehamilan istrinya dengan bahagia, sembari membagi angpao kepada semua pegawai saking senangnya.


"Hah...ngeces itu apa?"


"Itu pak, yang bayinya selalu meneteskan liur." Bu Daniah yang baru datang membawakan kopi pesanan Raka menimpali.


Raka tentu saja tercengang mendengarnya, dia tidak bisa membayangkan jika anaknya nanti akan meneteskan liur sepanjang hari. Tapi, memikirkan sang istri minta dia mencuri buah dari rumah pak RT tentu saja membuatnya langsung sakit kepala.


"Ah, saya sih simpel pak..." Pak Bino, salah satu OB tiba-tiba menyela dengan santai.


"Istri saya waktu ngidam, minta air kelapa yang harus di petik dari belakang rumah mertua. Yang ngidam itu memang aneh-aneh, pak. Kalau cuma sekedar air kelapa, banyak di jual di pinggir-pinggir jalan. Ini masalahnya adalah istri saya ngotot mau kelapanya harus saya ambil sendiri. Saya kan ngeri juga, pak di suruh manjat pohon kelapa setinggi itu. Ya sudah, pohon kelapanya yang saya tebang." Pak Bino terkekeh menceritakan pengalamannya.


Raka tentu saja melongo mendengar pengalaman-pengalaman istri ngidam itu, yang menurutnya sangat menakutkan.


Segera Raka mengambil handphonenya dan searching es cendol di google, dia penasaran bentuknya.


"Ini...?" Raka menunjuk sebuah gambar di layar ponselnya.


"Iya...itu..." Sarah manggut-manggut melihat ke layar HP Raka. Dia masih menopang dagunya di depan suaminya.


"Oh..." Raka terlihat lega, setidaknya dia tidak perlu manjat pohon buah di rumah tetangga.


"Ya, di tempat jual cendol dong, sayang "


Raka berfikir sejenak, lalu tersenyum sedikit licik, dia teringat pada Dea. Nanti dia akan membawa asistennya itu untuk mencarikan si es cendol ini.


"Tidak harus di curi kan?" Raka menaikkan alis ya.


"Kok di curi sih?" Sarah cemberut, bingung dengan pertanyaan Raka.


Raka nyengir tak menjawab, tapi bibirnya mendarat di bibir Sarah yang cemberut.


"Oke, sayang...aku akan berangkat berburu es cendol untuk istriku yang lagi ngidam." Raka mengacak rambut sang istri dengan sayang, lalu berdiri siap beranjak.


"Sayang...!"Sarah menarik lengan Raka dengan sigap.


"Kenapa lagi? ada yang lain? es apa lagi?"


"Bukan itu..."


"Apa?"


"Aku ikut."

__ADS_1


"Eh, kok ikut?"


"Aku mau es cendolnya di takar sendiri sama suami..."


"Astaga...!"


Raka menepuk jidatnya, ngidam ini lebih menakutkan dari ujian semesteran. Dia tidak menyangka istrinya ini ngidam luar biasa aneh, minta cendol yang di takar oleh suaminya sendiri. Tadi, dia sudah berencana menyuruh Dea yang mencarikan untuknya dan dia tahu beres saja, yang penting dia yang membawakan untuk istrinya.


Raka pusing sendiri, es cendol saja dia belum pernah makan apa lagi urusan cara menakarnya.


"Sayang, harus segitunya, ya?" wajah Raka memelas.


"Aku rasanya mau begitu. Membayangkan kamu membuatkan segelas cendol untukku, aku sudah merasa bahagia apa lagi kalau meminumnya nanti." Sarah tersenyum manis seperti anak kecil yang merayu ayahnya, meminta di belikan es cream.


Raka menarik nafas pasrah,


"Kenapa kamu tidak ngidam yang lain sih?" Raka mendesah.


Sarah bergelayut di lengan Raka dengan senyum yang masih menghias bibirnya.


"Masih untung aku cuma minta es cendol, temanku kemarin ngidam malah minta mangga muda yang pohonnya di depan kuburan, mintanya tengah malam lagi." Sarah berceloteh.


Kepala Raka langsung bertambah pusing mendengarnya,


"Ngidam kok sampai se ekstrim itu, sayang? Kamu tidak lagi ngerjain aku, kan?" Raka menoleh kepada Sarah dengan tatapan menghiba.


"Aku cuma mau es cendol." Sarah menjawab sambil merengut.


"Ya, sudahlah. Ayo kita keluar untuk mencarikan es cendol untukmu." Raka menyerah, melihat mata yang berbinar penuh harap itu. Raka memeluk bahu istrinya itu sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya.


"Aku ganti baju dulu, ya..." Sarah begitu girangnya, begitu bersemangat sekali.


"Sayang, cari cendol tidak usah rapi-rapi amat." Raka protes, dilihatnya pakaian Sarah sudah cukup pantas dan cantik jika hanya jalan-jalan mencari es cendol.


"Kita cari es cendolnya di mall, sayang."


"Hah, di mall ada es cendol?"


"Siapa tahu ada..." Sarah menjawab dari balik pintu lemarinya.


Oh, my God!


Raka menggigit bibirnya. Ngidam memang ajaib, dan orang yang ngidamnya lebih ajaib lagi.


(Ayok komen deh emak-emak yang sudah pernah ngidam, apakah pernah mau sesuatu yang kepengen sekali pas hamil, sampai nangis kalau tidak di wujudkan🤭😅 Yuk jangan lupa VOTE ya untuk part-part baru yang lebih seru lagi, mumpung hari senin 😆)


__ADS_1


__ADS_2