
Lalu dengan kasar, Wijaya menghempaskan tangan Mytha.
Mytha itu terkesiap dengan mulut terbuka lebar, sungguh tak percaya dengan perlakuan mantan suaminya itu.
Mereka bercerai tak lebih dari sepekan tetapi dia tak menyangka laki-laki yang selalu banyak diam dan menuruti semua kehendaknya sepanjang pernikahan mereka itu, berlaku begitu berani padanya.
"Kamu...kamu..." geraham Mytha bergemerutuk, matanya memerah karena amarah.
"Demi membela anak haram ini, kamu berani menyebutku j@lang?" Bibirnya yang tipis dengan sedikit kerutan di pinggirnya itu bergetar. Matanya sekarang beralih pada Sarah yang berdiri seperti patung tak mengeluarkan sepatah katapun, tapi matanya menatap lurus pada Mytha seolah dia menunjukkan bahwa dirinya tak terintimidasi sedikitpun pada sikap kasar perempuan di depannya itu.
"Kamu bahkan lebih tahu sendiri, bagaimana menilai dirimu, karena orang yang melakukan pegkhianatan di belakang pernikahannya tentu saja tak pantas di sebut perempuan baik-baik." Wijaya menyahut dengan nada yang setengah menggeram.
Mata Mytha terbelalak mendengar kalimat yang begitu gamblang di ucapkan oleh Wijaya.
Dia tidak pernah merasa begitu di hakimi oleh orang yang pernah menjadi pasangannya itu seperti sekarang ini.
"Jangan kurang ajar! Jaga mulutmu Wijaya!" Sahut Mytha tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikitpun.
"Saat kamu tak bisa menjaga mulutmu sendiri jangan meminta orang lain untuk melakukan hal yang sama. Selama ini, kamu terlalu leluasa untuk bersikap otoriter dan sesukamu. Sekarang, buka matamu lebar-lebar, aku bukan lagi orang yang berada di dalam kekuasaanmu."
"Dasar suami bodoh!" Sumpah serapah keluar dari mulut Mytha, tangannya mengepal karena amarah, karena meski dia berada tepant di depan Wijaya tetapi tak bisa berbuat banyak menelan semua perkataan sinis laki-laki itu.
"Aku bukan suamimu lagi."
Mytha benar-benar seperti banteng terluka demi mendengar hardikan yang keluar dari mulut Wijaya.
__ADS_1
"Maaf..." Tiba-tiba suara Sarah yang begitu tenang, menyela.
"Anda menahan saya dan papa untuk membicarakan apa tepatnya? Jika tidak ada hal lain selain bertengkar, maka tidak perlu membuang waktu kami." Ucapnya terdengar formal dan hampir tanpa ekspresi, lebih tepatnya ingin melerai pertengkaran dua orang di depannya itu.
"Tutup mulutmu Sarah, jangan lancang, anak tahu di untung. Kepalamu semakin besar saja sekarang." Tukas Mytha dengan kekesalan yang membeludak.
"Sekarang, aku minta padamu Wijaya, alihkan saham dari Sarah itu kepadaku atau kepada anakmu sendiri Sally. Jangan membuat lelucon seperti ini. Dalam perjanjian cerai tidak ada mencantumkan nama Sarah sebagai penerima waris."
"Dalam draft itu bukankah saham perusahaan ini menjadi milik kita fifty-fifty? 30 persen yang aku punya terserah padaku hendak ku apakan, bukan lagi urusanmu. Jadi apapun kebijakanku, tidak lagi ada hubungannya denganmu.
Dan ingat lagi satu hal, aku menyerahkan saham ini kepada Sarah setelah kita bercerai, jadi jangan ungkit perjanjian cerai itu."
"Sarah tidak berhak menerima apapun darimu!"
"Sarah adalah darah daging Winarta adik kandungku, dia berhak menerima apapun dariku."
"Aku juga tidak lupa Mytha, bahwa kamu juga menjebak ayahnya untuk memuaskan nafsu setanmu!"
Mytha terjajar selangkah ke belakang dengan wajah merah padam, dia seperti baru saja di tampar oleh Wijaya. Matanya yang merah itu seolah hendak melompat dari rongganya.
"Winarta sampai akhir hidupnya menderita karena ulahmu, bahkan anaknya pun menanggung derita karena kegilaanmu. Aku tak akan menutup mataku lagi dengan semua yang kamu lakukan. Semua keputusanku tidak lagi di bawah intervensimu! Jadi, berhentilah berusaha mengancamku."
Sarah hanya bisa memandang wajah papanya itu, tak pernah dia melihat laki-laki yang menurutnya paling penyabar di dunia ini, berucap dengan begitu tajam bahkan nyaris tak berperasaan.
"Dan untuk Sally, aku telah menyerahkan hampir semua harta yang ku miliki padanya, bukankah sebagai seorang ayah aku tidak lupa? Semua jerih payahku puluhan tahun hampir semuanya adalah miliknya. Jangan pernah kamu bandingkan apa yang telah ku berikan pada Sally dan apa yang bisa ku berikan pada Sarah." Pak Wijaya menatap Mytha, dia seolah begitu murka dengan mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Tapi saham ini? Kamu sangat tidak adil!"
"Sally menerima semua harta yang ku kumpulkan tanpa bersusah payah bekerja. Tapi Sarah, dia menerima saham itu, tak akan menjadi harta jika dia tidak memikirkannya dan bekerja! Sekarang, katakan aku tidak adil di mana?"
Mytha terdiam tapi tubuhnya gemetar tak bisa menerima semua yang di dengarnya.
Seseorang yang terbiasa menang dalam segala hal akan kesulitan saat harus menerima kekalahan.
"Papa...sebaiknya kita pergi." Sarah menyentuh bahu Wijaya, berusaha menenangkan papanya itu.
"Sarah, lebih baik kamu menyerahkan saham itu baik-baik kepadaku." Mytha melotot pada Sarah, berusaha mengancam anak yang sedaei dulu tak pernah berani menyanggahnya itu.
"Maaf, ma...aku sekarang hanya mendengarkan papa. Jawabannya adalah sama seperti papa." Sarah menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Terlihat kecut dan dipaksakan.
"Jika tak ada yang harus kita diskusikan lagi, alangkah baiknya tidak membuat semua orang menunggu di aula." Sarah hendak membalikkan badannya, mengikuti papanya yang telah berjalan ke arah pintu.
"Oh,iya...Setelah ini kita mungkin akan sering bertemu, semoga kita bisa semakin akrab. Dulu, aku begitu takut meskipun hanya menatap wajahmu, tapi sekarang...aku sangat ingin menikmati kebersamaan denganmu. Selamat datang di perusahaan keluarga kita." Suara Sarah tanpa tekanan tanpa emosi, seolah kalimat yang di ucapkanya itu bukan sarkas, sebelum kemudian benar-benar membalikkan badannya tanpa permisi dan berjalan pergi.
Mytha tercengang di tempatnya berdiri dengan kaki gemetar, Sarah benar-benar tak dikenalnya lagi, ataukah sebenarnya dia tak pernah sungguh-sungguh mengenal anak yang telah di sanderanya atas nama sakit hatinya pada masa lalu itu?
Mytha tak menyadari, setiap luka dan sakit hati yang telah di torehnya bisa mengubah seseorang selembut Sarahpun bisa menjadi lebih berani.
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...