Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 226 CINTA TERLARANG YANG TELAH PUDAR


__ADS_3

Dengan gemetar tangannya menekan lampu itu, ruang kamar itu menjadi terang benderang, dua orang yang dalam keadaan polos bersimbah keringat itu seperti di beri aba-aba menghentikan gerakannya,


"Bram?!" Suara Sally terdengar terkejut, bersamaan dengan buket bunga yang jatuh dari belakang punggungnya.


Laki-laki yang sedang berada di atas tubuh Sally segera melompat daei atas tempat tidur, menarik kain yang tergeletak di lantai dengan wajah merah padam antara terkejut, gugup dan mungkin mabuk.


Laki-laki muda itu, bertampang berondong, tubuh tidak sekekar Bram, wajahnya yang mulus rapi, model-model aktor korea.


Laki-laki itu setengah berlari dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi seperti maling yang kepergok sedang mencuri, sementara Sally menggeliat bangun duduk menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya, wajahnya sedikit terkejut tapi tidak se shock pias Bram.


"Kamu pulang?" Sally masih mengatur nafasnya yang turun naik namun tidak menunjukkan kepanikan sama sekali.


Bram yang tersadar dari keterkejutannya tak bisa menahan luapan emosi yang naik tiba-tiba seperti rollcoaster di kepalanya.


Rasa marah, panik, sedih, dan kecemburuan serta rasa lainnya seolah bersatu padu membuat Bram tak tahu harus mengucapkan apa kecuali sumpah serapah yang meluncur seperti kereta api dari mulutnya.


Wajah Bram merah membiru, urat-urat di sekujur tubuhnya seperti berlomba untuk muncul ke permukaan kulitnya, sampai-sampai tubuhnya gemetar.


Dengan langkah panjang dia menghampiri pintu kamar mandi menggedornya dan bersiap untuk mendobraknya.


Dari apa yang ditampakkan oleh Bram sepertinya dia sanggup untuk meremukkan laki-laki yang berada di dalam kamar mandi itu.


"Bram...! Hentikan..." Sally turun tempat tidur hanya terlilit kain selimut yang di kenakan seadanya, rambutnya berantakan, tubuhnya yang basah oleh keringat bekilat di bawah cahaya lampu.


Bram tak perduli dengan suara Sally, dia bersiap mendobrak pintu kamar mandi itu ketika Sally menarik tubuhnya dan berdiri tepat di depan Bram menghalangi Bram dari pintu kamar mandi itu.


"Hentikan!!!" Teriaknya dengan wajah nyalang.

__ADS_1


Bram mundur selangkah, dia tercengang menatap kepada Sally, tangannya yang terkepal terangkat mencengkeram kedua lengan Sally.


"Set@n! Apa yang kalian lakukan? Aku harus membunuh b@jingan itu! Aku harus membunuhnya!!!" Luapan emosi yang serupa badai itu tergambar dalam bentakan Bram yang setengah menggeram mirip serigala terluka.


Tangan Sally terentang dengan wajah tanpa dosa, hanya berkemben selimut tak jelas melekat.


"Hentikan, Bram! Ku bilang hentikan sekarang, aku yang menyuruhnya kemari!" Sally menyambut bentakan Bram dengan suara teriakan.


Bram terpana, cengkeramannya serasa membeku di lengan Sally, membuat perempuan ini meringis kesakitan meski kepalanya terdonggak melotot pada Bram.


"Siapa b@jingan itu!" Bram menunjuk ke arah pintu dengan telunjuk yang teracung, bibirnya gemetaran.


"Dia...dia pacar baruku. Tapi cuma sekedar pacar saja, aku cuma suka saja padanya. Berondong lucu."


Bram ternganga mendengar jawaban Sally yang tanpa dosa. Amarah yang mengamuk itu berkumpul di ubun-ubunnya! Tangannya yang terkepal itu teracung ke atas, betapa ingin dia menjatuhkan pukulan itu sampai bibir perempuan ini pecah biar dia tahu rasa sakit yang menghantam dadanya mendengar jawaban Sally.


Harga dirinya sebagai laki-laki terasa melesak sampai ke dasar tanah.


"Apakah kamu sudah gila?!" Raungnya.


"Aku hanya berselingkuh dengan Agil, apa yang salah?"


"Apa kamu benar-benar sudah tak punya otak Sally?" Bram melolong, matanya terasa perih.


Tak pernah dia melihat sebagai laki-laki, seorang kekasih menjadi tameng membela pacar gelapnya.


Rasa malu itu muncul berbarengan dengan pitamnya yang nyaris meledak, perasaan terhina dan direndahkan itu membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


"Aku tak pernah menyuruhmu menceraikan istrimu! aku tak melarangmu pulang atau bercinta dengan istrimu, lalu apa bedanya jika aku melakukan hal yang sama dengan laki-laki yang lain. Kita hanya terikat pada hubungan saling sayang, bukan berarti lalu harus bersikap posesif berlebihan satu sama lain." Sally berkata dengan mata nyalang.


"Sally, apakah kamu tahu perasaanku? apakah kamu tahu apa yang telah kamu lakukan begitu buruknya! Kamu...kamu membuat dirimu seperti pelacur..."


PLAKKK!


Telapak tangan Sally melayang ke wajah Bram.


"Kamulah pelacur itu! Aku telah membayarmu berbulan-bulan ini, membiayai hidupmu. Tapi apa yang kamu berikan padaku, kehangatan ranjangpun akhir-akhir ini tak setimpal dengan uang yang ku keluarkan padamu." Sally mendelik tak kalah marahhnya pada Bram.


Harga dirinya benar-benar hancur luluh tak berbentuk demi mendengar kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir kekasih yang sangat di cintainya itu.


"Kamu...kamu..." Bram menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya perih seperih hatinya menerima perlakuan Sally yang di luar perkiraannya itu.


"Apakah kamu tahu rasanya, ditinggalkan sendiri dalam ketakutan saat aku kehilangan anakku karena kamu memilih pulang pada istrimu? Apakah...apakah kamu tahu rasanya, setelah kamu memilih meninggalkan pernikahanmu demi orang yang kamu kira cinta itu, menelantarkanmu di negara asing? Apakah kamu tahu rasanya, kehilangan pegangan dan menjadi gila? Saat kamu berharap bisa pulang kepada orang yang kamu tinggalkan, dia sudah menjadi suami saudarimu sendiri? Apakah kamu tahu rasanya???" Sally meraung dengan air mata yang mengalir deras, piasnya yang manis itu terlihat jahat dan bengis.


"Kamu kira kamu bisa kembali begitu saja padaku? Kamu kira bisa hidup dengan tenang selama aku masih hidup? Aku memintamu kembali adalah untuk menghancurkan hidupmu, Bram!" Suara Sally terdengar ketus.


"Aku memuaskan n@fsumu dengan tubuhku supaya kamu tahu, aku adalah satu-satunya yang kamu ingat sampai akhirat! Aku bersedia melakukan apapun untuk menebus 5 malamku di singapura saat kau telantarkan di sebuah rumah sakit seperti orang gila. Aku sudah tak memiliki rasa apapun padamu, Bram...sejak kamu meninggalkanku begitu saja. Cinta itu telah pudar, saat aku di kurung dalam sebuah ruang isolasi karena dituduhkan depresi. Aku hanya punya wajah Raka yang selalu menyayangiku dari dulu sebagai temanku melewati ketakutanku! Aku tak lagi punya perasaan apapun padamu sejak hari itu, kecuali dendam untuk membuatmu merasakan hal yang sama, merasakan kehilangan yang sama seperti aku, kesepian yang sama!" Kalimat demi kalimat itu seperti ucapan sedih dan marah yang berpadu, terdengar dingin tetapi sarat dengan kesakitan.


Mata Sally begitu nanar dan nyalang, yang ada di sana hanyalah luapan dendam dari ingatan masa lalu yang bercampur aduk seperti pita kusut di kepalanya.



(Cinta dan benci itu hanya setipis helaian rambut, sayang menjadi dendam bisa saja berubah dalam semalam. Setiap kesakitan bisa merubah orang menjadi kejam jika dia tak punya sedikit tempat untuk Tuhan berdiam di hatinya...☺️


Akak usahakan UP lanjutannya malam ini, mengejar deadline tamat🤣🤣)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....


__ADS_2