Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART. TAKARAN KEBAIKAN


__ADS_3

Diah dan Doddy berpandangan, ini adalah hari pertama kepulangan mereka ke tanah air dari ibadah umroh.


Karena resepsi di laksanakan di Surabaya, maka Doddy dan Diah memilih untuk langsung ke Surabaya.


Diah yang masih tinggal di apartemen Sarah, hari ini akan ada janji temu dengan Sarah, bosnya. Tentu saja karena dia di berikan tempat tinggal dengan baik oleh Sarah selama ini, Diah akan pamit dengan baik-baik pada Sarah.


"Selamat, ya...sudah menjadi suami istri." Sarah memeluk Diah setibanya di kantor dan di sambut oleh Diah.



"Terimakasih, bu." Diah tersenyum malu-malu.


"Tidak perlu masuk kerja dulu kalau masih capek, bukankah kalian baru tiba kemarin dari umroh?"


"Akh, tidak apa-apa, bu. Saya cukup istirahat dari kemarin dan sudah dua minggu lebih meninggalkan pekerjaan, rasanya tidak enak." Diah tersipu.


"Diah, aku senang akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu. Sungguh..." Sarah menepuk bahu Diah, senyumnya merekah tak henti. Dia begitu terlihat bahagia, secerah wajah Diah.


"Terimakasih, bu."


"Biarlah segala yang berlalu menjadi milik masa lalu, masa depanmu jauh lebih berharga dari apa yang telah lewat. Biarkan masa lalu di tempatnya, di belakang. Biarkan di sana, jangan dikenang lagi. Segala apa pun yang terjadi dulu, maafkanlah. Lupakan semuanya saat kamu memulai hidup baru bersama orang yang mencintaimu dengan tulus." Sarah memegang jemari Diah.


Tak lama Raka muncul di pintu bersama Doddy, mereka berdua sudah begitu akrab satu sama lain sejak kerja sama di masa lalu mereka sekarang sudah seperti saudara.



"Aku sudah tahu, dari caramu memandang Diah pertama kali, kamu menyimpan perasaan padanya. Sejak itu aku tahu kalian berdua padti berjodoh." Raka mengalungkan lengannya di bahu Doddy sambil tertawa senang.


"Akh...kamu bisa saja."


Doddy hanya nyengir sambil tersipu, Raka memang suka sekali menggodanya.


__ADS_1


"Aku yakin, kamu datang kemari ingin mengajukan resign untuk Diah. Mustahil istri seorang CEO masih jadi asisten di perusahaan lain." Ucap Raka tanpa tedeng aling-aling, gayanya santai sambil mempersilahkan Doddy duduk di samping Diah yang telah lebih dulu duduk di sofa, dia sendiri mengambil tempat di sebelah sang istri.


"Ya, sebenarnya...kalau Sarah tidak keberatan." Doddy berucap sambil menoleh pada Diah yang tampak begitu sungkan.


"Dan yang pasti, aku mau pamit membawa Diah untuk tinggal bersamaku." Lanjut Doddy lagi


"Kenapa aku harus keberatan?" Sarah menaikkan alisnya.


"Tentu saja Diah berhak mengambil keputusan sendiri, saat dia belum menikah dan sudah menikah tentu saja situasinya berbeda. Seorang suami juga berhak meminta istrinya fokus pada rumah tangganya, karena Doddy juga lebih dari cukup dalam kemampuan untuk mempertanggungjawabkan keluarganya. Dan tentu saja semua kembali kepada keputusan Diah sendiri. Soal Diah pindah dari apartemen, tentu saja istri harus tinggal dengan suaminya, itu sudah kewajiban istri." Jawab Sarah sambil tersenyum pada Diah.


Diah dan Doddy sudah begitu dekat dengannya dan Raka, jadi kadang-kadang Sarah menjadi teman berbagi Diah dan Raka adalah penasihat yang baik dalam hal memberi masukan saat Doddy butuh teman berbicara, terlebih urusan hubungannya dengan Diah.


"Tapi, bu Sarah telah sangat banyak membantu saya. Dengan bekerja untuk ibu Sarah, saya mungkin bisa membalas kebaikan bu Sarah, meskipun saya tahu, hal itu tak akan cukup." Diah menundukkan wajahnya, dia tak pernah bisa melepaskan caranya menghormati Sarah, sebagai seseorang yang berjasa besar untuk membantunya keluar dari keterpurukannya.



"Aku tak meminta balas apapun, Diah. Sebagai teman, kamu bahagia tentu saja itu lebih cukup bagiku. Tuhan lebih kuasa dalam hal membalas, jika karena itu kamu merasa berbeban melepaskan pekerjaan ini. Kamu sekarang adalah seorang istri, tentu saja kamu harus lebih banyak mendengarkan suamimu." Sarah melirik pada Raka yang tampak begitu bangga pada sang istri, menatap Sarah dengan penuh cinta.


"Terimakasih, Bu Sarah...saya tahu, saya akan selamanya berhutang budi padamu."


"Suamiku yang baik ini selalu mengingatkanku supaya


Jangan menjadikan diri kita hakim atas kesalahan orang lain, supaya kita juga tidak akan dihakimi dengan cara yang sama. Dengan memaafkan maka Tuhan akan mengampuni kita. Berilah pertolongan kepada orang lain, maka Tuhan pun akan menolong kita. Bahkan Tuhan akan menambahkan lebih daripada yang kamu perlukan saat Dia membalas kebaikan kita. Ketika Tuhan memberkati kita, Dia akan memakai ukuran yang lebih besar, dan membuat takaran itu penuh dan padat sekali, sampai ada yang tumpah di sekitarnya. Karena ukuran yang kita pakai untuk memberi kepada orang lain akan dipakai Tuhan waktu Dia membalas kebaikan kita itu. Karena itu jangan kuatir, soal balas budi dan lain sebagainya, Diah. Fokuslah pada rumah tanggamu dan kebahagiaanmu."


"That's right, mommy..." Raka mengedipkan matanya pada Sarah, menunjukkan betapa bucinnya dia pada sang istri.


"Kalian harus fokus untuk membuat bayi yang banyak." Tambah Raka dengan jenaka.


"Bayi?" Mata Doddy melotot, mengangkat wajahnya, raut terkejutnya sangat lucu.


"Kamu tidak akan tahu rasanya, bangun dengan otakmu setengah di dunia maya setengah di dunia nyata untuk mengganti pampers bayimu tengah malam jika kamu tidak punya bayi." Raka tergelak.


"Dan aku tahu kalian pasti sudah membuat DP selama di tanah suci." Raka menepuk bahu Doddy menggoda, seperti suami yang sudah berpengalaman.

__ADS_1


"Sebenarnya...kami belum melakukan apa-apa" Doddy menyahut dengan wajah merah, meski tak bisa mengalahkan rona wajah Diah yang malu mendengar sahutan suaminya itu.


"What? Astaga....! Kalian belum merasakan malam pertama?" Raka sekarang yang melotot.


Doddy dan Diah saling melirik, sebelum sama-sama menundukkan wajah mereka seperti di beri aba-aba.


"Waaaah, berarti kalian belum ketemu sorga dunia, dong?" Mulut ceriwis Raka itu membuat pasangan pengantin baru di depannya itu semakin tersipu.


"Hush, sayang...memangnya kamu habis menikah langsung malam pertama juga? Jangan menggoda mereka begitu, akh..." Sarah mencubit lengan suaminya itu dengan geli.


"Tapi, setidaknya bukan cuma aku yang pengantin baru, tidur di lantai sampai pagi saat malam pertama." Raka tergelak lagi.


"Pokoknya, malam ini kamu harus jebol gawang, Dod! Jangan lupa telur dua biji, madu sama merica. Nanti ku kirim tutorialnya kalau perlu." Raka terlihat serius sementara matanya berbinar riang di sela senyumnya yang lebar.


Doddy hanya nyengir, melirik pada Diah, yang di lirik hanya menundukkan wajahnya yang bersemu makin merah.


(Sepertinya ada yang tertantang untuk jebol gawang sebelum malam resepsi ya🤭🤭 ikuti yuuuk ceritanya Diah dan Doddy😅)



Oh, iyaaa...ijin menyampaikan undangan resepsi pernikahan Doddy dan Diah, ya🤗


Kata Doddy dan Diah, khusus buat para reader kesayangan, semuanya dapat undangan VIP, yaaa🙏😅 Silahkan bawa toples, plastik, rantang dan segala bentuk wadah kerajinan tangan para emak-emak untuk bungkus membungkus, karena di jamin makanannya melimpah🤣


Yang hadir, dua hari lagi, please absen di kolom komentar, biar pesan kursi banyak-banyak, kalau yang hadirnya banyak😅)


...***...


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


 


__ADS_2