Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 213 PERTENGKARAN TERAKHIR


__ADS_3

Dengan wajah semerah kepiting rebus, Diah menantang mata Bram.


"Dengarkan aku baik-baik tuan Bram...!" Mata Diah membulat sempurna dan berapi-api.



"Jangan menunjuk wajahku dengan telunjuk kotormu, melemparkan tuduhan yang tak kamu tahu kebenarannya! Aku mengatakan ini bukan karena aku berusaha membela diriku! Tapi perlu kamu ketahui sampai hari ini tidak ada seorangpun yang berani menyentuhku selain suamiku!" Diah meradang dengan suara tinggi.


"Lihatlah dirimu, Diah...bahkan kamu berani berteriak kepadaku! sekarang kamu benar-benar berubah, Diah! Kamu bukan Diah yang ku kenal lagi. Semakin jelas kamu juga bukan orang yang pantas menyebut tinggi harga dirimu." Jemari Bram terkepal di samping kiri kanan tubuhnya, begitu tegang. Ini adalah pertengkaran kedua mereka dalam tiga bulan ini setelah dia membuat dirinya menjatuhkan talak terhadap dirinya.


"Mas Bram, aku sekarang tiba-tiba merasa heran, sejak kapan mas Bram mengenal diriku bahkan bisa melabeliku dengan kata murahan." Diah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gemas


"Mas, dengarkan aku satu kali ini saja..." mata Diah yang semula dingin itu, tampak begitu sedih sesaat tetapi memanas dalam detik berikutnya,


"Tidak perlu berlebihan memberi harga pada barang murahan, karena Pelakor tetap hanya batu kerikil meskipun kau siram dengan air emas sekalipun. Dan istrimu yg mungkin di matamu hanya batu akik, bisa saja di mata lelaki lain dia adalah berlian." Nafas Diah memburu, terjeda dalam kalimat yang begitu dalam itu.


"Untuk ke depannya, andai aku tak lagi bisa mendampingi mas lagi, ingatlah satu hal lagi, saat mas ingin memilih istri bagi mas, pelakor hanyalah barang sisa, meskipun kamu telah memberinya tempat yang bagus. Perempuan yang berani mengambil milik orang lain itu mungkin tak hanya dirimu saja yang mencicipinya, si mahal yang kau anggap berharga itu karena begitu mudahnya memberi diri pada orang lain mungkin telah bergantian di gilir banyak orang. Perempuan seperti itu tidak layak menjadi ibu bagi anak-anak mas." Diah menarik nafasnya, tanpa memberi kesempatan Bram berbicara.


"Yang namanya pelakor, mereka siap berbaring bahkan tengkurap demi isi dompet laki-laki dan transferan-transferan ke kerekeningnya, meski mungkin di sini mas adalah peliharaannya. Tapi, tentu saja seleranya tetap sama mencari barang sisa dari wanita-wanita terhormat, mengais remahan dari wanita-wanita mulia yang hanya rela di sentuh satu orang laki-laki itupun harus dengan di lamar atas nama Allah." Mata Diah berpijar, tak pernah dia mencela pasangan selingkuh suaminya itu sedetail ini. Rasa jijiknya telah memuncak sampai ubun-ubunnya.


"Dan istrimu...tidakkah pernah kau fikirkan adalah barang ekskusif, yang hanya kamu menjamah dan menyentuhnya? Yang bahkan rela menjadi tidak terawat demi tidak membuat beban bagi isi dompetmu, demi merawat anak-anakmu?Seharusnya istrimu kau jaga, kau lindungi dengan sebaiknya karena mereka telah rela menjalani kesusahan dari awal bersama."


Sejurus Bram menatap kepada Diah seperti patung, otaknya bahkan tak mampu memberi perintah apapun untuknya bersikap.

__ADS_1


"Kenapa selama ini kamu tidak berusaha protektif dengan suamimu jika kamu merasa keberatan suamimu berpaling pada perempuan lain?" Bram menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


"Seharusnya mas malu mengatakan itu, karena bukanlah istri yang harus menjadi penjaga suami, merasa was-was dan ketakutan suaminya di goda dan di rampas oleh perempuan lain. Ketika aku gila-gilaan menjagamu, itu sama sekali tidak membuatmu naik level, gagah dan bertanggungjawab, tetapi lemah, tidak berpendirian dan rapuh.


Karena sesuatu yang harus di awasi, dia tidak di beri kepercayaan sama sekali. Karena itulah aku tak pernah menunjukkan rasa keberatanku atas semua yang kamu lakukan. Kita sama-sama dewasa, hanya anak play group yang harus di jaga dan di awasi kapan saja!" Diah mundur selangkah.


"Jangan sok menghakimiku!"


"Aku tak pernah menghakimimu, mas. Allah lah hakim atas hidup kita. Aku selama ini menyerahkan penuh urusan penghakiman kepada Allah. Jika saat ini aku berbicara seperti ini, aku hanya mengingatkan dirimu, karena beberapa hari ke depan aku bukan lagi orang yang akan bisa memperingatkanmu atas apapun." Diah tak berkedip dengan tangannya yang tetap mengepal meremas ponsel dan tas yang tersampir dari bahunya.


Diah meskipun dalam kemarahannya tak ingin menaikkan tangannya menunjuk wajah Bram, meski dia begitu ingin melakukannya.


"Suatu saat jika mas di berikan hidayah untuk bertemu pintu taubat, setidaknya hargailah istrimu meskipun kamu tak bisa menghormatinya dengan sungguh-sungguh. Ingatlah baik-baik, tidaklah sepadan menukar seseorang yang telah menemanimu melewati banyak hal dalam hidupmu dengan seseorang yang hanya hadir mencuri perhatianmu di sela-sela kejenuhanmu saja atau seseorang yang hanya menemanimu dalam masa senangmu saja."


"Sungguh tidaklah pantas jika mas mengatakan kata sayang dan cinta pada perempuan lain meskipun mas memujanya sampai jungkir balik, kata-kata yang mungkin entah serius atau tak sengaja pernah kau ucapkan pada istrimu. Kata-kata itu terlalu mulia kau sematkan kepada seorang pelakor tidak berharga yang bahkan tidak bisa memberi harga pada dirinya sendiri. Hanya karena dia bersedia membuka sel@ngk*ng@nnya dan memuaskan nafsumu, kau kira dia lebih baik dari istrimu? Betapa aku sekarang kasihan padamu. " Suara Diah terdengar serak.


"Sally lebih baik darimu, setidaknya dia tidak menceramahiku dengan kurang ajar seperti yang kamu lakukan sekarang..."


"Syukurlah jika begitu, senang mendengarnya tapi mas jangan pernah mencari kualitas seorang istri atau seorang ibu dari perempuan pelakor. Karena wanita yang tega menyakiti menghancurkan kehidupan oranglain, tidak pernah punya perasaan seorang istri atau seorang ibu! Jika kamu harus menikah lagi nanti, aku harap kamu menyadari perempuan seperti apa yang bisa di jadikan istri." Diah tersengal dalam nada serak yang di ucapkannya dengan lugas dan tegas.


"Dan mengenai diriku, kutegaskan sekali lagi, aku tak akan berubah fikiran untuk berpisah darimu, meskipun apapun yang kamu katakan di belakangku. Tekadku sudah bulat, mas! Tak akan ada yang merubahnya. Sudah cukup aku memberikan delapan tahun terakhir hidupku menderita karenamu!" Diah menarik gagang pintu bersiap untuk masuk ke dalam rumah.


Tapi Bram menarik lengannya dengan gusar,

__ADS_1


"Kamu masih terikat hubungan suami istri denganku!" Tudingnya dengan kesal.


"Masih? Ya, mungkin masih, tapi sebentar lagi, tidak lagi, mas. Jangan kuatir...aku juga benar-benar tak sabar melepaskan diri darimu dan mengakhiri masa idahku ini. Dengan begitu tak ada silang sengketa antara kita berdua. Kita berdua benar-benar terbebas dari pernikahan yang salah ini." Diah tersenyum seperti es yang beku.


Bram terdiam, matanya yang menatap tajam itu, begitu menusuk seolah-olah ingin menelan Diah mentah-mentah.


"Lepaskan tanganku, mas! Ku mohon, jangan pernah menyentuhku lagi mulai hari ini dan seterusnya. Karena jika kamu mencoba melakukannya sebelum masa idah ini berakhir aku akan angkat kaki dengan terpaksa dari rumah ini! Ijinkan aku menunggu talakmu berikut dengan tenang, ijinkan aku menjadi perempuan yang tak melanggar ketentuan Allah. Bila waktunya tiba, aku dan kamu bukan siapa-siapa lagi." Diah mengangkat dagunya, wajahnya dengan Bram hanya terpisah beberapa jengkal saja.


Perlahan Bram melepaskan cengkeramannya, mata itu sungguh berbeda, dia sudah kehilangan Diah dari tatapan kosong tanpa rasa yang nyalang mengarah kepadanya.


"Ku harap ini adalah pertengkaran terakhir kita!" Diah membuka pintu rumah dan masuk tanpa menutupnya di iringi tatapan nanar Bram.


Dia tahu sekarang, Diah tak akan kembali lagi padanya.



(Buat semua readerku sayang, mari kita sama-sama belajar dari kehidupan Diah dan Bram...bahwa cinta mungkin akan pudar oleh deraan pengkhianatan, jadi sekali-kali janganlah kita mengkhianati pasangan kita๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… Dan buat Para suami yang mungkin tak sengaja membaca novel ini, ingatlah satu hal, saat kamu mencampakkan istrimu demi seekor eh seorang Pelakor maka jangan pernah lagi membandingkan hidupmu yang dulu dan hidupmu yang akan datang....


Karena kepastian yang kau terima pasti KARMA dan PENYESALANโ˜บ๏ธ๐Ÿ™๐Ÿ™


I LOVE YOU MY READERS, Yuk yang belum VOTE, please Vote...๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… terimakasih buat cangkir-cangkir kopi dan bunga yang melayang hari ini, kalian the best๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka๐Ÿค—...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....


__ADS_2