Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 49 SEBUAH RAHASIA TENTANG RAKA


__ADS_3

Sarah dan Raka sama-sama terdiam. Wajah Raka nampak begitu masam di belakang stir. Mobil yang di bawanya melaju perlahan. Mereka berdua di lingkupi kecanggungan setelah Sarah mengatakan, Sally telah pulang.


"Mereka memintamu pulang untuk membicarakan apa? Sally pulang bukan lagi urusanmu." Suara Raka terdengar kesal.


Sarah terdiam, dia meminta pulang dengan tergesa dari rumah kakak iparnya karena hatinya sedang benar-benar galau.


"Sayang...jangan diam begitu." Raka benar-benar tak enak melihat raut wajah Sarah yang berubah tegang sejak tadi.


"Aku tidak tahu harus harus bagaimana." Suara Sarah terdengar sedikit getir.


Raka meraih jemari Sarah yang tampak bertaut dengan canggung di atas pahanya sendiri.


"Tidak usah terlalu di fikirkan, sayang. Memangnya kenapa kalau dia kembali, paling-paling minta di kawinkan dengan Bram." Raka terkekeh, tapi tawanya menjadi aneh di telinga Sarah.


"Aku tidak pernah berfikir akan secepat ini." Sarah mencuri pandang pada Raka.


"Cepat atau lambat, dia pasti pulang. Tapi kita sudah punya kehidupan sendiri. Kamu terlalu berlebihan menanggapinya"


Raka mengambil ponselnya dari atas dashboard dan menghubungi sebuah nomor. Dan panggilan itu di loadspeaker, karena Raka sedang sibuk menyetir.


"Hallo, Dea?"


"Ya, pak..."


"Kunci apartemenku masih denganmu?"


"Iya, pak. Masih denganku."


"Titipkan ke lobby, aku dengan nyonya ke apartemen sekarang."


"Nyonya yang mana?"


"Memangnya istriku berapa?"


Suara tawa Dea sedikit mencairkan suasana.


"Dengan bu Sarah ya...? asyek...akhirnya." Dea terdengar mengoceh setengah menggoda.

__ADS_1


"Dea! Sepertinya gajimu minta di potong nih!"


"Ya, elah Bos...setahun belum ada naik gaji, sudah main potong aja..."Dea tertawa di seberang sana.


"Kuncinya...!" Raka melirik kepada Sarah, yang sedikit tersenyum.


"Siap pak bos, kuncinya ku titipin di lobby, ini otewe." Si asisten Raka yang sigap itu terdengar begitu riang.


Raka menutup telpon, lalu fokus lagi kepada Sarah.


"Kita tidak pulang ke rumah mama?" Sarah bertanya bingung.


"Hari ini, aku mau kita berdua di apartemenku saja." Raka tersenyum kecil.


"Hari ini, sepertinya kita perlu berdua saja." Lanjut Raka.


Dia dan Sarah sama-sama menyimpan kebingungan dengan kepulangan Sally. Raka sebenarnya lebih merasa campur aduk perasaannya, dari rasa marah, benci, kesal yang tak bisa terkatakan hingga perasaan mati rasa yang aneh, tapi menenangkan perasaan Sarah sekarang menjadi begitu penting baginya.


Mereka baru saja memulai kehidupan rumah tangga seperti biduk yang baru berlayar dan sebuah riak mungkin sedang datang.


Tapi sungguh, Raka tak memiliki perasaan apapun lagi pada Sally yang telah begitu tega menghianatinya.


Dia dan Sarah belum dua minggu menikmati bagaimana rasanya menjadi suami istri yang sesungguhnya, tentu saja setelah penyerahan total gadis itu, banyak ketakutan yang mungkin singgah di hatinya.


Mobil Raka berbelok menuju apartemen yang sudah berbulan-bulan di tinggalkannya ke Leiden itu.


Meskipun mereka cukup lama menikah, Sarah belum pernah ke apartemen Raka.


Raka dan Sarah naik ke kamar Raka setelah mengambil kunci apartemen yang dititipkan Dea, asisten Raka di sana.


"Sayang..." Raka menutup pintu dan langsung memeluk Sarah seperti tak sabar.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Bisik Raka sambil memeluk Sarah dari belakang dengan erat.


Sarah memejam matanya yang terasa panas tiba-tiba, gejolak perasaannya seperti ombak menghantam karang.


"Aku takut...benar-benar takut..."Suara itu akhirnya keluar dari kerongkongannya.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?" Raka mencium tengkuk Sarah dengan lembut


"Aku takut, mereka memintamu kembali kepada Sally." Desahan Sarah begitu pelan, hampir tak terdengar.


Raka membalik tubuh Sarah dengan sedikit kasar, wajahnya mengeras seperti es.


"Apakah kamu melihat aku ini sebangsa barang, yang bisa dibuang dan dipungut dengan sembarangan?" Raka mendesis dengan bola mata yang menghujam ke mata Sarah.


"Mereka pernah memintaku melakukan apa yang tidak ku kehendaki dan aku telah begitu bodoh melakukannya meskipun kebodohan ini ku syukuri sekarang. Tapi membuatku mengulangi melakukan apa yang menentang hatiku, mungkin tidak akan terjadi lagi." Raka mengangkat dagu Sarah dengan dua jarinya.


"Kamu hanya takut, mereka memintaku kembali seperti mainan yang dipinjamkan, tapi kamu tak pernah mengatakan takut telah meragukanku seperti ini!" Raka menggeram, tiba-tiba saja amarah memenuhi dadanya.


"Kamu telah bersama Sally begitu lama, sampai aku tak tahu entah sampai sejauh apa kalian melewati banyak hal sebelum kamu bersamaku, apakah aku tidak boleh takut karena itu?" Sarah membuang wajahnya, matanya berkaca-kaca.


"Aku menikah denganmu, kamu lebih tahu seperti apa sulitnya! Saat aku telah memantapkan hati untuk memulai dari titik nol, kemudian masa lalumu datang seperti badai. Aku harus bagaimana? Aku...aku harus bagaimana?" Sarah tak bisa menahan air matanya.


"Mereka hanya tahu, aku berada di posisi yang harus menerima semua keputusan karena aku harus menutupi semua kesalahan adikku. Tapi, apa aku tak berhak atas hidupku sendiri?" Tubuh Sarah berguncang hebat, di depan laki-laki yang kini adalah suaminya itu, dia mengeluarkan rindu dendam yang di tanggung hatinya.


"Sayang...! Kenapa kamu takut untuk hal-hal yang belum tentu terjadi? Sekarang ada aku dan aku ada di pihakmu!" Raka meraih tubuh ramping Sarah, membenamkannya ke pelukannya.


"Papamu cuma bilang ingin bertemu dan Sally tidak baik-baik saja, kenapa kamu menjadi paranoid begitu? Apapun yang terjadi pada Sally, dia punya kehidupan sendiri dan kita berdua tidak terlibat dalam apapun yang kini menimpanya. Aku adalah suamimu, dia bukan siapa-siapa lagi bagiku." Raka memeluk gadis yang kini terisak kuat di pelukannya, meyakinkan Sarah sekuat dirinya.


Tiba-tiba Raka mendorong tubuh Sarah yang masih terisak, seperti seorang yang benar-benar ketakutan kehilangan sesuatu.


"Sayang..." Raka menangkupkan dua telapak tangannya di wajah sembab Sarah.


"Apakah kamu percaya padaku?" tanya Raka, perlahan. Sarah tak menjawab, hanya matanya yang memerah berkedip menatap Raka.


Lalu dengan sekali angkat, tubuh Sarah sudah dalam gendongan Raka. Lalu dengan tak sabar dia membawa tubuh istrinya itu ke atas tempat tidurnya yang bersepray hitam putih.


"Aku akan menceritakan satu hal padamu...sebuah rahasia tentang diriku..."Raka melengkung di atas tubuh Sarah, berusaha tidak menindihnya.


"Jika ini bisa membuatmu percaya padaku, dengarkan aku baik-baik...aku tidak pernah melakukan apa-apa kepada Sally meskipun lima tahun aku bertunangan dengannya. Aku tidak pernah menyentuh tubuhnya, seperti aku telah melakukannya padamu. Aku tidak berbohong padamu, berapa kalipun dia datang kepadaku di jerman, aku tidak pernah ingin menidurinya, jika itu yang menganggumu tentang kenangan apa antara aku dan adikmu itu yang mungkin membuatku akan begitu mudah kembali kepadanya." Raka berbicara dengan begitu sungguh-sungguh.


"Kenapa aku tidak melakukannya meskipun aku telah bertunangan dengannya? Mungkin kamu menilaiku kolot dan tidak relevan dengan dunia modern tapi aku type laki-laki yang menganggap pernikahan adalah hal yang suci, karena berfikir mempunyai satu malam pertama, di malam pengantinku bersama istri adalah hal yang sakral. Aku menjaganya sampai kemudian dia menghianatiku!" Matanya yang tajam itu menghujam benar-benar sampai ke jantung Sarah, yang terkesiap di bawah tubuh Raka.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2