Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 51 KEMBALINYA SALLY


__ADS_3

"Sayang, kamu tidak harus pergi jika keberatan. Telpon saja, katakan kamu sedang memiliki banyak urusan." Raka menyarankan Sarah, yang tampak sedang bersiap-siap untuk ke rumah orangtuanya.


Sarah mengambil tas tangannya dari atas meja, lalu menatap kepada Raka.


"Sayang, kamu akan mengantarkan aku..."ucapnya kemudian.


"Aku?" Raka menunjuk wajahnya sendiri dengan raut ragu.


"Aku rasa, aku tidak perlu ke sana." tolak Raka dengan canggung.


"Kamu takut bertemu Sally?"Sarah menaikkan alisnya.


"Aku takut? Kenapa aku harus takut?"Raka menarik sudut bibirnya.


"Kamu tidak ingin mengantarku?"Sarah balik bertanya.


"Aku malas saja, berurusan dengan keluargamu."Raka menjawab dengan sedikit acuh.


"Sayang..." Sarah melempar dirinya ke sofa, di mana Raka sedang duduk sambil mengawasinya.


"Tidak apa-apa kita ke sana, hitung-hitung kamu belum ada sekalipun berkunjung ke rumah mertuamu setelah pernikahan kita.


Bersikap sedikit lebih hormat tidak apa-apa. Dan lagi, tanpa mereka memberikan kesempatan kita menikah, belum tentu kamu dapat istri secantik ini..."Sarah terkekeh sambil mengaitkan lengannya di leher Raka.


"Sayang, aku hanya ingin menjaga perasaanmu. Tidak ke sana, lebih baik bagiku. Nanti kamu cemburu tanpa alasan, yang repotkan nanti suamimu ini!"


"Sayang, aku percaya kepadamu. Aku hanya mau menunjukkan kepada mereka, pernikahan kita baik-baik saja." Sarah mencium pipi Raka dengan gemas.


"Kita hanya perlu ke sana sebentar, mendengarkan ada apa, setelah itu kita pulang, melanjutkan perang. Bagaimana?" Sarah mengedipkan matanya kepada Raka.


Raka balik menatap Sarah.


"Kamu yakin kita harus ke sana berdua?" tanya Raka.


"Aku yakin, kita bisa menghadapinya berdua."Sarah tersenyum menenangkan keraguan Raka.


Dia sendiri, merasa tidak nyaman tapi cepat atau lambat dia pasti harus menghadapinya.


Dengan ada Raka mendampinginya dia merasa mempunyai kekuatan atas apapun yang mungkin terjadi di sana.


Raka mengambil kunci kontak mobil, berdiri dari duduknya, mengulurkan tangannya kepada Sarah.


"Sayang, kita pergi sekarang. Tidak perlu membuang waktu lagi, nanti saat pulang aku menagih janjimu" Raka menarik tangan Sarah untuk berdiri.


"Janji apa?"


"Melanjutkan perang."


Sarah melingkarkan tangannya dipinggang Raka, membenamkan kepalanya di pundak suaminya itu.

__ADS_1


"Aku bukan mesin, sayang...perangnya di tunda besok pagi, boleh?"Sarah merajuk dengan manja.


Raka menggelengkan kepalanya dengan muka masam.


"Janji tetap janji!" Raka menggandeng Sarah.


Sedikit ada desir di dadanya, bertemu Sally setelah sekian lama dan menerima sakit atas perlakuan Sally belum terbayang lagi bagaimana caranya menyikapi diri.


Apakah dia akan marah, menuangkan kebenciannya atau melihatnya dengan jijik. Raka masih belum tau, reaksinya sendiri saat bertemu dengan perempuan yang telah menghianatinya dan meninggalkannya menjelang hari pernikahan mereka itu.


...***...


Sarah dan Raka berdiri dengan sedikit tegang, saat mbok Yem membuka pintu.


"Nak Sarah..." Wajah yang menyiratkan kerinduan itu menatap dengan berkaca-kaca kepada gadis di depannya, yang rasanya begitu lama tak pernah pulang itu.


"Mbok Yem..."Sarah tanpa canggung memeluk pengasuhnya itu.


"Nak Sarah, mbok kangen sekali dengan nak Sarah."


"Sarah juga kangen dengan mbok Yem. Maafkan Sarah lama tidak kemari. Sarah benar-benar sibuk..." Sarah melepaskan pelukannya.


"Tuan dan nyonya sedang menunggu nak Sarah." Mbok Yem menyeka air matanya yang menetes tak terbendung.


Dia tahu benar, bagaimana Sarah dari kecil karena mbok Yem lah yang mengasuh gadis itu.


Sarah melangkah masuk di ikuti oleh Raka. Langsung ke ruang keluarga.


Sarah dan Raka memberi salam kepada kedua orangtua angkatnya itu, bagaimanapun dia tetap menghormari mereka dan duduk di seberang kursi.


Mereka sejenak bertatapan dengan canggung, dan Sarah membuka pembicaraan untuk mencairkan suasana,


"Apa kabar ma? Pa? Maaf baru kemari, Sarah tidak kasih kabar kemarin menyusul Raka ke Leiden."


"Oh, ya...ada apa ke Leiden?" Papa memang selalu lebih lunak dari mama Sarah.


"Aku yang memintanya, pa...menemaniku selama ujian semester." Raka menyahut.


"Oh...kamu sekolah lagi?" papa mengernyitkan dahi.


"Ya, mencari pengalaman sedikit untuk mempelajari hukum bisnis, mungkin bisa membantu perusahaan kita lebih maju lagi."


"Papa senang mendengarnya..."


Mama Sarah menatap tak sabar dengan basa-basi mereka,


"Sally sudah pulang..." mama menyela tiba-tiba.


Ada kilat kesedihan sekaligus menuntut dari mata perempuan setengah baya itu.

__ADS_1


"Ya...papa sudah kasih tahu. Sally sekarang di mana?" Sarah menyahut sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia juga merasa heran, kenapa tidak melihat Sally sampai detik ini.


Papa dan mama Sarah saling bersitatap sebentar, seolah sedang mempertimbangkan berbicara lebih jauh.


"Sarah, adikmu itu mengalami depresi berat." Papa berucap perlahan.


Sarah dan Raka sekarang yang saling bertukar pandang.


"Depresi? maksudnya bagaimana, pa? bukankah dia baik-baik saja dengan Bram, saat pergi." Sarah tanpa sadar memegang tangan Raka yang berada di sampingnya.


Mata mama tertuju ke sana, sedikit tidak senang dengan pemandangan di depannya.


Papa menghela nafasnya, begitu berat dan penuh beban.


"Mungkin kalian berdua memang harus tahu ini, karena hanya kalian berdua yang bisa menolongnya." Suara Papa seperti tercekat. Sarah semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Raka, mendengar penuturan sang ayah dengan gelisah.


"Bagaimana kami bisa menolongnya?" Sarah bertanya dengan getir.


"Laki-laki terkutuk itu meninggalkan adikmu begitu saja. Beberapa minggu yang lalu, Sally melahirkan bayi prematur di Singapura dan meninggal sesaat setelah dilahirkan.


Bram kembali kepada istrinya dengan alasan anak mereka menderita Lupus." Papa tampak geram dan tak berdaya dalam waktu yang sama.


"Sekarang Sally pulang dalam keadaan yang menyedihkan. Bahkan mamamu sepertinya tak sanggup melihatnya, sejak kembali dua hari yang lalu diantar oleh om Gono, teman papa yang di kedutaan Singapura." Papa melirik kepada mama yang sedari tadi diam. Tapi raut wajahnya yang seperti langit mendung menunjukkan perempuan paruh baya itu sedang menanggung banyak fikiran.


"Kami turut prihatin dengan apa yang menimpa Sally tapi kami mungkin tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal ini." Tiba-tiba Raka angkat bicara. Wajahnya yang tanpa ekspresi itu seperti ingin mengatakan, mereka tidak mau terlibat dengan kehidupan Sally.


"Sally sepertinya tidak perduli dengan sekelilingnya, kami sudah memanggil psikolog untuk memeriksa mentalnya. Sally dinyatakan mengalami PTSD."


"PTSD?"Sarah terpana, dia baru mendengar penyakit semacam itu.


"PTSD atau post-traumatic stress disorder adalah gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat secara terus menerus pada kejadian traumatis. Mungkin kehilangan bayi dan kehilangan Bram benar-benar membuatnya begitu menderita." Papa menarik nafasnya lagi, begitu berat.


"Sally di mana sekarang?" Sarah bertanya dengan suara bergetar.


"Di kamarnya, di atas." Jawab Papa.


Mama mengangkat wajahnya, memandang Sarah yang dari tadi menggenggam tangan Raka. Dia tidak pernah mengira, Sarah dan Raka telah sedekat ini. Yang dia tahu selama ini, Sarah dan Raka menikah hanya terpaksa tanpa landasan perasaan apa-apa


Bahkan dia sangat tahu, bagaimana Sarah membenci pernikahan mereka itu.


"Tapi...Sally dari kemarin hanya memanggil satu nama..." Mama menatap tajam kepada Raka.


"Dia hanya memanggil nama Raka..."


(Maaf lambat UP hari ini, author sedang Ultah🤭❤️❤️)


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2