Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 89 CINTA MEMANGGIL PULANG


__ADS_3

Sarah terpana,


"Sayang...." Matanya yang terbuka lebar, berbinar dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan.


Sarah meremas tangannya sendiri, memastikan apa yang ada di depannya itu bukan mimpi.


Senyum lelaki tampan yang sangat dirindukannya siang dan malam itu merekah lebar, selebar tangannya yang terentang.


Sarah turun menghambur dengan tak sabar, bahkan tak ingat jika dia sedang hamil sekarang.


Rindu yang ditahan seolah menyeruak berlomba untuk tumpah.


Sarah tak sabar memeluk sang suami yang kini berdiri dengan senyum lebar tak kalah rindunya, bahkan lebih.


Raka menyambut tubuh sang istri, mendekapnya erat. Lehernya terasa sesak saat kedua lengan Sarah mengait dengan kuat, tapi tak sesesak rasa rindu yang menghimpit dadanya. Tubuh Ramping Sarah melayang di pelukan Raka, berputar saat dia melompat ke dalam rengkuhan sang suaminya itu.


"Sayang, kamu pulang..." Mata Sarah terasa seperti terbakar, tidak pernah dia merasa begitu ingin menangis seperti sekarang ini.


"Aku tak tahan lagi." Bisik Raka dengan suara yang gemetar di telinga Sarah.


Raka menciumi Sarah dari ubun-ubun hingga pipinya. Sangat menyenangkan saat memeluk istrinya itu tidak hanya dalam mimpi.


Sarah melepas pelukannya, dan menunjukkan wajahnya yang merengut kesal tapi matanya benar-benar basah oleh air mata.


"Kamu membuatku cemas dari kemarin!" Sarah tak bisa menahan isaknya.


Raka tertawa melihat tingkah Sarah, di kecupnya kedua mata yang basah itu.


"Bagaimana aku menghubungimu, aku 16 jam terkurung dalam pesawat." Jawab Raka sambil mengalungkan tangannya di pinggang istrinya itu.


"Tapi kan kamu bisa kasih kabar, lagi di mana? mau ke mana? Sedang ap..."


Sebuah ciuman mendarat di bibir merah jambu Sarah yang sedang mengoceh, seketika Sarah terdiam, mulutnya di sumpal dengan sebuah ciuman yang begitu kuat dan lama. Seakan sejuta kerinduan sedang di salurkan ke muaranya.


"Ehm..." Suara deham bi Asih menyadarkan keduanya, bahwa tidak hanya mereka yang ada dalam ruangan itu.


Sarah gelagapan segera menarik wajahnya yang seperti kepiting rebus, sungguh dia tak menyadari kalau bi Asih sedari tadi berdiri di sudut ruangan, memandang kelakuan mereka berdua yang sedang melepas kerinduan.


Sementara Raka dengan acuh memeluk Sarah supaya tidak melepaskan diri.


"Bibi...tidak bisa lihat orang senang." Gerutunya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wajah tua bi Asih tak kalah meronanya.

__ADS_1


"Makanannya bisa dingin den kalau kelamaan."Sahut bi Asih sambil tersipu, mendapati pemandangan romantis yang di suguhkan kedua majikan muda kesayangannya itu tentu saja membuatnya tak enak dan sedikit malu, tapi juga tak menampik rasa ikut bahagia yang memenuhi perasaannya.


"Oh, iya...bi Asih benar. Ayo, kamu harus makan sekarang, sayang." Raka menarik tubuh Sarah merapat ke tubuhnya, mengajak sang istri yang salah tingkah itu beranjak.


"Ternyata memang aku harus pulang untuk mengawasimu, masa baru makan jam segini." Raka menarik tangan Sarah sambil setengah mengomel.


"Bi Asih, minta tolong pak Dudung bawakan koperku ke atas, ya. Sampai lupa jadinya tadi." Raka terkekeh, merasa lucu dengan sikapnya yang hari ini serba terburu-buru. Jarang sekali dia menggunakan taksi setelah bepergian, pasti ada yang menjemput.


Jika bukan pak Dudung, Dea atau sopir pribadi papanya si Ardi, standbye di bandara menjemput.


Tapi khusus hari ini, dia bahkan tak ingin menunggu sebentar saja di Bandara, begitu turun dari pesawat rasanya ingin segera tiba di rumah.


Raka dan Sarah duduk berdampingan menghadap meja makan besar itu, Sarah masih celingukan seperti orang linglung, menatap kepada Raka yang sibuk mengambilkan piring dan menyendok nasi ke dalamnya.


"Ini bukan mimpi kan?" Sarah mengerjap matanya, setengah bergumam, masih belum percaya jika Raka sudah kembali pulang.


"Makan saja, nanti kamu tahu ini mimpi atau bukan." Raka memegang sesendok nasi setelah mengucap doa sebentar, memberi isyarat Sarah membuka mulutnya.


Sesuap nasi dengan penuh kasih sayang di berikan oleh suami, terasa begitu enak bahkan lebih gurih dari biasanya.


Makan malam spesial ini, Sarah dan Raka makan di satu piring. Raka benar-benar tak merasa lelah, meskipun baru saja tiba tapi dengan suka rela melayani istrinya itu di meja makan. Bukan karena Sarah yang meminta tapi karena sekali-kali sebagai suami dia ingin memanjakan istrinya itu dengan perhatian dan cinta meski hanya dengan ritual kecil menyuapi sang istri, tapi dia tahu Sarah pasti sangat suka dan bahagia.


Sarah benar-benar tak menyangka kalau Raka pulang begitu cepat bahkan belum genap seminggu setelah kepergiannya.


...***...


"Seharusnya kamu kasih tahu kalau pulang." Sarah memberikan pakaian yang masih terlipat rapi di tangannya kepada Raka yang keluar dari kamar mandi hanya terbalut handuk.


"Memangnya kenapa?" Raka nyengir, rambutnya setengah kering nampak membuat wajahnya begitu segar.


"Kan, aku tidak bingung sendiri, sepanjang hari bolak balik menelpon kamu, tapi tidak bisa di hubungi." Sarah manyun. Raka tertawa melihat Sarah yang tampak kesal itu.


Handuk yang melilit tubuhnya di lemparkannya sembarangan, badannya yang bagus itu hanya di lapisi sebuah celana pendek. Bagian atasnya polos begitu saja.


Lalu dengan mata yang berkilat menggoda dia melingkarkan tangannya di pinggang Sarah yang masih berdiri di depan sofa bed kamar mereka.


Dada bidang itu terasa dingin saat bersentuhan dengan kulit Sarah, namun segera menghangat ketika wajah mereka saling bertemu tatap.


"Kamu pasti berfikir macam-macam, mungkin kamu sedang berfikir aku sedang keluyuran lupa dengan istrinya, berkencan dengan bule atau me..."


Telunjuk Sarah menempel tiba-tiba di bibir Raka yang sedang berbicara, menghentikan kalimat ocehannya.

__ADS_1


Wajah Sarah memerah dengan pias memelas, betapa menakutkan semua yang baru keluar dari mulut Raka, untuk mendengarkannya Sarah tidak sanggup.


"Bukan begitu...." Desah Sarah dengan suara serak.


Raka menggenggam pergelangan tangan Sarah, mengecup lembut telunjuk yang masih menempel di bibirnya dan menciumi jemari Sarah dengan penuh perasaan.


"Lalu?" Raka bertanya sambil menaikkan alisnya, setengah menggoda.


Sarah menundukkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang tiba-tiba berembun.


"Aku hanya takut kenapa-kenapa denganmu." Jawabnya kemudian dengan lirih.


Raka meraih dagu Sarah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang pinggang Sarah dengan erat, membuat tubuh Sarah menempel erat pada tubuhnya seakan ingin membagi debaran yang kini dirasakan olehnya.


"Aku tak akan kenapa-kenapa selama ada kamu, sayang." Raka berucap dengan penuh keyakinan.


"Kenapa kamu tiba-tiba pulang secepat ini?" tanya Sarah sambil menatap mata Raka. Wajah mereka begitu dekat, bahkan hembusan nafas mereka saling terdengar beradu.


"Aku hanya ingin memelukmu." Bisik Raka sambil menelan ludahnya sendiri, mengagumi mata yang berbinar menatapnya itu.


"Tapi, sekolahmu bagaimana?"


"Istri dan anakku lebih penting dari segala macam titel di dunia ini." Raka tertawa kecil, melihat kebingungan yang masih terpampang di mata Sarah.


Lalu perlahan kepalanya menunduk, menggapai bibir Sarah yang basah. Menciumnya dengan sangat lembut dan hati-hati sementara matanya terpejam, seakan begitu menghayati sentuhannya sendiri.


Raka melepaskan bibirnya dari bibir Sarah yang kini terbuka penuh kepasrahan.


"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi dengan alasan apapun. Jika memang aku harus pergi ke belahan dunia manapun itu, kupastikan kamu berada di sampingku." Ucap Raka bergetar, lalu Raka mendaratkan ciumannya yang lain, yang lebih menggelora sarat dengan gairah.


Mata Sarah mengerjap hangat, dadanya terasa begitu lega. Cintanya memanggil sang suami pulang kembali.


(Yuk VOTE untuk Sarah dan Raka, next episode di tunggu, ya....🙏😅😅😅)



...TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI KISAH CINTA SARAH DAN RAKA🙏...


...Terimakasih untuk VOTE, LIKE, KOMEN dan DUKUNGAN semuanya, author tanpa readers bukanlah apa-apa☺️...


...❤️LOVE U ALL❤️...

__ADS_1


__ADS_2