
Beberapa hari ini, Raka pulang telat, selalu hampir jam 7 malam baru sampai rumah.
Awalnya, Sarah biasa saja karena menganggap sang suami memang lagi sibuk tapi lama-lama dia manyun juga, merasa Raka sedikit berubah.
"Aku sibuk sekali, sayang..." Raka juga sepertinya lebih banyak berada di ruang kerjanya sampai larut malam.
"Tapi sibuknya kok dadakan begini? baru beberapa hari ini saja."
"Ada proyek baru."
"Ohhh...."
Tapi sudah seminggu, urusan proyek baru ini tidak kelar-kelar. Raka tetap saja pergi pagi pulang malam, Sarah yang terbiasa dengan perhatian Raka menjadi sedikit merasa aneh.
"Sayang, aku hari ini mungkin agak malam pulangnya." Raka membereskan beberapa dokumen di atas meja kerjanya.
"Tapi, kita ada janji melihat apartemenku, lama tidak di jenguk. Rencananya mau ku sewakan saja untuk teman Jen, dari pada tidak ada yang mengurusnya." Kata Sarah, sedikit protes.
"Besok saja ya, sayang..."Raka mencium Rae yang ada dalam pelukan Sarah.
"Kok besok?"
"Hari ini aku ada meeting."
"Rencananya kan kemarin, di tunda ke hari ini, sekarang malah di tunda lagi." Sarah merengut, mukanya masam.
"Pokoknya hari ini tidak bisa sayang..." Raka mengacak rambut istrinya itu dengan gemas.
"Atau aku saja yang ke sana sendiri."
"Jangan. Kamu tidak boleh pergi sendiri." Mata Raka mendelik kepada Sarah.
Sejak kejadian pertengkaran dengan Sally dan mamanya beberapa hari yang lewat Raka menjadi sangat protektif dengan Sarah dan Rae, dia tak mengijinkan istri dan anaknya itu bepergian sendirian dan jauh dari dirinya.
Dia masih sedikit trauma dengan apa yang di alami Sarah, kalau saja Jen tidak menelponnya untuk segera datang, dia tak tahu apa yang akan terjadi di sana.
__ADS_1
"Tapi sayang, kamu sibuk sekali..."
"Soal apartemenmu itu bukan hal yang mendesak, jadi tidak perlu tergesa-gesa."
Sarah terpana mendengar kalimat yang di ucapkan Raka, matanya mengerjap, baru pertama kali ini dia mendengar suaminya yang lembut dan pengertian itu berkata seperti ini padanya.
"Kamu tunggu aku besok, aku janji. Tapi hari ini tidak bisa." Raka mengacak rambut sang istri sekali lagi.
"Aku harus bersiap-siap dulu...sudah di tunggu di kantor."
"Ku tunggu di meja makan..."
"Tidak usah sayang, aku bisa sarapan di kantor hari ini."
Sarah melongo melihat suaminya itu yang tak seperti biasanya bersikap begitu aneh.
Sebagai seorang ibu dengan bayi, Sarah mrnjadi sedikit sensitif dengan tingkah suaminya itu. Sekelumit rasa kesal di dalam hati tak bisa dia sembunyikan meskipun dia menepis segala macam kecurigaan karena dia percaya dan tahu benar, Raka adalah suami yang terbaik untuknya.
"Rae, daddymu itu sibuk sekali..." Keluh Sarah sambil membiarkan sang suami pergi setelah mengecup keningnya.
Sarah geleng-geleng kepala, sambil menutup laptop Raka yang di tinggalkannya begitu saja fi atas meja.
"Dreededdd..."
Sarah mengernyit kening, saat melihay di bawah selembar kertas, handphone Raka bergetar, dalam mode silent. Sepertinya karena tergesa-gesa, Raka melupakan handphonenya.
"Dredeedd..."
Handphone itu bergetar lagi.
Sambil meletakkan Rae di pinggangnya, mengambil handphone itu, hendak segera menyusul Raka, sebelum dia benar-benar berangkat.
3 Pesan di terima
Sarah sebenarnya bukan type yang suka membuka handphone suaminya, karena selain dia percaya 100 persen dengan Raka, dia sama sekali tidak kepo dengan semua urusan suaminya.
__ADS_1
Handphone di tangannya bergetar,
sekarang sebuah panggilan,
"Bu Indah memanggil"
Yang membuat Sarah melotot, foto di kontak itu adalah gadis muda dalam balutan seragam SMA dan tidak di kenal Sarah sama sekali.
Sarah sesaat terpana, sementara handphone itu terus bergetar di tangannya.
Dia masih bingung, apakah harus menyambutnya atau tidak.
Tapi sebelum Sarah memutuskan apa-apa, Raja muncul di pintu.
"Sayang, handphoneku..." Wajah Raka memerah, saat melihat Handphonenya di tangan Sarah.
Lalu tangannya terulur, meminta dengan pias gugup.
Perlahan Sarah mengulurkannya ke tangan Raka, meskipun Handphone itu terus menggelepar di telapak tangannya.
Raka mengambilnya lalu dengan cepat me reject panggilan itu. Tanpa memberi keterangan apa-apa dia memasukkan handphone itu ke saku celananya.
"Sayang...aku pergi dulu..." Raka mencium Sarah sekilas, dengan sedikit salah tingkah. Lalu segera berlalu dengan tergesa.
Suara Rae yang merengek dipinggang Sarah, membuatnya tersadar. Dia masih tertegun tak bisa berkata apa-apa.
Sebagai seorang perempuan normal dan ibu yang sedang mengasuh bayi, mommy undur-undur ini tak bisa bohong, dia sedang di landa cemburu.
(hi..hi..ada apa dengan daddy undur2 ya😅 yg pasti no pelakor🤣 gimana lucunya Sarah saat cemburu, tunggu bab selanjutnya ntar mlm🤗🤗🤗)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...