
Menyakiti Diah telah membuatnya candu, dia seakan sedang menyakiti sisi gelap Sally, menghempaskan dendamnya pada perempuan yang dia cintai pada raga orang lain.
Bram benar-benar sakit jiwa!
Setiap melihat ketidak berdayaan Diah, kepasrahan perempuan itu, dia benar-benar puas seakan dia telah menyiksa Sally.
Tetapi saat dia bertemu Sally, dia benar-benar takluk sempurna, dia sanggup melakukan apa saja demi perempuan itu. Tidak hanya mengajaknya lari di hari menjelang pernikahannya tetapi menjadikannya pasangan selingkuh sejatinya.
Bram rela meninggalkan rumahnya, anak istrinya, menyakiti orangtuanya hanya demi memastikan Sally adalah miliknya utuh.
Jika ini cinta, maka Bram telah mencintai Sally dengan sisi tergelapnya, yang bahkan tak bisa dia bedakan antara benar-benar cinta ataukah nafsu semata.
Sekarang, dia berdiri di depan pintu rumahnya, siap untuk memuaskan keinginan Sally, bertengkar dengan istrinya! Sally benar-benar tak terima dengan kehadiran Diah di dalam lingkup kantor perusahaan keluarganya.
Dia harus segera bertemu Diah, memastikan perempuan itu berhenti bekerja di perusahaan milik keluarga Sally dan tidak lagi bekerja dengan Sarah, kakak angkat sekaligus kakak sepupu Sally yang di benci oleh kekasihnya itu sampai ke tulang-tulangnya.
Kakak yang telah menggantikan dirinya di hari pengantin mereka, ketika Bram menculik Sally, kakak yang di anggap Sally sebagai pencuri kebahagiaannya, Kakak yang membuat hidupnya tak pernah tenang bahkan menurut Sally adalah provokator utama di balik perceraian kedua orangtuannya.
Bram tahu, Sally begitu gigih ingin memiliki Raka saat ini, tapi dia sungguh tak berdaya, cintanya yang besar pada Sally rela membuatnya berjuang memuaskan keinginan Sally bahkan jika harus merebut kembali Raka untuk Sally.
Menjadi kekasih gelap Sally seumur hidup dia rela asalkan perempuan itu tetap menjadi bahagian hidupnya!
Cinta memang kadang-kadang membuat seseorang tidak waras saat bercokol dalam jiwa yang labil.
Bram adalah salah satu pemilik jiwa yang labil itu.
__ADS_1
"Istri sialanmu itu, bagaimana mungkin kamu tak bisa mengatasinya! Bahkan dia telah mempermalukan aku di kantorku sendiri!" Teriakan sally itu masih terasa bergema di telinganya, berdengung sedari tadi memaksanya untuk mendatangi Diah.
"Bagaimana mungkin Diah ada di sana?" Bram bertanya dengan bingung, berdiri dari duduknya yang sepanjang sore ini berada di tempat tidur. Dia harus punya stamina yang kuat untuk membuat Sally melenguh puas di atas ranjang, dengan demikian dia tidak perlu mendengarkan sumpah serapah yang keluar dari mulut Sally.
"Tapi aku baru saja bertemu dengannya, dia bahkan bersekongkol dengan Sarah! Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui hal itu?" Sally benar-benar meradang padanya, wajah cantiknya itu kusut masai, cemberut dan kesal.
"Aku...aku ingin kamu membuatnya keluar dari perusahaan itu!" Teriak Sally lagi, tasnya dilemparnya begitu saja bahkan hampir mengenai jidat Bram.
"Bagaimana caranya? Bahkan aku tak tahu jika dia bekerja di sana." Dalih Bram.
Bukan berkilah tapi dia benar-benar tidak tahu. Selama ini dia berada di dalam apartemen Sally, hampir sepanjang malam dan sepanjang hari mereka berdua berada di atas ranjang
Hanya keluar kadang-kadang untuk makan atau menambah Wine, semua kebutuhan mereka di dalam apartemen mewah itu tersedia dari layanan delivery. Apartemen itu di bersihkan secara rutin tiap pagi oleh cleaning service. Jadi bagaimama dia tahu dengan kehidupan Diah?
"Kamu suaminya, masa mengatasi istri tololmu itu harus aku yang mengajarinya?!" Sally melotot galak pada Bram yang masih melongo menatapnya, dengan raut bingung.
"Bukankah kamu tahu sendiri aku jarang pulang sekarang? Aku selalu di minta olehmu siaga bersamamu, supaya jika kamu memerlukanku aku selalu standbye?" Tanya Bram sambil mengernyit dahinya.
"Kamu ingin aku melakukan apa?" Bram balik bertanya.
"Pulang dan ancam Diah kurang ajar itu untuk keluar dari perusahaan, berhenti bekerja pada Sarah! Aku tak tahan jika harus bertemu dengannya." Sally mendengus dengan mimik kesal yang luar biasa.
"Dia itu bodoh, kenapa kamu menjadi terlihat begitu terganggu dengan kehadirannya? Biar saja dia di sana, bukan urusan kita." Bram benar-benar tak yakin sosok Diah itu menjadi begitu mengusik Sally. Dalam hal apapun menurut Bram, Sally unggul dan di atas segala-galanya di bandingkan dengan Diah.
"Dia sangat mengganggu mataku, sangat-sangat menggangguku. Aku tak menyukai istri brengsekmu itu, aku membencinya! Aku tidak mau melihatnya lagi!!!" Sekali lagi Salky berteriak, begitu menuntut untuk Bram menperingati istrinya itu dengan keras dengan alasan kebenciannya itu.
Bram tak habis pikir, entah mengapa Sally menggila karena kehadiran Diah, yang selama ini dia tahu benar begitu lemah, pasrah dan tak berdaya. Perkara dia bisa bekerja di perusahaan itu, Bram yakin hanya menjadi OB atau sekelas cleaning service, mengingat Diah tak punya pendidikan apa-apa.
__ADS_1
Diah hanyalah peremuan dungu yang kebetulan menyandang status menjadi isterinya.
Mungkin dia sedang beruntung sehingga bisa bekerja di sana, meskipun cara masuknya masih merupakan misteri bagi Bram.
"Kenapa kamu begitu sewot dengan perempuan tak penting itu? kamu cemburu pada Diah?"
"Jangan ge-er! Aku seujung kukupun tidak cemburu pada padanya, aku hanya sangat membencinya! Aku tidak menyukainya!"
Bram menaikkan alisnya, mendekati Sally berusaha menenangkannya, biasanya pelukan dan ciuman akan membuat kemarahannya mereda.
"Jangan menyentuhku!" Sally berteriak dengan wajah merah padam. Mundur beberapa langkah menghindari Bram.
"Aku ingin kamu memberi pelajaran pada istrimu itu, membuatnya tak pernah kembali ke kantor itu dan menjadi kacung Sarah terkutuk itu! Aku tak perduli bagaimana caramu melakukannya, aku hanya ingin Diah tak pernah muncul lagi di depanku!!!"
Teriakan terakhir itu sebelum Sally meninggalkannya sendiri sepanjang malam hingga siang tak pernah kembali. Mungkin seperti biasa jika mereka bertengkar maka Sally akan kembali ke rumah mamanya. Tapi dia tak pernah melihat Sally semurka ini, menyebut nama Diah di depannya.
Hanya sebuah pesan singkat di WAnya :
"Aku akan pulang jika kamu telah membuat istrimu itu menangis dan keluar dari pekerjaannya!!!"
Alasan itulah mengapa dia berdiri dengan wajah sebeku es kutub utara di depan pintu rumahnya sendiri, sementara hatinya tiba-tiba dilanda bimbang.
Pintu itu terbuka perlahan dan Bram menatap terpana pada siapa yang kini berdiri di sana,
(Nantikan part selanjutnya malam ini, dalam rangkaian crazy UP ya...🙏😁 Jangan lupa VOTE, LIKE, KOMEN, BUNGA, KOPI, TIPS...mari sumbangkan kepada othor, modal othor bergadang malam ini🤭🤭🤭)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......