Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 48 DASAR YANG RAPUH


__ADS_3

Seminggu kemudian...


(Raka dan Sarah balik ke Indonesia☺️)


Sarah dan Raka disambut dengan gadis kecil cantik dengan kepang yang manis di depan pintu.


"Tante Sarah!" Dengan sekali lompat dia sudah berada dalam pelukan Sarah.


"Apa kabar Deasy...?" Sarah menciumi gadis kecil itu dengan penuh rasa rindu.


"Deasy sudah punya adik...!" Serunya dengan girang. Edgar tertawa sambil memeluk adiknya.


"Mama bilang, kalian tiba kemarin dari Amsterdam, Deasy tak sabar ingin bertemu dari kemarin." Kata Edgar


"Lila mana?" tanya Sarah.


"Mama di kamar dede Dylan." Deasy menjawab cepat dengan manja.


"Dylan?"Sarah mengernyit dahinya dengan lucu pada Deasy.


"Deasy ngotot memberi nama adiknya Dylan." Edgar tertawa, menjawab Sarah yang sedikit bingung mendengar nama asing tadi.


Raka mencubit pipi Deasy yang dengan manja berpindah ke pelukan Raka.


"Kenapa namanya Dylan, my princess?" tanya Raka, pada si gadis kecil keponakannya yang lucu itu.


"Karena, Deasy suka sama Dylan. Dia seperti om Raka. Seperti pangeran!" Jawaban Deasy di sambut tawa Raka dan Sarah.


"Mama tidak ikut?" tanya Edgar, keheranan. Biasanya sang mama akan menempel pada Raka, dia tak pernah melewatkan berkunjung ke rumah mereka. Dalam seminggu ini saja hampir tiap hari mama datang, menengok cucu barunya itu.


"Mama menyusul, nunggu papa datang dari Jakarta hari ini."


"Oooo...."


Sarah dan Raka segera di bawa masuk, langsung di giring oleh Deasy menuju kamar adiknya yang bernuansa biru dan ornamen-ornamen maskulin yang lucu-lucu.


"Karena Dede Dylan cowok, dia suka blue...!" Deasy melonjak ke arah tempat tidur adiknya, yang langsung ditangkap sang ayah.


Lila menggendong bayi mungil di pelukannya yang baru berusia sekitar dua minggu itu, menyongsong Sarah dan Raka.


Sebuah ciuman mendarat di pipi Sarah.


"Sarah, senang melihatmu." Lila menyerahkan si bayi mungil ke tangan Sarah.


"Dylan harus berkenalan dengan tantenya yang cantik." Lila tersenyum, melihat Sarah yang sejenak bimbang. Tapi kemudian, Sarah menyambut Baby Dylan meskipun dengan raut ragu, dia tak pernah menggendong bayi sekecil itu. Membuatnya sedikit takut. Tapi Lila membuatnya yakin bahwa baby Dylan baik-baik saja dalam gendongannya.


Sarah menimangnya, memeluknya dengan hati-hati. Entah dari mana tiba-tiba perasaan aneh menjalari hangat. Dia merasa begitu bahagia saat kulit halus bayi itu bersentuhan dengannya. Perasaan keibuan yang menyeruak, begitu manis.


Wajah Sarah beralih menatap Raka dengan malu-malu, saat Raka menatapnya dengan wajah mengagumi.

__ADS_1


"Sayang, kamu cocok memiliki bayi sekarang." Goda Raka.


Wajah Sarah memerah dengan segera.


"Raka benar, sepertinya kalian harus segera memikirkan punya seorang bayi." Edgar melirik pada Lila yang sedari tadi tersenyum melihat ipar cantiknya itu, terpesona dengan bayi yang kini ada di pelukannya.


"Kami tidak hanya memikirkannya tapi intensive membuatnya..." Raka mengerling kepada Sarah, yang mendelik kepadanya.


"Leiden mungkin telah membuat kalian menjadi lebih bersemangat. Kalian tampak lebih bahagia dari sebelumnya." Edgar dan Lila membawa pasangan yang habis berbulan madu itu duduk di ruang tengah.


"Sarah sepertinya lebih bersemangat dari pada aku" Raka duduk mendempet di sebelah Sarah, sambil memeluk istrinya itu, memainkan pipi merah muda baby Dylan yang nampak terlelap dalam pelukan Sarah. Sebentar saja, dia merasa begitu nyaman dalam gendongan Sarah.


Deasy duduk di sebelah Sarah, tak mau jauh dari adiknya.


"Tante Sarah, nenek bilang sebentar lagi punya baby juga seperti mama." Ocehan Deasy membuat Sarah tersipu.


"Nenek bilang begitu?" Raka menowel hidung Deasy yang bangir.


"Iya, nenek bilang begitu. Nanti dede Dylan punya adik lagi dibikinin tante Sarah, jadi Deasy punya adik lebih banyak lagi...!"


Raka tergelak mendengar ocehan Deasy.


Matanya tertuju kepada Sarah.


"Sayang, Deasy sudah tak sabar menunggu adik baru." Bisiknya pada Sarah.


Sarah melotot dengan salah tingkah.


Sarah terdiam, matanya lekat pada bayi yang kini dipeluknya.


Benarkah seorang anak akan membuatnya dan Raka semakin dekat? Benarkah Raka tidak akan pernah menjauh darinya, jika dia mempunyai seorang bayi dengan Raka?


Pertanyaan itu menggelitik hatinya, cinta antara dirinya dan Raka datang begitu cepat, bahkan dia hampir menjadi ragu, membedakan antara kenyataan dan mimpi akhir-akhir ini.


Dia sangat yakin pada perasaannya, tapi apakah sebenarnya Raka benar-benar yakin pada perasaannya sendiri, untuk pernikahan yang terasa seperti berubah arah hanya dalam hitungan belum setahun itu.


Dan jika seorang bayi bisa membuatnya yakin bahwa Raka menjadi miliknya seutuhnya, dia rela melakukan apa saja untuk itu!


Raka merengkuh bahu Sarah dengan lembut.


"Sepertinya kamu benar-benar menginginkan seorang anak sekarang."Goda Raka.


"Jangan kuatir, sayang. Aku akan siap membuatnya menjadi kenyataan" Raka memeluk Sarah dengan penuh percaya diri.


Sarah menatap Raka sesaat. Lalu tersenyum pada suaminya itu, berharap besar Raka tidak hanya menjadikan dirinya pelarian cinta. Karena sejak Raka menyinggung soal Sally beberapa waktu yang lalu, ada sebuah ketakutan menyelinap di lubuk hatinya.


Raka masih mengingat adiknya itu dan cinta lima tahun mereka akankah segera mengubur cinta yang hanya berumur berapa bulan bersama dirinya?


Sarah telah jatuh cinta, dia menyerahkan dirinya seutuhnya pada Raka. Saat seorang istri telah memberikan segalanya pada suaminya, maka ketakutan terdalam yang dia rasakan adalah akan di tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


Dasar pernikahan yang begitu rapuh, apakah cukup untuk Sarah segera mempercayai Raka tak pernah menduakan perasaannya untuk masa lalunya yang begitu lekat jauh sebelum kehadirannya?


Sarah hanya tahu, dia mencintai Raka, lebih dari pada itu, dia hanya tahu harus berjuang mendapatkannya.


"Hey, jangan memandangku seperti itu." Raka mencolek dagu Sarah yang tergagap saat sadar, Raka memperhatikannya.


"Tante Sarah, Dede Dylan jangan dipinjam, ya." Deasy cemberut melihat adiknya itu masih di gendong Sarah.


"Kenapa om Raka sama tante Sarah tidak boleh pinjam? Besok om Raka kembalikan deh, dede Dylan kita pinjam satu malam." Raka memeluk Sarah dan bayi dalam pelukannya itu, seolah-olah hendak membawa keduanya.


"Tante Sarah harus besar dulu perutnya kayak mama, terus simpan dede bayinya di sana. Kalau sudah besar, kasih pak dokter tiupnya. Dede bayinya keluar, om Raka gak usah pinjam dede Dylan. Dede Dylan punya Deasy!"


Deasy merengut dengan lucu.


Semua tergelak melihat polah Deasy yang jenaka itu.


Tiba-tiba, Ponsel Sarah bergetar, seseorang memanggil.


Panggilan dari papa?


Sarah menyerahkan bayi dipangkuannya kepada Raka di sebelahnya. Raka menyambutnya dengan senang, meskipun sesaat dia melirik kepada Sarah yang berubah pias.


Sarah sejenak terpana, sangat jarang papa atau mamanya menghubunginya selama ini. Sejak pernikahannya, hubungan mereka malah begitu canggung dari sebelnya. Ada beberapa kali Sarah memang pernah menelpon sekedar menanyakan kabar, tapi dia masih enggan untuk pulang semenjak merasa di korbankan untuk menikah demi nama baik keluarga itu.


"Sebentar..." Sarah beranjak, sedikit menjauh dari Raka, Edward dan Lila.


"Hallo..."


"Sarah?" Suara papa terdengar dalam.


"Ya..."


"Papa mau bicara denganmu, nak."


"Ya, ada apa, Pa?"


"Mungkin kamu bisa meluangkan waktu malam ini, pulang sebentar."


Sarah termangu, tak pernah papanya bersikap seperti ini. Kecuali ada hal yang begitu penting.


"Ada apa, Pa? Mama baik-baik saja, kan?"


"Semua baik-baik saja...kecuali Sally."


Sarah merasakan seperti di terpa angin beliung. Nama adiknya itu baru saja membuatnya hampir menjatuhkan ponsel di tangannya. Wajahnya seketika merah padam.


Ada apa sekarang?


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2