Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 115 WELLCOME BABY RAE


__ADS_3

"Sayang, maafkan aku..." Raka mendesis, melihat perjuangan istrinya itu melahirkan, begitu menderitanya, bahkan tak lagi merasakan jemarinya di remas-remas oleh Sarah sampai merah membiru.


"Maafkan aku istriku jika membuatmu harus merasakan semua ini sendiri. Andai aku punya kuasa, aku akan membagi tak hanya sebagian kesakitanmu tapi seluruhnya kepadaku." Bisik Raka dalam hati, bersamaan dengan cengkeraman Sarah yang membuat kulit tangannya terkelupas.


Tubuh Raka telah mati rasa, apapun yang di lakukan Sarah untuk sekedar meringankan kesakitannya, Raka rela menanggungnya.


"Ya, Sarah...atur nafas lagi, konsentrasi...sebentar lagi kita bertemu si kecil. Bantu dia keluar, sedikit lagi..." Suara Dokter Yogi hampir tak terdengar oleh Sarah.


Dia hampir menyerah, tapi melihat wajah Raka yang menatapnya dengan raut tegang dan bibirnya yang tak putus mengucapkan kata "I love You" itu seperti sebuah kekuatan yang mendorongnya untuk melewati semua batas kesakitan yang pernah dirasakannya seumur hidupnya.


Cinta seorang suami, membuat seorang istri tidak takut terhadap apapun di dunia ini. Bahkan jika harus memijak bara, menikmati semua macam luka, tak ada ketakutan sama sekali.


Pada satu titik, Sarah menegang dan menggeram sekuat tenaga dengan wajah merah padam, keringatnya mengucur deras membuat rambutnya basah.


Dan di detik berikutnya terdengar suara tangis bayi yang keras memecah ruangan, bersamaan dengan Sarah yang terhenyak di pembaringan.


Raka terpana, memeluk Sarah dengan serta merta, saat dokter Yogi menarik bayi dengan kulit berwarna merah tua, kaki tangan tangan dan kaki kebiruan.


Bayi itu menangis begitu kuat sehingga kulitnya berangsur kemerahan. Seorang bayi mungil laki-laki mengepalkan tangannya, suaranya menantang siapapun yang mendengarnya.


"Terimakasih, sayang...terimakasih." Raka mencium kepala Sarah bertubi-tubi, tanpa di beri aba-aba, dua buliran bening menetes di sudut matanya, sementara Sarah sendiri seketika tak bisa menahan air matanya yang mengalir deras dalam pelukan Raka.


"Itu anak kita..." Bisik Raka, dia tak bisa menahan rasa haru. Meskipun dia adalah laki-laki, tapi tetap saja tak bisa di bendungnya air mata, menumpahkan segenap emosi setelah melihat bagaimana perjuangan Sarah menuju persalinan sampai seorang bayi yang sangat di tunggunya itu memperdengarkan tangisnya.


Seorang perawat membawa sang bayi sementara Sarah masih di bimbing oleh bidan asisten dokter Yogi untuk mengeluarkan plasenta. Meskipun Raka begitu ingin langsung memburu sang bayi tapi dia tak bisa meninggalkan istrinya.


Setelah membersihkan bayi dan lewat observasi sebentar, Raka kemudian diserahkan untuk memegang si mungil menunggu Sarah di bersihkan.


"Aku boleh memegangnya?" Raka menatap ragu pada bayi kecil yang diselimuti kain lembut itu.


"Tentu saja boleh, Ka...peganglah dengan lembut seperti ini." Dokter Yogi mengajari Raka memegang sang bayi.

__ADS_1


"Bayinya Sehat dan kuat, Raka Junior kita ini benar-benar pejuang hebat." Dokter Yogi memberikan selamat pada Raka, bahkan Raka hampir tak bisa mengucapkan kata terimakasih karena tak punya kata-kata lagi.


Dengan hati-hati dan segenap keberanian meskipun gemetar Raka membisikkan do'a di telinga anaknya. Betapa perasaan itu tak bisa di ungkapkan, menatap bayi merah yang menggeliat dipelukannya, dan itu sungguh adalah anaknya, darah dagingnya sendiri.


Bayi mungil itu begitu tenang ketika dia mengucapkan do'a dan harapannya di telinga kecil sang anak. Dia seolah mendengarkan dengan seksama, ketika sang ayah berkata-kata kepadanya.


Beberapa saat kemudian, mama masuk menyongsong, air mata bahagia tampak menggenang di sana.


"Ma, dia mirip Raka...dia anak Raka, ma. Raka sudah berhasil memberikan cucu untuk mama." Ucap Raka dengan rasa kebingungan dengan perasaan yang kini di alaminya.


Haru, senang, lega, puas dan bahagia bercampur aduk begitu rupa.


Mama mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Di elusnya bayi yang ada dipelukan Raka,


"Dia tampan sekali, seperti kamu sayang...sangat tampan." Mama berucap dengan penuh keharuan.


Mama mengurungkan niatnya, membiar papa muda itu mengagumi anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Ayok, sini kita bawa untuk mamanya. Dia sudah siap bertemu mamanya dan sepertinya dia kelaparan." Dokter Yogi mempersilahkan Raka membawa bayi mungil yang kini bergelung nyaman di pelukannya, dia sudah berhenti menangis tapi mulutnya bergerak-gerak seperti mencari sesuatu.


Sarah terpesona saat Raka dengan hati-hati meletakkan bayi mungil mereka di dadanya, airmatanya kembali mengalir di pipinya.


Mulutnya sesaat menganga tak bisa berkata apa-apa, sungguh suatu kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melihat wajah sang anak untuk pertama kalinya.


"Sayang, aku jatuh cinta sekali lagi, pada seorang pria..." Sarah berucap sambil menciumi kepala bayinya.


"Namanya Raefal..." Ucap Raka tanpa memindahkan pandangannya dari sang bayi.


"Sayang, kamu sudah punya nama untuknya?" Sarah sejenak menatap Raka dengan heran, selama ini Raka hanya bilang, dia belum punya nama jika ditanya Sarah tentang kesiapan nama bayi.

__ADS_1


Sekarang dengan ajaib, di menyebut sebuah nama untuk anaknya.


"Aku sudah menyiapkan sebuah nama untuknya bahkan sesaat setelah aku tahu kamu mengandung, dia adalah kebahagian kita dan menjadi pengingat untuk perjuangan dan kehormatan pernikahan kita berdua." bisik Raka sambil memeluk dua orang yang kini menjadi dunianya.


Sarah tersenyum maha manis pada sang suami sementara Raka tersenyum lega melihat kondisi Sarah, sungguh tak berbekas lagi raut kesakitan tadi di wajahnya. Yang tersisa hanya jutaan kebahagiaan yang tersirat tanpa bisa di lukiskan meski dengan seribu macam warna.


"Dia mirip sepertimu, dia tampan sekali." Sarah menoleh pada Raka dengan mata berkilauan.


"Aku pasti lebih tampan darinya, karena aku ayahnya." Raka terkekeh sambil menerima sebuah ciuman di pipinya dari Sarah.


Semua yang ada di dalam ruangan itu tersipu, menyaksikan orangtua baru yang sedang sangat berbahagia itu, tak terkecuali dokter Yogi yang setelah memberi selamat berkali-kali kemudian pamit keluar setelah memberikan beberapa instruksi penanganan ibu dan bayi itu selanjutnya.


Bayi mungil itu menggeliat di dada Sarah, mencari tempatnya menyesap, dia mengenali bau ibunya dan berusaha menemukan tempat untuknya melepaskan lapar dan dahaga.


Betapa indahnya menjadi seorang ibu, ketika dia menjadi tempat hidup dan bergantung seorang anak dari pertama kali Tuhan menghembuskan nafas kehidupan padanya.


Dan Betapa mulianya karunia itu, yang tak semua orang mungkin bisa menerimanya.


Perjuangan seorang ibu adalah cinta yang nyata, sehingga seorang anak menjadi sangat tak pantas memperlakukan seorang ibu dengan tidak hormat, karena setitikpun tak akan pernah bisa membalas perjuangan seorang ibu saat beliau hanya bertahan pada sebilah rambut siap menukar nyawa dengan hidup kita.


...***...


Akhirnya, wellcome buat keponakan online kita, baby Rae yang cute, imut tampan rupawan๐Ÿ˜…


Buat yang penasaran dengan sang bayi dari pasangan Raka dan Sarah, author kasih penampakannya di bawah๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‚ Silahkan di gendong aunty2 online, gantian ya jangan rebutan๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚




Dapat kiss satu-satu dari babang Raka buat semua, terimakasih atas doa dan kesabarannya menunggu bayi mungil ini lahiran, terimakasih sudah ikut mulas dan tegang bersama Papa Raka dan Mama Sarah๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


(Jangan lupa vote, like, komen dan hadiahnya, yaaaa๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ™๐Ÿ™)


__ADS_2