
"Aww..." Tubuh Sally terdorong ke arah Doddy dan dengan reflek Doddy menyambut tubuh Sally.
"Ugh...maaf." Sally meringis sambil memeluk Doddy.
Doddy menegakkan tubuh Sally tanpa ekspresi,
"Kamu tak apa-apa?"
"Kakiku sepertinya terkilir." Sally membungkuk dan mengurut buku kakinya sambil meringis sementara tangan kirinya masih berpegang pada lengan Doddy.
"Bisa antarkan aku ke mobil? rasanya aku agak susah berjalan, sekalian mengambilkan dokumen yang di titipkan oleh mama."
Doddy sejenak menatap kepada tangan Sally yang menggenggam lengannya dengan erat, membiarkan Sally berdiri dengan benar.
"Aku akan mengantarkanmu ke mobilmu." Sahutnya pendek.
"Terimakasih..." Sally bergelayut di lengan Doddy dengan tubuh merapat oleng, sementara Doddy berjalan melewati orang-orang dengan wajah yang di arahkan ke depan. Wajahnya yang ramah itu membeku tegang, terlihat sekali dari rautnya yang sedikit gelisah.
Beberapa pasang mata menatap kepada mereka, seolah iri, bagaimana tidak? Dua orang itu seperti pasangan sempurna, satunya cantik dan seorangnya lagi tampan.
Dengan sedikit sungkan, Doddy melepaskan tangan Sally dari lengannya ketika mereka sudah sampai di dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Doddy berdiri seperti patung hampir tak bergerak.
Seulas senyum merekah di sudut bibir merah Sally melirik pada laki-laki yang menurutnya sedang panas dingin karena dia merapatkan kulitnya tadi ke tubuh Doddy.
"Aku lupa-lupa ingat denganmu..." Sally memecah ketegangan itu dengan suara menggoda.
Doddy tak bergeming, wajahnya menatap lurus ke arah pintu lift. Seolah dia tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Sally.
"Kalau mama tidak mengatakan kamu anak om Ferdian aku tidak mengingatmu sama sekali." Sally merapatkan sedikit tubuhnya kepada Doddy saat pintu terbuka di lantai 5 dan beberapa orang masuk untuk ikut turun ke bawah.
Dengan sengaja dia membuat tubuhnya tepat di depan Doddy, sehingga mereka begitu rapat, sementara Doddy tak bisa mundur lagi karena dia sudah bersandar di dinding Lift.
__ADS_1
4 orang yang baru masuk itu tersenyum pada mereka berdua, seakan mengerti pasangan muda ini mungkin sedang di mabuk cinta.
Begitu keluar dari lift, Doddy melangkah lebar seolah baru bertemu dengan udara.
"Aww..." Sally tampak melangkah dengan sedikit pincang, Doddy berbalik menatap Sally yang tampak berjalan sambil meringis.
Lalu dengan perlahan di tariknya tangan Sally di letaknya pada lengannya supaya bisa berpegang sementara dia berjalan.
Tanpa banyak bicara, dia membawa Sally keluar dari area lobby itu menuju parkiran di mana Sally menunjukkan tempat mobilnya berada.
Begitu sampai di depan pintu mobil Sally, Doddy melepaskan tangan Sally dari lengannya sembari setengah mendorong tubuh Sally menjauh darinya.
"Tidakkah kamu malu? Melakukan tipuan klasik semacam itu?" Suara Doddy terdengar dingin dan datar.
Sally menengadah pada Doddy, dia seperti tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apa...apa maksudmu?" Sally terperangah.
"Kamu tahu kenapa aku membiarkannya? Jangan kamu kira aku tertarik padamu, itu salah besar. Aku hanya tidak ingin kamu malu di depan orang-orang dengan usahamu yang receh itu. Aku selalu di ajarkan oleh orangtuaku untuk memuliakan perempuan, tidak membuatnya di pandang malu di tengah orang banyak. Meskipun sebenarnya yang kamu lakukan tadi benar-benar trik murahan." Doddy mengibaskan lengan bajunya seperti sedang membuang debu, di mana tadi Sally mengaitkan jemarinya dengan mesra.
"Kau...kau..." Sally seperti orang yang tersedak, matanya tak berkedip menatap laki-laki tampan berwajah sedingin es kutub utara ini.
"Kamu kira, aku begitu ingin mendapatkan dokumen itu sampai-sampai begitu saja menjebak diriku pada kemaksiatan. Aku bukan anak kemarin sore, aku tahu benar bagaimana perempuan yang punya harga diri atau mereka yang hanya sekedar mencitrakan dirinya berharga padahal tak punya nilai apa-apa. Perempuan yang menghargai dirinya dengan benar tak akan sembarangan menyentuh laki-laki yang bukan mahramnya." Kalimat itu terdengar tajam dan menohok.
"Kamu...kamu salah paham! Aku tidak sedang berusaha menjebakmu!" Sally menyembur dengan marah, menutupi rasa malu yang menyergap. Dia bukan orang yang biasa di tolak apalagi dipermalukan.
Selama ini dia menelan semua penolakan Raka padanya karena dia begitu ingin memilikinya. Tapi, Doddy, laki-laki yang bahkan hampir tidak di kenalnya itu benar-benar membuatnya begitu malu.
"Sally, aku tahu benar siapa dirimu. Tak perlu mengenalmu lebih jauh untuk membuatku tahu kamu bukan orang yang pantas di percayai. Kamu sendiri yang membuat dirimu rendah. Jika ada laki-laki yang menjatuhkan dirinya pada tipu muslihat seperti itu, dia bukan karena tertarik padamu tapi hanya ingin melepaskan n@fsunya padamu. Perempuan yang tidak bisa memuliakan dirinya sendiri bukanlah perempuan yang pantas di cintai. Seharusnya kamu mengerti itu lebih dari aku."
__ADS_1
Sally membeliak setajam pisau pada Doddy, laki-laki yang tak banyak bicara ini, ketika berbicara ternyata sangat menyakitkan untuk di dengar.
Dia mengira Doddy adalah laki-laki lugu yang mudah terjebak dengan rayu dan kemolekan tubuh, sayangnya ternyata Doddy adalah laki-laki langka, dia memang anak orang kaya tetapi orang tuanya mendidiknya dengan benar. Ayahnya seorang pengusaha bukanlah orang yang buta agama, ibunya memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tapi ibunya memiliki yayasan yang bergerak di bidang sosial dan perlindungan pada anak dan perempuan.
Doddy di besarkan oleh ayah yang keras dan disiplin dan ibu yang mengerti tentang nilai kasih sayang serta penghargaan pada perempuan.
Agama yang kuat di tanamkan selaras dengan kehidupan modern di mana dia di tempa, membuat Doddy menjadi laki-laki yang tahu diri di tengah pergaulannya.
Sally benar-benar salah orang!
Penampilan berkelas Doddy tidak serta merta menutupi ahlaknya. Dia adalah anak baik yang tahu cara memperlakukan perempuan dengan hormat.
Doddy memalingkan tubuhnya dan melangkah hendak meninggalkan area parkiran itu kembali masuk ke dalam gedung, tanpa perduli mulut Sally yang melongo karena shock terhadap perlakuan yang di berikan oleh Doddy padanya.
"Dokumen ini...! Kamu belum mengambilnya!" Sally berteriak di antara kesal dan rasa malu yang menyeruak bersamaan.
Doddy menghentikan langkahnya,
"Aku tidak memerlukannya, karena aku tahu itu hanyalah surat perjanjian baru untukku tanda tangani, supaya aku mengembalikan Saham itu pada ibumu dengan menukar satu malam bersama tubuhmu. Aku sungguh tidak tertarik, Sally...aku bukan orang yang menyukai barang murahan."
Doddy mengucapkan kata-kata itu dengan sikap elegan dan tanpa riak apapun di wajahnya.
Sally hampir saja terjatuh dengan lututnya yang tiba-tiba goyah karena gemetar. untung saja, pintu mobilnya menahan tubuh rampingnya yang seksi.
Sally benar-benar merasa dipermalukan sampai lapisan tanah merah.
(horaaaay, othor double UP lagi hari ini😁 Mari kita nikmati karma mereka pelan-pelan meski memang cerita ini mendekati babak akhir. Othor bukan orang yang suka tergesa-gesa membuat cerita, karena setiap detil pembalasan itu mau othor jabarkan dengan baik, supaya dari setiap alur ceritanya kita bisa menikmatinya😅
Setiap Karma itu selalu datang tepat waktu, dengan berbagai cara tidak selalu datang dengan serta merta, Yang belum VOTE jangan lupa yaaaaa...😅🤭 )
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....