Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 127 AKAR KEBENCIAN


__ADS_3

"Ayah tidak apa-apa?" Sarah menatap sang ayah, Raka segera mengambil Rae dari tangan Sarah.


Dengan sigap Sarah memegang kedua bahu ayahnya, kecemasan memenuhi pias wajah cantiknya.


"Ayah...ayah tidak apa-apa, kan?" Sarah mengulang pertanyaannya dengan nada khawatir.


Ayah Sarah menggelengkan kepalanya,


"Ayah tidak apa-apa..." Sekuat tenaga wajah pucatnya menyembunyikan kesakitan tapi akhirnya dia kalah dengan rasa nyeri yang membuatnya hampir tak bisa bernafas.


"Ayah...!"


Sarah dan Raka berteriak berbarengan, saat sang ayah terkulai di bahu Sarah.


Ayah Sarah pingsan.


...***...


Sarah terpana hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya dari keterangan dokter.


"Bapak menderita cedera di lengan bahunya, sepertinya baru saja melewati operasi pergantian engsel.


Melihat dari hasil tes darah, sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan pada pasien, ditemukan kondisi leukopenia dan trombositopenia yang mengarah pada suatu penyakit yang berhubungan dengan sumsum tulang belakang. Kami akan melakukan pemeriksaan lengkap pada bapak untuk memastikan. " Itulah kalimat yang di katakan oleh dokter sesaat setelah mereka membawa ayah Sarah ke rumah sakit dalam keadaan pingsan.


Yah, hari ini adalah hari kedua, Sarah masih berada di rumah sakit untuk menjaga ayahnya yang meskipun sudah sadar tak mau mengatakan apa-apa padanya tentang penyakitnya. Hasil Lab akan keluar sore ini.


"Ayah tidak apa-apa nak, katakan pada dokter ayah mau pulang." Ayah Sarah menghiba.


"Ayah, terlambat untuk ke Kanada, ayah sudah tak bisa berangkat. Dan lagi aku tak mengijinkan ayah pergi dulu. Biarkan ayah beristirahat di sini."


"Sarah, ayah tidak mau merepotkanmu."


"Aku sama sekali tidak merasa repot."


"Tapi..." Ayah Sarah tampak kehabisan akal, berkelit dari Sarah.


"Ayah, jawab aku dengan jujur. Bahu ayah kenapa?"


"Oh, ini hanya cedera pada saat ayah mengangkat balok memperbaiki gudang ayah. Bukan hal yang perlu di khawatirkan."


"Tapi, kenapa sampai engselnya di ganti palsu?"


"Karena patah."Jawab ayah pendek.


"Separah itukah?" Sarah tergugu, masa hanya cedera di bahu mengharuskan engselnya harus di ganti.

__ADS_1


"Ayah...dokter yang merawat ayah di Kanada tidak mengatakan apa-apa?"


Ayah Sarah menggelengkan kepalanya, seperti tak terjadi apa-apa, meskipun dadanya berdegup kencang, dia sungguh tak ingin sarah tahu penyakitnya yang sesungguhnya.


"Suamimu mana?" Ayah Sarah mengalihkan pembicaraan.


"Dia ke kantornya sebentar nanti dia akan kembali, ada kolega yang ingin bertemu."


Ayah Sarah mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban Sarah.


"Ayah...tinggalah denganku." Sarah menegang tangan sang ayah dengan wajah penuh harap.


"Ayah pasti akan kembali, nak. Cuma sekarang ayah harus kembali ke Kanada...benar-benar harus kembali." Ayah Sarah ingat isi email dari dokter George, tapi dia tidak mungkin mengatakan ini pada anaknya itu.


Terlalu lama di rumah sakit ini, mungkin bisa membuat rahasia penyakit yang di deritanya akan diketahui oleh Sarah.


Dia tidak ingin Sarah sedih lagi, rasanya sangat menyenangkan melihat senyum dan tawa anaknya itu, setelah terpisah begitu lama.


Dulu saat dia melihat terakhir kali, Sarah hanya bayi kecil yang hanya bisa menangis sampai mukanya memerah.


"Katakann pada dokter...ayah harus pulang." Pintanya sambil membalas genggaman tangan anaknya itu. Di rutuknya diri sendiri kenapa harus kambuh pada saat di depan Sarah.


"Winarta..." Seseorang berada di pintu kamar yang terbuka, diantar seorang seorang perawat.


"Aku di telpon Sarah..."


Ayah Sarah sekarang seperti terperangkap, dia tak tahu harus bagaimana. Akibat pingsannya itu ternyata membuat urusan menjadi panjang.


Dia takut semua orang tahu tentang penyakitnya ini.


"Kamu tidak apa-apa?" Setelah menyambut salam dari Sarah, Wijaya, papa angkat Sarah yang juga kakak dari Winarta, ayah kandung Sarah menghampiri adiknya.


"Aku tidak apa-apa, hanya cedera bahuku mendadak kambuh, selebihnya Sarah yang terlalu kuatir." Ayah Sarah terkekeh seolah dia tidak apa-apa.


"Sebentar lagi aku akan pulang. Tiketku gosong gara-gara penyakit ini. Sudah tua ternyata tidak enak." Ayah Sarah benar-benar salah tingkah dengan kehadiran kakaknya itu.


Tiba-tiba seseorang muncul dari pintu, seorang perempuan paruh baya mengenakan stelan rapih, warna hitam. Rambutnya sebagian hitam, sebagian keperakan. Wajah congkak yang sangat dikenal ayah Sarah, dia adalah Mytha Ariane, istri dari kakaknya Wijaya.


Seketika wajah Sarah dan ayahnya merah padam, melihat pada mama angkat Sarah.


"Mamamu memaksa ikut, dia juga mencemaskan Winarta."


Wajah mamanya tanpa senyum itu menyeringai sesaat pada Sarah, dia tak bisa menyembunyikan betapa dia membenci Sarah. Sesaat kemudian pandangannya mengarah lurus mengarah kepada ayah Sarah.


"Akhirnya, kamu pulang juga..." Ucapan bernada sindiran itu terdengar sangat tidak enak di telinga.

__ADS_1


"Ma, kamu sudah berjanji kan tidak mempermasalah soal yang sudah lewat." Tegur papa Sarah pada sang istri yang hanya menaikkan alisnya sambil tersenyum kecil.


"Ya, janji hanya tinggal janji, dia telah bertemu Sarah, aku mau bilang apa. Ayah dan anak sama saja." Entah kenapa, mama Sarah mengucapkan kata-kata itu dan tentu saja membuat pias wajah ayah Sarah semakin merah.


"Aku akan pulang besok ke Kanada..." Ayah Sarah menyahut, Sarah tak pernah melihat bagaimana ayahnya begitu takut pada mama angkatnya itu. Mata yang sangat ketakutan.


Tiba-tiba perawat masuk,


"Selamat sore, bapak ibu...maaf keluarga pasien yang mana?"


"Saya! " Sarah dan papanya menjawab bersamaan.


"Oh, mari ikut saya, karena hasil lab sudah di tangan dokter Orthopedinya, dokter ingin berbicara sebentar dengan keluarga dekatnya."


Sarah dan papanya saling bertatapan, sejenak Sarah melihat ke arah ayahnya yang terdiam di tempatnya berbaring, tampak tegang dan penuh curiga dengan sikap sang perawat.


"Ayah, Sarah tinggal sebentar...Sarah akan kembali secepatnya." Sarah mengikuti Perawat itu, tanpa bicara lagi.


"Aku juga akan ikut..." Papa Sarah tiba-tiba mengikuti Sarah, dia sangat penasaran ada apa dengan adiknya itu, melihat gelagatnya menjadi cukup serius.


...***...


Winarta dan Mytha, dua orang itu saling bertukar pandang, saat hanya mereka berdua yang tersisa di ruangan itu.


Winarta nampak gugup di depan Mytha, meskipun sudah berpuluh tahun tak bertemu. Terakhir kali mereka berbicara adalah saat menandatangi penyerahan bayi Sarah waktu dia masih berusia seminggu, sesaat setelah istrinya Viani meninggal.


"Apakah dengan dirimu pulang bisa membuat semuanya menjadi kembali lagi?" Mytha menyeringai, dia benar-benar sangat membenci Winarta.


"Aku hanya ingin bertemu Sarah sebentar saja." Winarta menelan ludahnya yang terasa pahit.


"Kamu tahu benar, apa yang membuat kita tidak harus bertemu lagi..." Mytha melangkah pelan menuju pinggir hospital bed tempat Winarta terbaring, wajah Sarah lewat di depan matanya sejenak, mengingat betapa berani anak itu menentang dirinya setelah menikah dengan Raka membuatnya semakin membenci Winarta.


"Aku tak akan kembali setelah ini." Winarta menyahut bergetar.


Ada satu akar kebencian dari Mytha pada Winarta, yang membuatnya mendendam sampai mati, bukan hanya sekedar karena Winarta menolak menikahi adik sepupu Mytha puluhan tahun yang lalu.



...Mytha Ariane (Mama angkat Sarah)...



...Sally...


(Ikuti terus kisah perjalanan hidup Sarah, yaaa...🙏 Rahasia demi rahasia mak othor bongkar, bagaimana bermulanya kehidupan pahit di masa lalu yang mengantar Sarah menjadi anak yang di abaikan😅 Apa yang membuat Winarta begitu gentar bertemu dengan Mytha? Ikuti kisahnya di episode berikutnya yaaa❤️❤️❤️)

__ADS_1


__ADS_2