
(Lanjutan Part Bidadari Berihram Putih)
Usai berdoa di Multazam, Doddy dan rombongan jemaah yang laki-laki mencari di mana mamanya dan para perempuan dari rombongan kecil mereka, pada saat itulah Doddy terpana pada seseorang yang berdiri di samping mamanya, dalam balutan kain ihram yang putih bersih di gandeng oleh sang mama, dia seperti seorang bidadari yang baru turun di depan pintu Multazam.
"Assalammualaikum..." Suara Diah yang bening itu begitu merdu di telinga Doddy, andai dia tak ingat diri mungkin sudah dipeluknya perempuan di depannya itu.
"Wallaikumsalam..." Doddy menyahut dengan suara gemetar, lalu entah dorongan dari mana, di raihnya tubuh sang mama dan di peluknya seerat mungkin.
Emosi yang terasa menyiksanya berhari-hari seakan tumpah ruah tak tertahan dan dia lupa jika dirinya adalah seorang laki-laki, saat dia menangis memeluk ibunya sendiri sambil menatap pada Diah yang tersenyum, dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
"Terimakasih, mama...terimakasih..." Hanya kalimat itu yang terus di ucapnya bertubi-tubi, dia selalu berharap tak bisa membuktikan mimpi sang mama bahwa jodohnya ada di depan pintu Multazam, dan kembali pada Diah dengan mengatakan betapa takhyulnya sang mama percaya pada bunga tidurnya.
Tetapi, hari ini, dia bahkan berharap waktu berhenti saat menatap perempuan yang paling di inginkannya dalam hidupnya dari bertahun-tahun yang lalu, berdiri seanggun bidadari dengan menggengam tangan mamanya, seakan mengatakan "Aku datang sebagai jodoh yang ada di mimpi mamamu."
"Sayang, mama tahu kamu sangat mencintainya, bukankah dia gadis yang pernah membuatmu menangis dua hari saat papamu memindahkan kamu sekolah dari Surabaya ke Jakarta sepuluh tahun yang lalu itu?" Goda sang mama sambil menepuk punggung anaknya.
Doddy tak menjawab apa-apa, dia merasa berdosa telah menyimpan prasangka pada sang mama, bahkan mengira kedua orang tuanya begitu menentang hubungannya dengan Diah dan mencoba memisahkan dirinya dari Diah dengan segala cara.
Dengan penuh khidmat dia menyalami semua orang dari rombongan Diah, ayah, ibu dan seorang adik laki-laki Diah, sementara Bella sepertinya tidak di bawa dalam umroh karena mengingat perjalanan itu sangat mendadak, membawa anak kecil juga memerlukan persiapan ekstra.
Kemudian saat Doddy berhadapan dengan Diah, dia sungguh-sungguh kehilangan kata-katanya, mereka berdua berhadapan setelah mama Doddy menghantarnya ke depan Doddy.
__ADS_1
"Katakan sesuatu pada perempuan yang ada di mimpi mama ini." Ucap sang mama sambil tersenyum puas melihat mimik wajah anaknya, sambil melepaskan mereka berdua berdiri hanya berjarak beberapa jengkal saja.
Doddy mengepalkan tangannya, dia menahan diri untuk tidak menyentuh Diah, kecuali memandangnya dengan berjuta makna.
"Aku bahagia melihatmu di sini, Diah...rasanya aku sedang bermimpi." Ucap Doddy dengan suara sedikit bergetar, volumenya begitu rendah seolah tak ingin keluarga yang sedang menatap mereka dengan bahagia itu mendengarnya.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu." Sahut Diah, sungguh terlihat sekali salah tingkah.
"Terimakasih untuk semua kejutan ini, ini benar-benar seperti dalam mimpi." Doddy tak bisa menahan haru biru dalam kalimat yang di ucapkannya.
Diah menundukkan wajahnya tanpa sedikitpun berani mengangkat wajahnya yang merah merona itu.
"Aku mencintaimu melebihi apapun." Jawab Doddy dengan suara tak kalah halusnya.
"Apakah kamu sekarang mempercayaiku?" Tanya Diah lagi, suaranya hampir tercekat di tenggorokannya sendiri.
"Aku mempercayaimu melebihi aku percaya pada diriku sendiri." Jawab Doddy dengan pasti, sekarang dia hampir tak perduli siapapun mendengar mereka berdua.
"Kalau begitu, Jadikan aku halal bagimu..." Diah berucap dengan suara berbisik yang membuat Doddy tertegun kehilangan suara. Dulu, dia yang melamar Diah meminta perempuan itu menikah dengannya, tetapi hari ini dia begitu takjub seakan dia yang sedang dilamar oleh Diah. Dan tentu saja rasanya sungguh luar biasa.
"Kita harus kembali ke hotel karena besok tepat hari jumat bulan syawal setelah Ashar, ada yang harus bersiap untuk melakukan ijab Qobul." Tiba-tiba Papa Doddy tersenyum lebar, meraih bahu anaknya yang lebih tinggi darinya itu.
__ADS_1
"Ijab Qobul?" Doddy ternganga menatap papanya dan semua orang yang tak jauh dari tempatnya berdiri secara bergantian, tatapannya bingung dan tak percaya.
"Rasanya ada seorang anak laki-laki pemberani yang mengatakan beberapa minggu yang lalu di depan orangtuanya, bahwa dia sangat ingin segera menikah karena tak ada alasan menggantung hubungannya lebih lama lagi. Masih terngiang ditelingaku, saat dia mengucapkan akan menghalalkan hubungan karena lebih cepat tentu lebih baik untuk menghindari fitnah...kami orang tua ini, mau apa kalau anak-anak sudah berkehendak keras begitu, berdosa kalau menghambat niat orang untuk beribadah." Papa Doddy tertawa, membuat Doddy tersipu sendiri. Disambut derai tawa semua orang yang tampak bahagia dengan pertemuan sepasang kekasih ini.
...***...
Doddy menatap terpesona ketika melihat Diah melangkah memasuki mesjid Masjid Al-Ijabah, di mana ijab Qobul mereka akan dilaksanakan. Masjid Ijabah ini mungkin tidak sebesar dan semegah mesjid lainnya tetapi memiliki nilai sejarah yang tak kalah indahnya, dan orangtua mereka berharap apapun do'a dan harapan yang di panjatkan oleh kedua mempelai dan keluarga dapat terkabulkan.
Dalam balutan kebaya warna putih yang simpel dengan desain sederhana senada dengan kerudungnya, Diah terlihat begitu anggun dan menawan. Dia di tuntun oleh mama Doddy dan Ibu Diah, untuk di bawa duduk di sebelah Doddy yang sedari tadi gugup dan tegang bukan alang kepalang.
(Akhirnya, semua do'a dan harapan dari para readers akan segera terwujud. Terimakasih telah mengawal dua orang ini sampai menuju halal sebentar lagi...nantikan lanjutannya dan akhir kisah mereka dalam beberapa part ke depan๐ ๐ )
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1