
"Sayang...."Raka meloncat dari tempat tidur hanya dengan celana pendek yang melekat di badan, memburu Sarah yang sepertinya masih muntah-muntah di depan wastafel.
Raka memijat pundak Sarah dengan cemas.
"Rasanya mual, kepalaku tiba-tiba pusing begini." Sarah mengeluh sambil memegang perutnya.
"Kamu sepertinya masuk angin?"Raka menebak sambil tangannya masih memijat-mijat pundak Sarah.
"Sepertinya..."Sarah menyahut dengan suara lemah.
"Ini gara-gara kamu."Tuding Sarah sambil kembali membungkuk di bibir wastafel dan berusaha muntah, meski yang dikeluarkannya hanya cairan salivanya saja.
"Kenapa jadi gara-gara aku?"
"Kamu menyuruhku memakai lingerie tipis ini."Sahut Sarah, dengan nada menyalahkan Raka.
Raka melongo di depan cermin wastafel, mematut tampilan mereka berdua di dalamnya. Satu masih menggunakan lingerie merah maroon, yang satunya hanya menggunakan celana pendek.
"Masa masuk angin gara-gara lingerie...?" Raka mengernyit dahinya, memancarkan kebingungan sekaligus penyesalan.
Sarah membuka kran dan mencuci wajahnya, kemudian berusaha kembali tegak.
"Mungkin kamu kecapean?" Raka mengajukan opsi penyebab Sarah yang tiba-tiba sakit itu.
Pandangan mereka berdua bertemu di dalam cermin, saling mematut.
"Tetap salahmu!"Sarah menyahut, entah mengapa hormonnya seperti tidak stabil. Emosinya menjadi sedikit aneh.
"Kok, salahku lagi?"
"Kamu minta itu terus, berapa kali?"
"Hah...."
"Pura-pura lupa."
Tiba-tiba rasa mualnya datang lagi, Sarah berpegang di pinggir wastafel, Kemudian kembali muntah.
Raka benar-benar cemas, mau memijat pundak Sarah, tangannya di tepis Sarah menolak Raka melakukannya.
"Sayang, kita ke dokter." Tawar Raka putus asa, tapi Sarah melambaikan tangannya sambil menutup mulutnya.
"Ku panggil dokter Bayu, ya..."Raka mengelus lengan Sarah. Dokter Bayu adalah dokter pribadi keluarga mereka.
Tiba-tiba Sarah berdiri dengan tegang, berbalik ke arah Raka dengan mata sebesar kacang polong.
Raka mundur dua langkah, melihat rupa Sarah seperti orang kesurupan.
"Sayang...." Jari Sarah bergerak-gerak.
"Ya...."Raka menyahut, sedikit takut melihat perubahan sikap Sarah.
"Ini tanggal berapa?"Tanyanya dengan masih melotot kepada Raka.
"27." Sahut Raka setelah mengingat sebentar.
Jemari Sarah tampak sedang berhitung, bibirnya komat kamit.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang ter..."
"Sayang...!" Sarah menyela kalimat Raka yang kebingungan dengan volume tinggi, dia melangkah mendekati Raka, memegang kedua lengan suaminya.
"Jangan-jangan aku hamil." Desisnya dengan mata berbinar bulat.
__ADS_1
"Hah!"Raka tercengang, tidak yakin dengan yang di dengarnya.
"Hamil?" Raka mengulang dengan suara kebingungan.
"Sepertinya aku telah terlambat dua minggu dari jadwal haid. Jangan-jangan aku hamil?" Sarah bergumam.
"Kita sudah pulang dari Leiden, sebulan lebih, dan aku belum datang bulan..."Sarah mengguncang tubuh Raka, meskipun dirinya sendiri tampak ragu.
Raka tak bisa berkata apa-apa, secara reflek dia memeluk Sarah kemudian menaikkan pinggang istrinya itu. Mencium istrinya itu bertubi-tubi.
Rasa bahagia dan haru, seperti menyerbu dadanya sampai-sampai dia tidak bisa bersuara.
"Aku jadi papa?" Mata Raka berbinar-binar begitu senang.
"Tapi..."Tiba-tiba Sarah menahan bibir Raka dengan telunjuknya.
Raka mendelik menatap istrinya yang masih melayang dalam pelukannya.
"Belum tentu hamil."Suara Sarah terdengar ragu.
"Eh, apa maksudmu?"Raka tambah mendelik mendengar pernyataan istrinya.
Perasaan senang itu seperti buyar mendadak, seperti habis di berikan hadiah poleh seseorang lalu di ambil lagi gara-gara salah alamat.
"Orang hamil harus di tes dulu, kalau positif berarti hamil." Sarah menyahut seperti orang bego.
Raka menurunkan Sarah dari pelukannya, raut wajahnya mendadak berubah.
"Kita harus ke dokter kalau begitu." Raka menarik tangan Sarah.
"Tunggu dulu."
"Tunggu apa lagi?"
"Tidak usah ke dokter!"
"Beli tes pack saja."
"Tes pack?"
Sarah menganggukkan kepalanya. Sejenak Raka menatap Sarah sedikit bingung.
"Beli di mana?" Raka bertanya, dia benar-benar seperti orang bingung.
"Ya di apotik, sayang. Masa di bengkel." Sarah menyahut dengan wajah cemberut.
"Okey...aku ke apotik sekarang, kamu jangan keluar sampai aku datang." Raka bergegas keluar dari kamar mandi.
"Tapi, aku harus membuat sup untuk mama..."
"Ah, biar mbak Marni saja! Nanti ku kasih tahu mama, kamu sedang tidak enak badan!" Raka mengenakan mengenakan bajunya dengan secepat kilat.
"Sayaaaang...!" Sarah berteriak dari pintu kamar mandi melihat Raka mengambil Kunci kontak mobil dari atas meja hendak melangkah membuka pintu.
"Kenapa?" Raka berbalik dengan gugup, mendengar teriakan Sarah.
"Masa kamu keluar cuma pakai kolor begitu."Sarah tersipu melihat penampilan Raka.
Raka memandangi badannya sendiri. Dia sudah menggunakan sebuah Tshirt, tapi bawahannya hanyalah celana pendek tidur.
Raka menepuk jidatnya sendiri, dia benar-benar panik, bingung dan penasaran dalam waktu bersamaan. Karena tergesanya, dia melupakan kalau dia belum berpakaian dengan benar.
Raka setengah berlari menuju lemari, mengambil celana denim short dan menggantikan celana kolor model boxernya itu, dengan wajah merah.
__ADS_1
"Sayang...."
"Kenapa lagi?"
"Apotik belum buka sepagi ini."
"Aku cari apotik yang 24 jam open, pasti ada!"
Raka segera menghilang di balik pintu, tidak perduli lagi dengan apa yang di katakan Sarah, yang dia tahu adalah segera mendapatkan test pack dan memastikan istrinya itu hamil atau tidak.
Sarah masuk kembali ke kamar mandi, lalu mengguyur badannya di bawah shower, berharap mengurangi pusing yang tiba-tiba saja datang sepagi ini.
Dia masih ragu apakah ini gejala hamil, ataukah perasaannya saja yang mungkin merasa terintimidasi dengan harapan mama, yang begitu menginginkannya segera hamil.
Benaknya melayang-layang ke sana kemari, pada Sally yang sangat menginginkan Raka, pada kata-kata kakak iparnya Lila yang mengatakan bahwa seorang anak akan mengikat cintanya dengan Raka menjadi lebih kuat. Lalu pada mama yang begitu berharap seorang cucu darinya dan Raka.
Dan terakhir, benaknya berhenti pada wajah suaminya sendiri, Raka.
Raka yang dulu tak pernah perduli dengannya, yang tak pernah tertarik padanya bahkan tak pernah mencintainya pada saat menikahinya.
Sekarang begitu pengertian dan menunjukkan kasih sayang serta cinta yang berlimpah.
Betapa beruntungnya mendapatkan suami seperti Raka dan keluarga besar Raka yang begitu menyayanginya.
Rasanya semua kesedihannya di masa lalu terbayar lebih, dengan kebahagiaan yang di dapatkannya sekarang.
Sarah mengelus perutnya tanpa sadar, betapa dia berharap dia benar-benar hamil sekarang untuk bisa membalas semua cinta yang kini di berikan padanya dengan begitu banyak.
Dia benar-benar menginginkan seorang bayi, yang akan menyatukan dirinya dengan Raka dan kehidupan Raka, sebagai tanda cinta mereka berdua.
...***...
Sarah sudah menunggu kedatangan Raka dengan tak sabar. Rasanya kepergian suaminya berburu test pack ini terasa begitu lama.
Saat dia sudah berpakaian rapi dan tengah menyisir rambutnya di depan cermin, Raka tiba, membuka pintu kamar dan berdiri di sana dengan nafas agak terengah-engah, karena buru-buru dan tak sabar.
"Sayang, aku sudah mendapatkan test packnya." Senyum Raka merekah dengan wajah puas kepada Sarah.
"Ternyata ada apotik yang buka sepagi ini."
Sarah menyambut goody bag yang di serahkan Raka. Bungkusan itu, terasa terlalu besar dan lumayan berat untuk ukuran sebuah test lack
Ketika Sarah membuka mulut goody bag itu, matanya melotot pada Raka.
"Sayang..." Sarah menatap suaminya itu dengan raut geli
"Itu test pack kan? Sudah ku tanya dengan apotekernya. Itu test pack untuk periksa kehamilan" Raka menjawab dengan wajah deg-deg an, rasanya tidak ada yang keliru.
"Iya, ini test pack, tapi...tidak harus di beli sebanyak ini juga. Satu atau dua sudah cukup." Kata Sarah begitu geli dengan euforia suaminya itu.
Di dalam goody bag itu, mungkin terdapat satu lusin test pack dengan beraneka merk.
"Merknya banyak, aku bingung pilih yang mana." Jawab Raka sambil menggaruk kepalanya, alis tebalnya yang bagus itu naik, dengan senyum tanpa dosanya seperti biasa.
Yuk, Vote novel ini, buat yang suka....☺️
Dukungan kalian adalah nafas author😅
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...Like dan komen kalian selalu author nantikan 😊...
__ADS_1
Nantikan part selanjutnya....
Lope-lope berhamburan dari Sarah dan Raka❣️❣️