
Mata Sarah berbinar-binar menatap Raka.
"Ada hadiah lagi?"
"Iya."
Raka menunjuk saku kanannya sambil mengedipkan mata.
Sarah menadahkan tangannya, dengan rasa penasaran.
Raka menggeleng dengan jenaka.
"Kamu harus mengambilnya sendiri, sayang..."
Kata Raka sambil mendekatkan badannya lebih dekat lagi.
Sarah dengan tersipu, merogoh ke saku celana Raka dan menarik sebuah kotak perhiasan kecil yang begitu elegant dara warna hitam.
"Bukalah...." Raka tersenyum melihat mata Sarah yang melotot padanya.
Dengan hati-hati di bukanya, dan secara refleks tangan kanan Sarah terangkat, jemarinya menutup mulutnya yang setengah terbuka.
"Ini...indah sekali...."Sarah menatap kalung dari rantai emas putih dengan liontin bermata berlian yang sangat indah. Kalung itu dalam kesederhanaan desainnya tak bisa menyembunyikan kemewahannya.
"Ini, untukku?" Tanya Sarah dengan takjub.
"Ya, iyalah...masa untuk bi Asih?"
Sarah memeluk Raka dengan rasa bahagia yang tak bisa di ungkapkan. Diciumnya pipi Raks kiri dan kanan berkali-kali.
"Terimakasih, suamiku Sayang...."Bisik Sarah di telinga Raka.
Raka tertegun sejenak mendengar kalimat itu, pertama kali dia mendengar kalimat seindah itu dari mulut Sarah yang cenderung sulit mengungkapkan perasaannya dengan terbuka, kecuali sedang bercinta!
Raka tersenyum sendiri,
"Ucapkan sekali lagi, sayang." Pinta Raka di telinga Sarah.
""Terimakasih...." ucap Sarah sambil memeluk leher Raka dengan erat.
"Bukan yang itu...?"
"Yang mana?" Sarah melonggarkan pelukannya dan mendelik pada Raka.
"Yang bagian, suamiku sayang itu...."Raka pasang raut menghiba.
"Terimakasih, suamiku sayang...suamiku tercinta, suamiku ter...." Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya yang berapi-api penuh semangat itu, Raka sudah mengunci bibir basah Sarah dengan bibirnya sendiri.
"Sudah, sayang...jangan kebanyakan, sisakan untuk besok gombalnya." Raka terkekeh.
"Ini bukan gombal!" Sahut Sarah dengan cemberut.
"Ini serius?" Raka berpura-pura memasang wajah terkejut.
"Aku tak biasa menggombal seperti kamu, sayang." Sahut Sarah dengan manja.
"Aduh...!" Raka memegang kepalanya,
__ADS_1
"Aku sebentar lagi bangkrut, karena demi mendengarmu memanggilku begitu, aku harus membeli berlian lebih banyak lagi." Canda Raka.
Sarah memcubit paha Raka dengan gemas, lalu mereka berdua saling tertawa. Betapa indahnya saat-saat seperti ini, andai saja waktu bisa di hentikan sejenak, Sarah akan memilih tetap seperti ini.
"Sayang, boleh ku pakaikan?"Tanya Raka, kemudian.
Sarah menyodorkan kotak di tangannya pada Raka.
Dengan hati-hati Raka mengambil kalung dengan model begitu simpel tapi sangat indah itu. Kilauan Berlian itu menyiratkan bahwa benda itu sungguh sangat berharga.
Raka memasangkan kalung liontin bermata berlian itu pada leher jenjang Sarah yang putih itu. Wajah mereka berdua begitu dekat, bahkan desah nafas mereka terdengan saling menyahut di telinga.
Sarah tersenyum, seperti lukisan yang indah, dengan kilat mata yang tak bisa digambarkan
Raka tersenyum puas, kalung itu seolah menyatu dengan kulit Sarah. Benar-benar cocok dan sempurna.
"Sangat indah." Raka menatap istrinya itu.
"Sayang sekali...."Pias wajah Raka berubah mendadak.
"Kenapa?" Sarah menatap wajah suaminya itu dengan kuatir.
"Keindahan berlian ini tak bisa mengalahkan kecantikan istriku." Raka menjawab dengan wajah penuh sesal.
Sekarang cubitan selanjutnya, mendarat di paha Raka yang lain. Raka hanya menyeringai, kemudian tertawa melihat wajah istrinya itu merona malu-malu.
"Ini serius sayang, bukan gombal!" Raka menarik leher isterinya itu, mencium dahinya dengan lembut.
"Untukmu, akan ku beli apapun di dunia ini."Bisiknya. Sarah melotot pada Raka, mendengar pernyataan itu. Terpesona seperti seorang anak yang mengagumi mainan yang sangat di inginkannya.
Suaminya ini memang paling suka menggodanya.
Mereka berpelukan hangat di atas tempat tidur, setelah Raka membaringkan Sarah dengan ciuman panjang yang penuh gairah.
"Sayang...." Sarah berucap pelan di dalam pelukan Sarah.
"Hmm...."
"Aku lapar."Desah Sarah manja. Segera dia sadar, mereka belum makan setelah pulang dari klinik dokter Yogi sore ini.
"Yuk, kita turun.Mbak Marni pasti sudah masak sesuatu." Raka melompat dari tempat tidur dengan semangat.
"Babynya papa pasti lagi lapar juga, biar papa suapin." Raka menarik tangan Sarah untuk bangun dan bergegas.
Tapi Sarah nampak enggan.
"Kenapa? mau di bawa ke sini?" Raka menaikkan alisnya, barusan istrinya ini bilang lapar sekarang bergerak dia pun malas. Apakah orang hamil akan seaneh ini?
Sarah menggeleng, sambil menatap suaminya.
"Aku mau bakso."Jawab Sarah pendek.
"Bakso?"Raka melongo, apakah ini yang namanya ngidam itu?
"Sayang, kamu ngidam bakso, ya...?"Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mana ku tahu, cuma pengen saja makan bakso, tapi baksonya yang di seberang apartemenku. Aku mau yang itu." Sarah memasang raut wajah yang begitu menginginkan.
__ADS_1
"Eh, tapi...aku tak suka pangsitnya..."
"Ayolah kalau begitu, sebelum kamu berubah fikiran lagi." Raka menarik tangan Sarah.
"Aku mandi dulu. Badanku gerah."
Raka hanya menari nafas dengan pasrah dengan sikap Sarah yang menjadi agak cerewet ini.
Dia ingat apa yang dikatakan dokter Yogi tadi padanya,
"Saat istrimu hamil muda, kamu harus ekstra sabar karena perubahan hormon akan menyebabkan ibu mengalami suasana hati yang naik turun secara drastis. Ini namanya mood swing." Bisik dokter Yogi tadi, sebelum mereka pulang.
"Mungkin ini yang dinamakan mood swing itu." Raka menatap punggung istrinya yang berjalan dengan santai ke arah kamar mandi.
...***...
"Sayang, baksonya tadi kurang terasa kuahnya. Hambar." Sarah berkomentar sambil menghempaskan badannya di jok mobil Raka yang empuk.
Mereka baru saja keluar dari depot bakso di seberang apartemen Sarah.
"Kan ada saos dan kecapnya." Raka menyahut setelah memasang belt safety dan mulai menghidupkan mobil.
"Aku tidak suka pakai saos."
Raka melirik ke wajah Sarah yang tidak puas, Raka sekarang benar-benar melihat sisi lain dari Sarah saat sedang hamil.
Biasanya Sarah orang yang tidak terlalu banyak omong dan jauh dari cerewet, sekarang dia yakin, beberapa bulan ke depan, harus menabung kesabaran dan menikmati proses ini. Raka tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu mesem-mesem begitu?" Sarah merengut. Raka segera mengganti ekspresinya, alamat ngambek nanti si istri ini, bisa barabe.
"Eh, kita lewat rumah dulu, aku mau mengambil beberapa baju dengan desainku yang belum selesai." Pinta Sarah sambil menunjuk ke bangunan bangunan lux bertingkat yang ada di seberang jalan, tempat apartemennya berada.
"Siap, sayang!"
Tidak lama mereka sudah memasuki tempat parkir di depan apartemen.
Sarah turun lebih dulu dari mobil, Kemudian matanya tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dari mobil yang mereka, laki-laki tinggi dengan posisi bersandar di pintu mobil yang sangat di kenalnya,
mobil sport porsche 718.
"Dion..." Sarah memanggilnya untuk meyakinkan apa yang di lihatnya.
Dion menoleh pada asal suara yang sangat familiar di telinganya.
"Cay...aku tahu kamu pasti pulang." Suara Dion terdengar serak, langkahnya yang gontai menyongsong Sarah dengan sempoyongan.
Lalu tanpa aba-aba memeluk tubuh Sarah yang berdiri seperti patung di tempatnya berdiri.
Dan di detik berikutnya sepasang tangan menarik tubuh Dion dengan kasar dan sebuah tinju mendarat mulus di wajah Dion yang merah padam.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...
__ADS_1