
"Dia sudah meninggalkanku...dia mencampakkanku." Wajah Bram mengeras dalam kesedihan yang tak bisa disembunyikannya.
Diah terdiam, sesaat dia melirik kepada Bram sambil menunduk persis di depan lelaki yang di pujanya itu.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Bram sekali lagi, pertanyaan itu menggantung di udara,
Diah tak pernah menyangka, akhirnya laki-laki yang selalu di sukainya itu memintanya menjadi kekasihnya.
"Aku tahu kamu mencintai Sally..." kalimat itu terdengar bergetar di ucapkan oleh Bram.
"Tapi dia tak akan pernah lagi bisa kumiliki, aku ingin kamu menggantikan tempatnya."
"Apakah itu bisa?" pertanyaan naif yang penuh keraguan itu, sudah cukup membuat Bram tahu, Diah tak akan menolaknya.
Bram berdiri, bau minuman menguar dari mulutnya. Di raihnya wajah Diah dengan kedua tangannya. Wajah Diah perlahan seperti raut Sally yang sedang bingung. Bram terpana sejenak mengerjap matanya, dan mendapati Diah yang mematung dengan tegang.
"Jangan pergi juga dariku," Bisik Bram, sambil mendekatkan wajahnya kepada wajah Diah. Jemari gadis itu mengepal. Dia seperti arca yang tak bergerak, terpasung di lantai.
"Apakah kamu mencintaiku, Diah?" tanya Bram.
Diah yang gemetar, karena wajah mereka hanya terpisah sejengkal itu, menatap Bram tak berkedip.
Dia takut, tapi cinta yang disimpannya diam-diam pada Bram berpacu mengusir rasa takutnya itu. Yang tertinggal hanyalah kepasrahan. Dia tak pernah jatuh cinta sedalam ini pada seseorang, dia tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, hanya karena dia sangat menyukai lelaki brengsek bernama Bram ini.
Begitu terobsesinya seorang Diah muda pada laki-laki terpopuler di sekolahnya itu.
Memang aneh pesona laki-laki yang playboy, dia seperti magnet bagi beberapa perempuan, bahkan kharisma mereka bisa membuat jiwa polos seseorang dengan suka rela menukar harga dirinya demi memeluk seorang lelaki yang sesungguhnya tak layak menerima pengorbanannya.
Dan Diah, adalah satu dari banyak perempuan yang terjerat pada pesona laki-laki seperti itu. Bahkan dia lupa semua cita-citanya, dia lupa kalau dia seorang kakak yang kelak akan menjadi panutan adik-adiknya, dia lupa segala harapan orang tua yang di taruhkan di pundaknya, dia sungguh lupa jika masa depannya masih begitu panjang, karena kini yang ada di hadapannya seorang pria yang mampu membentangkan suatu perasaan hebat bagi dirinya dengan berhasil memiliki laki-laki yang di gilai banyak perempuan itu.
Diah tidak tahu jika itu adalah kesalahan yang akan disesalinya di kemudian hari, satu kebodohan karena cinta mudanya yang naif, yang kelak akan membuatnya menderita. Kebodohan itu yang memperdayanya dengan topeng peasaan cinta.
"Diah, jawablah aku, apakah kamu mencintaiku?" Kedua telapak tangann Bram menangkup pipi Diah yang terasa dingin.
Diah menganggukkan kepalanya tanpa berkedip. Sejurus kemudian, Bram mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, lebih dekat lagi dan bibir panas itu membuka menempel pada bibir Diah yang terkatup tegang.
__ADS_1
Diah tak bisa mengungkapkan, bagaimana rasanya ciuman itu, ciuman pertama yanng pernah dirasakannya. Terasa basah, nyaman sekaligus menakutkan. Dadanya bergetar hebat, tanganya mengepal di sisi kiri kanan badannya.
Bram menyasar dengan lembut diawalnya, menciumi bibir yang terkunci kaku itu. Perlahan dan prnuh penghayatan.
Dia mengerti, dari respon yang diberikan Diah, gadis ini tak pernah melakukannya. Gadis ini buta sama sekali tentang bercumbu.
"Diah, kamu cantik sekali." Kalimat pamungkas seorang laki-laki dalam menahlukkan perempuan adalah memujanya, dan dalam rendahnya pengalaman Diah, gadis remaja yang baru saja tamat SMA itu terpesona mendengarnya.
Sebuah pengakuan laki-laki tentang keindahannya, adalah titik kelemahan perempuan.
Diah hanya pasrah ketika setelah itu, Bram menciuminya dengan liar.
Dan ciuman itu meningkat menjadi cumbuan panas, membuat Diah benar-benar tak berdaya.
Perasaan inginnya, gairah aneh itu membuatnya tak memberikan perlawanan ketika Bram membaringkannya di atas kasur hotel, jemari Bram berkeliaran ke sana kemari mencari titik-titik yang sangat di kenalinya untuk membangkitkan kewanitaan seorang remaja polos itu.
"Jangan..." Diah menahan jemari Bram ketika jari itu menyusup ke bagian dadanya yang tak pernah tersentuh. Dia sedikit gelagapan.
"Kenapa?" Bram yang diburu n@fsu menahan nafasnya yang mulai memburu, bahkan sudah mulai tak berirama lagi.
"Jangan takut, kita akan melakukannya pelan-pelan...kamu pasti menyukainya." D3sah Bram parau, di ujung telinga Diah. Nafasnya menghela, panas dan menggelitik.
Diah memejamkan matanya, membiarkan Bram melucutinya. Yang ada di otaknya hanyalah, Bram sekarang adalah kekasihnya. Tak ada yang lain.
"Jangan..." Sekali lagi Diah menahan pergelangan tangan Bram yang mulai turun menjalar kebawah pusarnya, dia merinding dalam kepasrahannya. Penolakan itu terasa bimbang di utarakan.
"Aku akan mengajarimu..." Kata Bram sambil menyeringai,
"Jika ini adalah yang pertama bagimu, kita bisa melakukannya di dalam gelap..."
Lampu kamar itu dimatikan, hanya cahaya remang yang mengintip dari dalam kamar mandi. Tubuh mereka serupa siluet. D*sah nafas ketakutan dan tegang Diah beradu dengan nafas Bram yang tersengal tak sabar.
Diah hanya merasakan kulitnya dingin , saat tak sehelai kainpun melekat lagi, tapi dia tak melihat dengan jelas tubuhnya yang ditel@njangi Bram.
__ADS_1
Diah menggigit bibirnya, menikmati setiap sentuhan aneh yang membuat darahnya bergolak. Gairah yang tak pernah dirasakannya itu menghampiri, beradu dengan rasa takut. Bayangan orangtuanya yang selama ini adalah pengingatnya dalam salah langkah, mengabur semakin jauh.
Gadis ini terjebak dalam perasaan penasarannya, rasa yang benar-benar aneh ini begitu menuntut untuk dipuaskan meski dia sudah berisaha sadar namun akhirnya dia menyerah, otaknya sungguh tak singkron dengan tubuhnya.
Dari leher sampai dadanya terasa basah oleh ciuman Bram, semakin lama semakin jauh dan ketika sesuatu yang aneh itu menghujam sela p@h@nya, dia terpekik.
Nyeri, perih membaur, melesak memaksa untuknya berontak tapi di waktu yang sama dia menginginkan kesakitan itu tetap di sana.
Gairah gila itu, memaksa Diah menggeliat, dalam kegelapan itu dia mengarungi rasa pedih yang bermuara kepada nikm@t, sayangnya kenikm@tan itu hanya sesaat, karena setelah itu, Bram memberikannya kepedihan hampir di sepanjang hidupnya bersama Laki-laki yang di pujanya itu.
Cinta labil masa remaja yang tak bisa di atasinya, membuatnya harus kehilangan kegadisan di tangan orang yang menurutnya sangat di cintainya, bukan sebagai pengantin yang di impikan para gadis tetapi di ujung malam yang haram pada sebuah hotel.
Bram begitu bern@fsu memperdaya Diah yang lugu dan sedang jatuh cinta padanya itu, Bahkan malam itu dengan membayangkan percintaan yang panas dengan Sally dia telah menghancurkan masa depan seorang gadis yang begitu mempercayainya.
"Ugh!" Bram melenguh, tersadar dari lamunannya, dia menggigit bibirnya sendiri. Betapa anehnya perasaannya sekarang, yang tiba-tiba merasa dirinya begitu kotor dengan segala tipu muslihatnya pada Diah, bahkan hampir delapan tahun dia memenjarakan Diah sebagai pelampiasan kemarahannya kepada Sally, yang ketika dia berada di hadapan Sally, dia tak berdaya meluapkannya.
Bunyi handphonenya menyadarkan dirinya dengan sepenuhnya,
Sebuah panggilan dari Sally.
Bram sesaat menatap handphonenya yang tergeletak di atas tempat tidur.
Pada panggilan kedua, Bram mengangkatnya.
"Kenapa Diah masih bekerja dengan Sarah??!" Pertanyaan yang kebih tepatnya teriakan itu singgah ditelinga Bram begitu dia menyambut panggilan dari Sally.
Bram terdiam, dia tak menjawab.
"Kamu dengar tidak? Kenapa kamu diam?" Sepertinya Sally benar-benar meradang.
"Aku tak bisa melarangnya." Akhirnya Bram menjawab.
(Satu kesalahan bisa saja membuat petaka yang kita sesali seumur hidup, saat kesadaran kita dikendalikan oleh n@fsu🙏☺️ Hari ini double UP yaaaa🤭)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....