Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 46 SUAMI SEMPURNA


__ADS_3

Tiga hari di dalam apartemen Raka di Leiden benar-benar menyenangkan.


Sarah merasa, menjadi istri yang seharusnya dan sebenarnya.


Setiap pagi, terbangun dengan seseorang di sebelah, terlelap dengan nyenyak dan tenangnya seperti bayi yang bergelung manja.


Dan orang itu adalah satu-satunya yang di harapkan Sarah berada di sampingnya.


Bukankah itu adalah kebahagian yang hakiki?


Berada di pelukan orang yang kita cintai, tanpa merasa takut terhadap apapun, itulah satu-satunya yang di inginkan setiap perempuan. Dan Sarah telah berada dalam lingkup kebahagiaan itu, adakah yang di inginkannya lagi?


Setiap malam adalah malam pengantin bagi mereka berdua, tak pernah puasnya Raka membuat Sarah kelelahan sekaligus terlempar dalam kepuasan dan kebahagiaan sepanjang malam di bawah langit Leiden yang selalu menjadi background kemesraan mereka.


Raka membuat mereka seolah-olah bercinta di alam bebas, di bawah bintang-bintang musim semi. Mereka seolah ingin membayar lunas setiap jarak dan kesenjangan yang telah di ciptakan di awal pernikahan mereka.


Setiap pagi, mama yang cerewet juga seperti alarm, menelpon dengan senangnya, sekedar memantau proyek pembuatan cucunya itu.


"Mama mau yang kembar ya..."Pinta mama.


"Memangnya bikin kue donat apa ma, bisa di request begitu." Raka menjawab sambil tertawa.


"Pokoknya mama mau kembar! Mama sudah punya cucu dua, tapi belum punya yang kembar." Mulut mama cemberut.


"Memangnya mama ada tips gitu, biar Raka bikin kembar lima langsung" Raka ngakak.


Sebuah cubitan mendarat di pinggang Raka.


"Memangnya aku pabrik bayi, yang bisa hamil langsung lima?"Sarah merengut setengah berbisik.


"Tenang saja, aku suami siaga, siap melayani dan mendampingi istri hamil kemana pun..."Bisik Raka.


"Aku bukan kucing sayang, perutku segede apa kalau hamil lima sekaligus." Sarah melotot.


"Kamu tetap kucing cantik, biar perutmu sebesar drum."


"Masa kucing hamil cantik?"


"Pokoknya mama mau secepatnya cucu mama jadi. Sarah tidak boleh pulang ke indonesia dulu kalau belum hamil." tiba-tiba mama menyela dari seberang sana.


"Butik Sarah gimana ma?" Sarah bertanya, bingung dengan semangat nenek ini, soal urusan hamil.


"Tutup dulu." Jawaban pendek mama membuat wajah Raka sumringah.


"Mama the best...!"


Ritual pagi, membahas soal bayi dan hamil adalah favorit Mama dan Raka.


Sarah tersenyum sendiri, tangannya sibuk menghancurkan kentang menggunakan saringan.

__ADS_1


Siang ini, Sarah memasak untuk suaminya, swedish meatbeall with mashed potatto.


Hari terakhir ujian semester Raka, dia mau membuat makan siang yang spesial tapi yang ada di kulkas hanya beberapa bahan ini.


Beruntung Sarah cukup kreatif mempergunakan apa yang ada meskipun bahan-bahan sederhana dan bisa menyulapnya menjadi masakan yang lezat.


Setelah melelehkan butter dan memasukkan kentang yg sudah di haluskan, Sarah menambahkan susu cair dan keju parut lalu mengaduknya sampai rata.


"Sayang..."Raka tiba-tiba muncul begitu saja di dapur kecil itu, memeluk Sarah dari belakang.


Sarah hampir terlonjak karena terkejut, tak menyangka Raka datang tanpa suara dan sudah dengan nakalnya memeluknya.


"Sudah pulang?"Sarah berbalik sambil menunjukkan tangannya yang berlepotan, masih terbalut sarung tangan plastik.


"Aku tak sabar pulang..."Jawab Raka sambil melepaskan pelukannya, tapi sempat-sempatnya mendaratkan satu kecupan di bibir Sarah yang merona.


"Ujianmu bagaimana?"Sarah melanjutkan pekerjaannya.Menggoreng bola-bola daging yang sudah di bentuknya dari tadi.


"Sudah selesai...!"Raka masih menempel seperti perangko di belakang punggung Sarah, yang hanya mengenakan dress pendek bertali.


"Cepat sekali?"Sarah pura-pura acuh dengan kehadiran Raka.


"Jawabannya, ku tulis namamu semua..."Jawab Raka terkekeh.


Wajah Sarah seketika merona, mendengar jawaban Raka. Dulu dia menganggap Raka adalah manusia es yang sangat dingin, yang tak punya perasaan, tapi sekarang dia merasa sangat salah menilai suaminya ini.


Raka dalam kemandirian dan kedewasaannya adalah lelaki yang manja, romantis dan sedikit humoris. Dan yang paling menyenangkankan, dia begitu penyayang.


"Sini..." Sarah menyendok adonan kentangnya setelah menaburkan garam. Lalu menyodorkan ke mulut Raka.


Dengan patuh Raka membuka mulutnya. Lalu memakannya.


"Bagaimana?" Tanya Sarah


"Bagaimana apanya?"Raka menaikkan alisnya.


"Rasanya??" Sarah mendelik.


"Oh..."


"Kok Oh?"Sarah protes mendengar tanggapan suaminya yang tak berperasaan.


"Emmm..."Raka mendekat, lalu dengan perlahan menyingkirkan sendok yang masih menggantung di depan wajahnya.


Lalu tangannya mengait pinggang Sarah dan bibirnya perlahan menempel ke bibir Sarah yang melotot kebingungan. Perlahan lidahnya menjilat bibir Sarah dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menariknya.


"Rasa potattonya, tak semanis bibirmu Sayang..." Raka menjilat bibirnya sendiri dengan nakal.


Sarah mendorong tubuh Raka dengan wajah cemberut, merasa Raka telah mempermainkannya.

__ADS_1


"Orang cuman tanya, rasanya keasinan atau bagaimaina, bukan urusan yang itu." Sarah mencibirkan bibirnya.


"Ganti baju sana, sebentar lagi kita makan."


Sarah berbalik sambil mengangkat bola-bola dagingnya yang hampir terlalu matang.


Raka tertawa senang, berhasil membuat istrinya itu salah tingkah sendiri, lalu naik ke atad dengan suara tawa yang masih terdengar.


Sarah merengut, sambil menumis bawang putih dan bawang bombay hingga harum dan memasukkan susu evaporasi dan terigu. Mengaduk-aduknya sampai tidak menggumpal dan menambahkan keju parut, garam, merica, kecap asin dan kecap inggris lalu masukkan bola daging.


Beberapa saat kemudian, masakan sederhana itu telah siap di atas meja.


Raka sudah duduk dengan tak sabar sambil matanya tak lepas dari sang istri yang hilir mudik sedari tadi menyiapkan makan siang.


Kemeja abu-abunya telah berganti Tshirt santai yang elegan.


Mereka berdua, makan dengan santai, seperti sepasang suami istri yang sedang di mabuk cinta.


"Sayang..."Raka menatap Sarah dengan wajah yang sedang asyik mengunyah makanannnya.


"Hm..."


"Kamu benar-benar mau melihat bunga tulip di Keukenhoff?"


Pertanyaan Raka membuat Sarah berhenti mengunyah. Matanya berbinar.


"Iya...aku mau..."Sarah menatap Raka dengan penuh harap.


"Siap-siap kita ke Amsterdam siang ini," kata Raka kemudian.


"Bawa baju, kita akan menginap di sana satu malam."


Sarah langsung berdiri dan memeluk Raka, ciuman beruntun di terima Raka, imbalan untuk kebahahagiaan yang di berikannya pada istri kesayangannya itu.


"Makasih, Sayang...makasih..." Sarah terus menciumi Raka dengan senang.


"Aku rela memindahkan sebagian tulip itu ke sini, kalau kamu menciumiku terus seperti ini." Raka menarik Sarah ke pangkuannya. Wajah Sarah bersemu merah.


"Tapi, kita berdua saja ya, Aldert yang aneh itu tidak termasuk dalam paket tour kita!" Kata Raka dengan bibir manyun, Sarah tertawa melihat gaya Raka yang sok cemburu.


"Sayang, ini hadiah bulan madu untukmu, karena sudah sabar menjadi istriku, meskipun aku pernah begitu galak padamu dan sering menyakiti perasaanmu di awal-awal pernikahan kita" Bisik Raka dengan wajah serius.


"Terimakasih sudah mengikuti semua sandiwara dan kegilaanku tanpa banyak protes, aku bersalah untuk semua itu. Aku siap membayarnya selama sisa hidupku." Raka mencium dahi Sarah dengan lembut.


"Kamu akan membayarnya dengan mahal." Bisik Sarah sambil tersenyum kecil.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2