
"Bram?"
Sarah menyipitkan matanya meyakinkan bahwa ini adalah Bram, mantan kekasih Sally saat masih SMA sekaligus orang yang melarikan adiknya itu dari pernikahannya.
"Aku...eh, maaf...." Bram tampak salah tingkah, lalu meraih tangan gadis kecil yang masih berdiri menatap Sarah dengan mimik lucu.
Bram, tentu saja Sarah sangat mengenalnya, dia sering bertemu laki-laki ini dulu, terutama saat menjemput Sally pulang sekolah.
Dulu, Sarah dan Sally berbeda sekolah. Mereka selalu di antar oleh sopir pribadi jika berangkat dan pulang sekolah. Biasanya, Pak Agus, sopir mereka lebih dulu menjemput Sarah baru ke sekolah Sally, karena sekolah Sarah lebih jauh tempatnya.
Setiap pulang sekolah, Saat Sally masih berpacaran dengan laki-laki ini, dia sering bertemu dengannya di depan pagar sekolah Sally. Bahkan, kadang-kadang, Sally sudah di bawa Bram dengan fortunernya, sehingga Sarah harus menjemputnya dari cafe atau bahkan depan bioskop.
Sarah harus melindungi Sally di depan papa, jika terlambat pulang dengan mengatakan mengikuti ekstrakurikuler sekolah ataupun les tambahan. Jika tidak papa akan marah dan mama tentu saja akan berdiri membela Sally, dan akhirnya seperti biasa Sally akan mengamuk padanya.
Seringkali, mereka satu meja di sebuah restoran, karena Sally memintanya menemani, sebagai alasan keluar dari rumah.
Ya, Sarah sangat mengenal Bram, bahkan sebenarnya lebih mengenal Bram dari pada Raka, di masa mereka masih sekolah di tingkat menengah.
"Bram, kita seperti harus bicara sebentar." Wajah Sarah berubah dingin, banyak hal yang rasanya ingin di tumpahkannya pada laki-laki yang telah memperlakukan adiknya itu dengan begitu kejam.
"Kalau untuk masalah Sally, aku sungguh minta maaf."
"Kamu kira permintaan maaf cukup untuk semua perbuatanmu padanya dan pada keluargaku?" Sarah mendesis geram, rasanya ingin sekali dia menampar wajah laki-laki ini. Hanya saja dia tahu, hal tersebut bukan hal yang pantas di lakukan di tengah umum begini.
Bram menggenggam tangan gadis kecil yang dipanggilnya Bella ini, lalu menatap tajam pada Sarah. Dengan tatapan yang dingin Sarah menyambutnya, tanpa berkedip.
"Atau kita bicara saja di sini, dan orang-orang akan mendengarkan semua list kejahatanmu, karena aku tak janji, bisa menahan diri."
Nada sedikit mengancam itu, membuat Bram sedikit bergetar. Sarah adalah orang yang keras dan tak mudah menyerah, dia tentu tak ingin dipermalukan di tengah orang banyak.
...***...
Sarah dan Bram duduk berhadapan di sebuah cafe kecil di area ruang tunggu keberangkatan.
Bella, gadis kecil itu ternyata adalah puteri Bram, tampak sibuk duduk di samping Bram dengan semangkok es cream.
"Kami sedang menunggu jadwal pesawat berangkat ke Singapore, aku membawa puteriku Bella ke sana menyusul istriku yang lebih dulu ke sana bersama kakak Bella yang sedang dirawat di rumah sakit mount elizabeth." Bram menjelaskan begitu saja tanpa di minta.
__ADS_1
Sarah tidak menunjukkan simpati sedikitpun, matanya berkilat tajam memandang wajah Bram.
"Kenapa kamu tega sekali kepada Sally?" Pertanyaan yang menyimpan amarah itu terdengar dingin.
Bram menunduk, melirik sebentar pada anaknya yang tampak sibuk sendiri dengan es creamnya.
"Aku tahu, itu adalah kesalahan terbesarku. Aku sangat menyesalinya. Tapi setelah ini, aku berjanji akan memperbaikinya. Aku akan bertanggungjawab kepada Sally." Bram menghela nafasnya seolah begitu berat.
"Tentu saja itu adalah kesalahan yang sangat besar, bahkan jika saja di laporkan ke pihak berwajib, bisa saja kamu di tuntut telah menculik dan menelantarkan Sally!" Suara Sarah sedikit meninggi.
"Aku tidak pernah ingin menelantarkannya. Aku terpaksa meninggalkannya di Singapore karena anak pertamaku sakit dan aku harus pulang..."
"Bram, tahukah kamu, kesalahanmu itu begitu banyak, bahkan terlalu panjang untuk di sebutkan! Seharusnya, kamu tidak melarikan Sally sebelum hari pernikahannya."
"Jikapun waktu boleh di ulang, aku tetap akan melalukan hal yang sama." Bram tiba-tiba berucap dengan suara yang berat tapi begitu yakin membuat Sarah terpana mendengarnya.
"Kau..."
"Karena aku benar-benar mencintai Sally."
"Cinta? Cinta seperti apa itu yang melarikan seorang perempuan dari pernikahannya sendiri? Menculiknya dari keluarganya, tinggal bersama tanpa menikah di persembunyian kemudian meninggalkannya saat hamil anaknya sendiri dan menelantarkannya dalam keadaan sakit karena keguguran???
Apa itu cinta?! Seseorang yang telah menikah dan berkeluarga melakukan perbuatan biadap seperti itu dan mengatasnamakan cinta?" Sarah melotot sampai matanya hampir keluar dari rongganya.
"Aku benar-benar mencintai Sally, sejak dulu. Hanya saja kami tidak berjodoh."
"Oh, Bram...please, jangan membodohi orang lain dengan kata cintamu yang bullshit itu! Jika kamu benar-benar mencintai Sally, kenapa kamu tidak menikahinya dulu?"
"Karena dia di lamar oleh Raka lebih dulu dan bertunangan dengannya."
Jawaban Bram membuat Sarah ternganga,
"Dan aku kemudian menikahi Diah karena accident,"
"Married by accident katamu? Bahkan melakukan hal begitu pada perempuan yang kamu nikahi, kamu tetap mengatakan kamu mencintai Sally? Oh, astaga Bram ternyata kamu benar-benar bejat." Sarah menggeleng-geleng kepalanya dengan heran.
"Tapi, aku memang mencintai Sally!"
__ADS_1
"Tidak kah kamu malu pada anakmu sendiri, Bram? kamu menikah dengan istrimu dan memiliki dua anak dari pernikahanmu, dan itu kamu katakan terjadi tanpa cinta?" Sarah benar-benar menatap wajah Bram dengan takjup.
Bram terdiam, menatap Sarah sebentar lalu mengalihkan pandangannya.
"Semua terlalu rumit untuk di jelaskan, kamu tak akan mengerti. Aku tidak membela diriku, tapi itu kenyataannya. Dari awal semuanya sudah salah."
"Bagaimana mungkin kamu mengatakan semuanya dengan begitu enteng sebagai alasan untuk membenarkan perbuatanmu berselingkuh dengan Sally?"
"Aku telah menjalin hubungan dengan Sally jauh sebelum aku menikah dengan Diah."
"Tetap saja kalian berselingkuh, sementara istrimu begitu mengharapkanmu! Apapun namanya, jika kalian menjalin hubungan di belakang sebuah pernikahan, itu adalah berselingkuh. Aku rasa, aku tidak terlalu bodoh untuk memahami itu. Kadang kita bisa salah, tapi cepat menyadari tidak akan membuat dosa itu melebar dan menjadi bencana."Sarah benar-benar jengkel luar biasa pada Bram.
"Sudah cukup kamu memberikan Sally harapan-harapan palsu, Bram. Dia telah kehilangan banyak hal dalam hidupnya, karena keserakahanmu. Berhentilah membuat penderitaan yang lain untuknya. Jangan atasnamakan cinta untuk semua ***** seperti itu." Suara Sarah terdengar tajam.
"Aku berjanji, setelah anakku kembali pulih, aku akan bertanggungjawab pada Sally."
Mata Sarah yang bulat itu memerah.
"Aku berbicara padamu hari ini, meskipun sebenarnya aku benci melakukannya bukan karena aku mengharapkan kamu kembali pada adikku. Aku hanya ingin memintamu, menjauhlah sejauh-jauhnya dari hidup Sally. Apapun kesalahannya, dia telah membayarnya dengan penderitaan yang luar biasa. Itu sudah lebih dari cukup. Kasihanilah dia dan keluarga kami, aib yang kami tanggung begitu memalukan, sehingga harus bersembunyi seolah tidak mempermasalahkan apa-apa denganmu, meskipun sesungguhnya orangtuaku berharap kamu membayarnya dengan setimpal." Kalimat panjang itu begitu tajam dan terdengar menyimpan kemarahan.
"Tidak ada hal yang baik yang akan kalian dapatkan, dengan membangun hubungan di atas penderitaan oranglain. Fikirkan perasaan istri dan anak-anakmu. Sally mungkin merasa menderita sekarang, tapi dia akan baik-baik saja bersama waktu. Jangan pernah muncul lagi di hadapannya, apapun yang terjadi." Sarah berdiri dari tempatnya duduk.
"Aku tahu..."Bram menyahut dengan suara perlahan.
"Aku sangat mencintai Sally...dan menjadi sangat serakah karenanya. Bahkan aku semakin menjadi tak terkendali, ketika saat bersamaku, dia membanding-bandingkanku dengan tunangannya. Aku mencintainya, sekaligus membencinya karena....dia menyerahkan tubuhnya padaku tetapi hatinya diam-diam dia serahkan pada orang lain."
Sarah yang telah membalikkan badannya, urung melangkah, kakinya seolah terpasung mendengar kata-kata Bram, yang meski serupa keluh itu tapi begitu menusuk sampai ke jantung nya.
(Yuk...VOTEnya yaaaaa....mumpung senin, author sayaaaaaaaaang deh dengan semua readers, biar author semangat lagi UPnya liat Votenya berhamburan ❣️❣️❣️❣️❣️☺️☺️☺️☺️☺️☺️☺️)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...❤️...
__ADS_1