
"Kami sangat ingin tahu, seberapa berani kamu menikahi Diah dan warisan masa lalunya, seberapa bertanggungjawabnya kamu pada calon istrimu yang tidak hanya membawa dirinya tapi ada seorang anak yang bukan darah dagingmu yang akan memaksamu menjadi seorang ayah bahkan sebelum dirimu belajar menjadi ayah?"
Doddy tertegun mendengar kalimat dari mulut mamanya yang di ucapkan dengan nada bertanya yang dalam.
Diah menundukkan wajahnya, matanya tiba-tiba terasa panas, entah mengapa dia merasa bahwa ucapan mama Doddy begitu menohok sudut hatinya.
"Mama..." Doddy menatap sejenak pada Diah yang menunduk di sampingnya saat mulai berbicara, betapa ingin dia memeluk perempuan itu untuk menguatkannya, tapi itu mustahil di lakukannya.
"Aku memang tidak pernah menjadi ayah, tapi aku tahu setiap orang suatu saat jika Allah berkehendak akan menjadi seorang ayah. Terlepas anak Diah bukanlah darah dagingku, tapi memberi kasih sayang tak harus karena ada ikatan darah. Selama ini aki melihat bagaimana cara mama membesarkan anak-anak terlantar, bagaimana mama mengurus anak yatim dengan kasih sayang lewat Yayasan sosial yang mama pimpin. Aku tahu mama mencintai mereka dengan cara mama, meski mereka bukanlah saudara kandungku. Dari apa yang mama lakukan kemudian aku mengerti, menyayangi itu tak hanya karena kita mempunyai hubumgan keluarga tetapi karena kita memang mempunyai niat dan ketulusan hati." Doddy tersenyum pada sang mama.
"Jika mama bisa memiliki cinta sebanyak itu pada orang lain, mengapa aku tidak? Apalagi itu pada anak Diah, bagian terpenting dari diri orang yang ku cintai." Lanjut Doddy.
"Papa juga mengatakan menikahlah jika sudah kau temukan yang tepat, karena menikah itu menyempurnakan separuh dari ibadah kita. Dengan begitu bukankah aku bisa mencintai dua orang sekaligus dalam ibadahku." Doddy benar-benar berniat untuk mendapatkan restu dari papanya, bahkan dia telah begitu banyak berbicara untuk membela niat dan perasaannya itu.
"Ini berbeda, Fadjri..." Papa Doddy menatap mata anaknya yang begitu keras, kemudian dia mengenali betapa kekerasan hati itu turun dari dirinya.
__ADS_1
"Menikah bukanlah main-main, jangan selalu atas namakan ibadah untuk mengikat seseorang dalam pernikahan jika kamu tak mengenali tujuanmu dalam menikah. Apakah benar-benar tulus atau kah hanya untuk memuaskan obsesimu, apalagi Diah pernah mengalami kegagalan dalam rumah tangganya." Papa Doddy menyilangkan kakinya.
"Seperti yang di katakan mamamu, pernikahan adalah menyatukan dua pribadi, tentu beserta egonya masing-masing. Pernikahan bukan seperti pacaran yang saat bosan kita bisa berkata putus sesuka hatimu. Ada komitmen yang harus kita jaga dalam pernikahan. Jika kamu menikahi Diah tentu saja komitmenmu harus lebih besar dari seharusnya, hatimu harus lebih luas dari jika kamu hanya menikahi seorang perempuan single. Maafkan papa jika mengatakan ini. Tetapi kamu adalah anak satu-satunya anak kami, tentu saja kebahagiaanmu adalah hal yang terpenting bagi kami. Tetapi, kami juga mencemaskan kesiapan mentalmu di atas semua hal lain ketika benar-benar sudah menikah. Karena itulah, kami mempertanyakan ini padamu." Papa Doddy berkata panjang dan lebar, sepertinya fokus mereka bukan pada status Diah tetapi pada anak mereka.
"Apakah artinya, papa dan mama tak merestui kami?" Pertanyaan Doddy di ucapnya dengan gemetar.
"Restu adalah do'a dan harapan, bukanlah semata persetujuan. Jika kalian mengharapkan restu orang tua maka berikhtiarlah...beristiqoruhlah dahulu. carilah alasan dan kemantapan hati, sebelum kalian mengambil keputusan supaya apa yang kalian niatkan dalam ridho Tuhan yang maha kuasa. Jika tidak maka kamu hanya akan memberi pengalaman kegagalan dua kali kepada Diah, dan untukmu mungkin hanya akan jadi pembelajaran tetapi bagi orang yang pernah gagal maka itu adalah penderitaan. Jangan jadikan pernikahanmu, sebagai ladangmu membuat dosa bukan karena menyempurnakan ibadahmu."
"Saya...saya mengerti." Tiba-tiba Diah berucap memecah hening sesaat, ketika Doddy seperti kehilangan kata-kata.
"Diah..." Mama doddy mengalihkan perhatiannya sekarang pada Diah.
"Bisakah kita berbicara empat mata sebagai seorang perempuan? Aku hanya ingin kita berbicara sebagai seorang ibu karena kita yang sama-sama memiliki anak dan mencintai anaknya serta berharap yang terbaik untuk anaknya." Mama Doddy berkata dengan nada yang lembut tapi terkesan tegas, tanpa melihat lagi pada Doddy yang nampak tegang dan kebingungan dengan sikap mamanya, sungguh di luar perkiraannya.
Sesaat kemudian mama Doddy berdiri, memberi isyarat untuk Diah mengikutinya, menuju ruangan yang lain.
__ADS_1
Diah berdiri dengan patuh meski sejurus dia melemparkan pandangannya pada Doddy seolah mengharapkan kekuatan dan pembelaan dalam kepasrahannya.
Setelah membungkuk sesaat pada pak Ferdian, Diah melangkah mengikuti punggung mama Doddy, langkahnya terlihat gugup dan gemetar. Dia sedang di hadapkan pada sidang, lulus atau tidak lulus. Dan Diah memaklumi dengan kesadarannya, untuk menjadi pendamping orang setingkat Doddy, dia memang tak punya peluang banyak untuk mendapatkan restu meskipun cinta mereka setinggi gunung.
(Akak othor rencananya Double UP ya hari ini, please dukungan dari semua, jangan lupa jg mampir di novel akak yang lagi di minggu Crazy UP menjelang tamat " Di antara Dua Hati" Lagi seru-serunya, lho๐๐ฅฐ mau tamatkan segera yang ini biar cepat mulai menulis season 2 kisah cinta putra Raka dan Sarah "Rae dan Alluna")
JANGAN LUPA MAMPIR, YAAAA...๐ฅฐ
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1