Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 70 UNDANGAN DARI BESAN


__ADS_3

Sarah dan Raka pulang pagi - pagi sekali dari apartemen Sarah.


"Sayang..." Mama sudah menunggu dengan tak sabar.


"Benar, Sarah mendadak tak enak badan tadi malam?" Tanya mama begitu cemas.


"Hah..." Sarah terbengong, rasanya dia baik-baik saja.


"Iya, ma kan sudah Raka telpon mama tadi malam. Setelah minta di antar makan bakso di depan apartemennya, dia agak pusing, mungkin kelelahan. Jadi kami putuskan istrirahat di apartemen sekalian mengambil beberapa barang Sarah."


"Mama cemas, lho. HP kalian berdua sama-sama non aktif setelah Raka telpon."


Sarah hanya mesem-mesem, Raka tidak memberitahukan apapun perihal alasannya pada mama dan kapan dia menelpon mama juga Sarah tidak tahu. Mungkin, pada saat dia sudah tidur.


"Sama-sama lowbat, ma."


Aduh, Raka ini memsng selalu punya segudang alasan di depan mama, seperti anak remaja baru pulang keluyuran sedang di interogasi karena pulang terlambat.


"Ya, sudahlah. Mandi saja dulu. Nanti segera turun, ya. Kita sarapan. Papamu sepertinya mau ngomong sesuatu dengan kalian berdua."


Kata mama.


"Iya, ma..." Raka sempat-sempatnya mencium pipi sang mama sebelum naik menuju kamarnya di atas.


"Sayang, kamu baik-baik saja pagi ini?" Tanya mama pada Sarah.


"Sarah baik-baik saja, ma."Jawab Sarah sambil tersenyum.


"Tidak mual lagi?"


"Tidak terlalu, ma. Cuma sedikit pusing"


"Mandi air hangat dan turun ke bawah, mama siapkan susu untukmu untuk perkembangan bayimu dan mengurangi perasaan mual.Tadi malam mama minta tolong Dea membelikan susu ibu hamil untukmu." Kata


mama.


Sarah tercengang, mendengar ucapan mama, tak menyangka mertuanya itu begitu perhatian padanya. Dia sendiri lupa jika harus minum susu di awal kehamilannya ini, padahal dokter Yoga sudah mengatakan hal itu.


"Aduh, mama sampai repot begini." Sarah menyahut dengan tidak enak.


"Mama tidak repot, sayang. Mama mengerti, ini kehamilan pertamamu. Banyak yang tidak kamu tahu. Kita akan merawat bersama-sama kehamilanmu, supaya perkembangan bayi baik dan mamanya juga sehat sampai lahiran." Mama berucap begitu hangat.


Rasa haru tak tertahan, dia tanpa sadar memeluk perempuan setengah baya yang ada di hadapannya itu. Sarah yang selalu bersikap mandiri dari kecil karena tidak ada yang benar-benar begitu memperhatikannya. Mamanya lebih memperhatikan Sally dan semua perihal pengasuhannya di serahkan habis kepada mbok Yem.


Tak ada tempat bermanja. Sekarang dia mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang sungguh melimpah dari seorang ibu mertua, rasanya begitu aneh dan menyenangkan.


"Makasih, ma."Bisik Sarah dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang." Mama tersenyum lembut.


"Mama tahu, pada kehamilan pertama ini, suamimu juga tidak berpengalaman menghadapinya. Kadang dia malah bisa merepotkanmu, bukan sebaliknya menjaga dan mengurusimu dengan baik." Sang mama tertawa terkekeh mengingat anaknya itu.


"Raka kelihatannya saja di depan orang banyak, begitu dewasa dan berwibawa. Meskipun dia orang yang bertanggungjawab, tapi dia sebenarnya anak yang masih suka bersikap manja. Mungkin karena dia anak bungsu dan semua orang sangat memperhatikannya dari kecil." Mama memegang kedua tangan Sarah.


"Tolong maklumi lah, jika dia kebanyakan masih merepotkanmu. Nanti pelan-pelan dia akan berubah. Sebuah perkawinan, akan merubah setiap orang menjadi lebih dewasa. Dan kehadiran anak, membuat dia matang menjadi seseorang yang bertanggungjawab sepenuhnya." Tutur mama dengan memberikan sesungging senyum bijak di akhir kalimat.


"Iya, ma. Terimakasih banyak. Raka adalah suami yang sangat baik." Sahut Sarah.


"Ayo, mandilah dulu. Segera turun ya..."


"Iya, ma."


Sarah menjejaki anak tangga dengan perasaan begitu ringan, di rumah ini dia merasa lahir kembali. Semua kasih sayang dan perhatian tertuju padanya. Dia mendapatkan cinta yang begitu melimpah di rumah ini.


"Hey, sayang...lama sekali." Raka baru keluar dari kamar mandi dengan badan kekarnya yang masih terbelit handuk ketika Sarah masuk ke kamar.


"Lagi ngobrol sebentar dengan mama."


"Tentang apa, matamu sampai sembab begitu? Di marahi mertua, ya...?" Raka tertawa sambil berpakaian.


"Orang cuma ngobrol. Memangnya mama marah kenapa?" Sarah berkelit, sambil mengusap matanya.


"Anak-anak kalau pulang pagi biasanya di ceramahi, lho."


"Mama ada bilang apa tentang yang mau di omongi paps? jarang-jarang lho papa serius mau ngomong sesuatu."


"Mama tidak ngomong apa-apa soal itu." Sahut Sarah pendek, segera kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.


...***...


Sarah dan Raka turun ke ruang makan untuk sarapan, di sana telah menunggu mama dan papa.


Sarapan telah tersedia, ada roti selai, bubur ayam dan acai bowl yogurt creamy dengan topping buah yang terlihat cantik dan menggiurkan.


"Mama sengaja bikin yogurt creamy ini, bagus buat Sarah." Kata mama.


"Makasih banyak, ma"Sarah terpesona, melihat ke arah mama.


"Buat Raka?" Raka mengangkat alisnya.


"Kamu makan yang ada saja," Jawab mama pendek.


"Dari kemarin ibu hamil nomor satu terus diperhatikan, jadi pengen hamil." Raka tertawa sambil melirik Sarah yang tersipu.


Mama dan papa tertawa mendengar celotehan Raka.

__ADS_1


Lalu, ritual bereakfast yang menyenangkan berjalan dengan begitu menyenangkan.


"Raka, urusan realisasi co-working space itu bagaimana?"


"Sudah sip saja pa. Hanya menunggu persetujuan pak Wijaya. Kak Edgar yang akan menghandel." Jawab Raka pendek.


"Dea kemarin ketemu di kantor, katanya sudah menghubungi pak Wijaya soal itu, cuma pak Wijaya sepertinya ingin sekali bertemu denganmu."


Sarah dan Raka saling pandang sesaat.


Mereka berdua mengira urusan papa Sarah yang ingin bertemu dengan Raka itu hanya sebatas membicarakan urusan bisnis.


Sekarang hati Raka menjadi sedikit tidak enak, jika papa Sarah begitu memaksa berbicara empat mata dengan Raka, maka urusan lain yang bersifat pribadi mungkin menjadi alasannya.


"Tadi papa langsung menelpon pak Wijaya untuk mengkonfirmasi urusan ini."Tiba-tiba papa melanjutkan.


Raka meletakkan sendoknya di atas piring, sekarang perhatiaannya tertuju pada papanya.


"Pak Wijaya bilang apa pa?"


"Dia hanya ingin bertemudengan Raka secara unformal saja. Membahas urusan bisnis dengan santai dan mungkin membicarakan beberapa hal yang bersifat pribadi. Katanya dia, merasa perlu menjalin kedekatan dengan menantunya." Papa terkekeh sementara Raka mendadak menjadi tegang.


"Lalu papa bilang, Raka memang agak sibuk beberapa hari ini, mengurus Sarah yang sedang hamil." Lanjut papa.


Sarah dan Raka seperti tersambar petir, mereka berdua sudah sepakat tidak memberitahukan dulu kehamilan Sarah pada pihak keluarga Sarah, mengingat kondisi Sally yang masih aneh dan tidak stabil.


"Sepertinya pak Wijaya belum tahu tentang kehamilan Sarah?" papa mengernyit dahi.


"Kami belum memberi tahu kehamilan Sarah, kita tahu juga baru dua hari ini." Raka menyahut cepat.


"Biasanya, orangtua adalah orang kedua yang di beritahukan anaknya setelah suami tentang hal sepenting ini. Bukankah kehamilan adalah berita gembira?" Mama sekarang angkat bicara.


"Ya, Pak Wijaya sepertinya sangat antusias mendengarnya."Lanjut Papa.


"Malam ini, kita di undang makan malam di rumah keluarga mertuamu." Papa melemparkan pandangan pada Raka


"Makan malam? Kita semua?" Raka dan Sarah berbarengan bertanya, terkejut mendengarnya.


"Ya, malam ini. Undangan makan malam pertama dari besan setelah sekian lama."


Raka dan Sarah saling bepandangan, entah drama apalagi yang akan mereka hadapi, tapi tidak ada alasan lagi untuk menolak pertemuan ini.


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...

__ADS_1


__ADS_2