
Hampir setengah jam, Diah dan mama Doddy berbicara dalam ruangan terpisah sementara Doddy duduk berhadapan dengan papanya, dengan sikap tegang.
"Papa, apakah papa keberatan aku menikah dengan Diah?" Tanya Doddy kemudian dengan segenap keberaniannya.
Pak Ferdian menghela nafasnya, terlihat berat.
"Aku ingin membawamu umroh, dua minggu lagi." Tiba-tiba papanya berucap. Jauh dari menjawab pertanyaan anaknya, papa Doddy begitu jelas mengalihkan arah pembicaraan mereka.
"Papa?" Doddy sebenarnya tahu rencana dari papa dan mamanya untuk pergi umroh, tapi dia tak tahu jika dirinya akan di ajak serta karena seperti rencana papa dan mamanya, mereka ingin umroh berdua saja.
Dan entah mengapa Doddy merasa papanya mengalihkan pembicaraan dan seakan berusaha menghindar dari topik sebenarnya.
"Mamamu tiba-tiba ingin membawamu ke sana, katanya mungkin di sana kamu akan menemukan apa yang kamu inginkan, kita bertiga, hanya kita bertiga."
Doddy terdiam, menatap sang papa, dia merasakan hatinya terasa begitu sakit sakit, menyadari kedua orang tuanya tak pernah mengharapkan dia menikah dengan Diah. Kalimat papanya itu seolah memberi batasan bahwa di dalam hidup mereka, hanya ada tiga orang dan tak ada orang lain lagi yang bisa masuk kecuali dengan seijin orang tuanya.
"Mama dan Papa sudah dua kali ke sana, ini adalah kali ke tiga. Tempat itu sangat indah dan tak pernah kamu berdiri di sana tanpa merasa begitu tenang dan syahdu. Saat kamu menjejakkan kakimu di Baitullah maka kamu akan di rundung rindu seumur hidupmu untuk kembali ke sana." Papanya terus berbicara.
"Papa, aku pasti akan bahagia bisa ke sana. Tapi, saat ini kita sedang membicarakan hal lain." Dengan sedikit rikuh Doddy menyela, dia serba salah saat merasa papanya tidak tertarik untuk membicarakan hubungannya dengan Diah.
"Doddy..." Menang, Pak Ferdian lebih menyukai memanggilnya dengan nama itu, berbeda dengan mamanya, karena papanya lah yang membuatkan nama depannya, Doddy.
"Ada satu tempat di antara banyak tempat indah dan suci di sana, namanya Multazam, tempat itu adalah tempat di mana doa hampir selalu di ijabah. Setiap doa yang diucapkan di tempat itu akan dikabulkan. Itu janji Allah.
__ADS_1
Multazam adalah bagian dinding Kabah antara batu hitam dan pintu Kabah. Pada saat Nabi Muhammad SAW menaklukkan Mekkah, Rasulullah bersama para sahabatnya masuk ke Kabah. Di antara batu hitam hajar aswad dan pintu masuk Kabah, Nabi menempelkan badan, wajah, tangan dan jari-jarinya ke dinding Kabah. Di sana Nabi dan para sahabat berdoa.
Saat pertama kali papa dan mama berdoa di sana, kami memohon seorang anak yang tampan dan sholeh, anak yang baik dan mendengarkan orang tua, anak yang takut kepada Allah SWT.
Dan tahukah kamu? Setahun kemudian kamu lahir ke dunia, menjadi hadiah terindah bagi kami." Papa Doddy menghela lagi nafasnya, memberi waktu untuk Doddy mencerna semua perkataannya.
"Karena itulah, setiap ada kesempatan ke Tanah Suci, untuk umroh atau haji, papa selalu niatkan untuk ke Multazam. Pengalaman membuktikan beberapa doa yang papa ucapkan di tempat itu dikabulkan, apakah kamu tak ingin berdo'a ke sana?" Papa Doddy tersenyum kecil seolah mengingat beberapa hal indah dalam kenangannya.
"Karena itu papa dan mama ingin membawamu ke sana, karena mamamu pernah bermimpi saat kamu masih kecil, perempuan yang menjadi jodohmu adalah seorang perempuan yang duduk di sampingmu saat berada di Multazam."
Lalimat itu seperti palu yang seketika menghancurkan semua harapan Doddy.
Ya, sebenarnya tak perlu di katakan lagi, papa dan mamanya sudah secara jelas menolak Diah sebagai menantu mereka.
Dalam saat sesakit hatinya sekarang, bahkan dia masih tak bisa melawan, karena dia adalah anak yang sungguh-sungguh penurut. Matanya memerah, perasaannya berkeping dalam sekejap.
Diah, bukanlah perempuan yang dimimpikan mamanya, dia tidak di temukan oleh Doddy di Multazam. Tapi, Doddy merasa benar-benar mencintainya. Betapa tak adil rasanya bagi Doddy saat orang yang di cintainya tak bisa di terima karena dia bukanlah yang berada di mimpi mamanya.
"Papa, mama adalah orang yang bijak dan realistis...Ini sangat jauh dari sikap mama yang ku kenal. Dia selalu mengajariku untuk mencintai dengan tulus, tanpa menghakimi latar belakang dan masa lalu orang lain. Mama adalah orang yang selalu mempercayai pilihanku, dia tak akan mematahkan hatiku hanya karena mimpinya "Ucap Doddy dengan suara serak.
"Doddy, kamu pasti tidak akan tega menatahkan hati dan harapan mamamu hanya karena seorang perempuan kan?" Papa Doddy mencondongkan kepalanya ke arah Doddy, suaranya begitu halus.
Doddy tak bergeming, hanya matanya tak berkedip, mata itu berembun. Meskipun dia laki-laki tapi dia juga tak bisa membendung rasa sakit yang begitu menyesakkan hatinya kini, tak pernah dia merasa hatinya sehancur sekarang
__ADS_1
"Berikan kesempatan mamamu melihat mimpinya, jika memang itu tak pernah terjadi maka pulanglah dan berjuanglah dari awal lagi. Kamu bisa menciptakan mimpi bersama orang lain sepanjang hidupmu tetapi suatu kesempatan mulia saat kamu bisa mewujudkan mimpi ibumu. Pergilah dengan kami, satu kali ini saja. Setelah itu, kamu boleh melakukan apapun yang kamu anggap benar." Papa menepuk bahu Doddy, seiring dua bulir bening jatuh dari sudut matanya.
"Laki-laki tak akan menangis hanya karena patah hati." Bisik sang papa, pada saat yang sama mama Doddy dan Diah muncul dari ruangan lain.
Mata Diah begitu sembab, seperti habis menangis begitu banyak.
"Doddy, antarkan Diah pulang sekarang. Tak baik jika dia harus pulang terlalu malam..." Mama mengucapkan kalimat itu sehingga mengurungkan niat Diah yang akan duduk kembali di sebelah Doddy.
Doddy tertegun, mendonggakkan kepalanya pada sang mama, sejuta rasa kecewa tersirat dari tatapannya yang begitu terluka.
"Sebaiknya aku memang pulang sekarang..." Ucap Diah dengan salah tingkah, suaranya terdengar gemetar dan meraih tas tangannya yang di letakkannya, di lantai dekat kaki meja. lalu menyalami papa dan mama Doddy, menciumi tangan mereka dengan khidmat seolah itu adalah pertemuan terakhir mereka.
(akak othor sudah menepati janji double UP ya hari ini...jangan lupa vote dan dukungannya, yaaa🙏🥰
memang tak mudah meyakinkan orang tentang perasaan dan keputusan kita tetapi setiap perjuangan selalu bernilai, dan di bayar tunai, yang tulus selalu jadi pemenang😅 Nantikan lanjutannya, hanya satu yang bisa othor janjikan, semua novel kakak selalu happy ending🤣)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1