Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 113 MENJELANG MELAHIRKAN


__ADS_3

"Sayang, sini ku kasih tau sesuatu..." Bisik Sarah sambil berjinjit sedikit, mendekatkan mulutnya ke telinga Raka.


"Kata dokter Yogi, berhubungan intim saat hamil tua tidak berbahaya dan justru dianjurkan. Selain bisa membuat lebih rileks, hubungan **** bisa memicu kontraksi rahim, sehingga persalinan berjalan lebih lancar."


"Hah...dia bilang begitu?" Raka melotot dengan mulut setengah terbuka.


Sarah mengedipkan matanya sekali lagi, tersenyum lebih lebar, sangat senang melihat Raka yang melotot padanya begitu rupa.


"Siapa suruh kamu bolak balik ke kamar kecil waktu pemeriksaan kemarin, jadi kelewatan penjelasan yang bagian itu."


"Itu bayinya tidak kegencet?" Raka bertanya dengan penasaran.


"Kan ada kantung ketuban yang melindunginya?"


"Itu tidak bakal keguguran?"


"Tenang saja, usia kehamilannya ini sudah matang, tidak ada kelainan...kalau di lakukan dengan hati-hati dan rileks, amanlah..."


"Sayang...kenapa kamu tidak bilang dari kemarin?" Raka menyosor dengan bersemangat, lalu menarik istrinya yang terlihat seksi meskipun dengan perut membuncit itu.


"Aku cuma mau lihat kesabaran suamiku ini, sampai kapan bisa menahan diri berpuasa..." Jawab Sarah sambil tertawa penuh kemenangan.


"Kamu jahat sekali, sayang...!" Raka meremas rambut Sarah, berpura-pura memasang wajah marah. Sarah tergelak melihatnya.


"Aku hampir gila menahan diri untuk tidak menyentuhmu." Keluh Raka, lalu mencium bibir Sarah dengan gemas.


Sarah membalas ciuman Raka, lebih antusias. Mengingat sebentar lagi dia melahirkan dan pasca melahiran memerlukan jeda yang cukup memulihkan diri, dia ingin melayani sang suami tampannya ini dengan sebaik-baiknya.


Lalu mereka berdua berpagut dengan penuh semangat, saling sasar dan remas, seolah ini adalah momen yang tidak boleh di lewatkan.


Raka terus menciumi seluruh wajah Sarah sampai sekujur leher Istrinya itu seperti orang yang sedang kehausan. Dengan hati-hati di bimbingnya Sarah menuju peraduan, sebenarnya dia tak sabar tapi yang di hadapinya ini adalah ibu hamil besar, jadi semua harus serba ekstra hati-hati.


Sarah di baringkannya dengan perlahan, matanya tak lepas dari wajah sang istri.


TOK! TOK! TOK!


Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasi Raka yang sedang dalam upaya melakukan pelucutan.


Sejenak sepasang suami istri ini saling pandang. Sarah tersenyum kecil, memberi isyarat dengan lirikannya supaya Raka memeriksa ke pintu.


Dengan muka masam Raka turun dari ranjang, membuka pintu, tapi hanya cukup untuk kepalanya saja yang melongok ke luar kamar.


Bi Asih tampak tersenyum manis pada majikan mudanya itu.


"Ada apa sih, bi?" Raka tak bisa menyembunyikan raut kesalnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Den, di suruh nyonya panggilkan den Raka dengan nak Sarah untuk turun makan." Jawab bi Asih.


"Aduh, bilang saja sama mama, aku sedang tidak lapar. Tadi sore kebanyakan ngemil, jadi tidak selera makan malam." Alasan Raka.


"Nak Sarah?"


"Sarahnya sudah tidur, bi."


"Hah..." Bi Asih terbengong-bengong mendengar jawaban Raka.

__ADS_1


"Hah kenapa, bi?"


"Lima belas menit lalu baru pulang kok sudah tidur?" Bi Asih sekarang yang menggaruk-garuk kepalanya.


"Dia kecapean bi, jadi ketiduran. Dan lagi dia sudah makan di luar, jadi tidak perlu ku bangunkan."


"Oh..."


"Sudah, ya bi...Aku juga mau tidur."


"Ini baru jam tujuh, den..."


"Akh, bibi cerewet."


Dengan tanpa permisi, Raka menutup pintu. Dia merasa hampir hilang kesabaran.


Raka kembali kepada Sarah yang senyam senyum melihat tingkah kekanakan Raka.


"Sudah ku atasi, sayang..." Raka menarik baju kaosnya ke atas dan melemparnya dengan sembarangan.


" Alasanmu terlalu mengada-ngada." di sambut cekikikan Sarah tapi Raka pura-pura tak mendengar.


"Ini masih kesorean..."


Kalimat Sarah terpotong karena Raka sudah menciumi bibirnya tanpa ampun.


Perlahan, tangannya menggerayangi tubuh sang istri, bahkan sampai perut yang menonjol besar itu.


Apapun bentuk badan istrinya, tak mengurangi hasrat Raka untuk meneruskan niatnya.


Gerakan kecil pada perut itu, di sambut wajah melongo Raka. Bayinya memberi seolah memberi respon, yang membuat Raka tertawa senang.


"Anak baik...daddy akan tunjukkan jalan keluar ya, biar tidak nyasar..." Ocehan Raka yang lucu, membuat Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, suaminya ini ada-ada saja.


Raka terus bergerilya sambil memberikan kesempatan untuk Sarah mencari posisi yang nyaman.


Dengan halus di kaitkannya tubuh istrinya dari belakang, kepalanya menyusup di tengkuk Sarah.


"Sayang, bersiaplah...kita akan melakukannya dengan pelan." Raka mendes*h, sekarang gairahnya benar-benar sampai ubun-ubun.


Percintaan itu berlangsung lembut dan halus. Raka menghayatinya penuh kehati-hatian serta kesabaran, matanya tak tak lepas mengawasi reaksi Sarah, dia tak ingin sang istri merasa tertekan dan tak nyaman dengan gerakannya.


Mata Sarah terpejam, rint*hannya membuat Raka kepayang untuk segera mencapai puncak.


Raka yang biasanya penuh semangat dan begitu bernafs* melahap sang istri, di tuntut menjadi sangat slow.


Ternyata, bercinta dengan istri yang sedang hamil besar itu penuh dengan seni.


Tak lama, keduanya telah terkapar dengan puas. Raka memeluk tubuh Sarah dari belakang, senyum menghias bibirnya sementara Sarah mengatur nafasnya yang terasa satu-satu.


"Terimakasih sayang..." Raka menciumi belakang kepala Sarah, rambut Sarah yang wangi itu sangat menyenangkan untuk di ciumi.


Sarah tak menjawab, dia membalikkan badannya menghadap Raka, lalu dengan seringai tak kalah senangnya, di kecupnya bibir Raka dengan manja.


"Aku harus mandi, sayang..." Meski dengan nafas yang masih belum teratur sempurna, Sarah turun berjinjit, tanpa malu-malu berjalan dengan tubuh polos menuju kamar mandi di iringi tatapan Raka yang terkagum-kagum dengan pesona wanita hamil ini.

__ADS_1


Sarah terlihat seksi dan tetap menggairahkan dengan perut besar.


...***...


Hari masih sangat pagi, ketika Raka terbangun karena Sarah begitu gelisah dalam pelukannya.


"Ada apa, sayang?" tanya Raka melihat sang istri tampak meringis.


"Aku tidak bisa tidur dari tadi, rasanya punggungku terasa kram, perutku tidak enak." Sahut Sarah.


"Kamu mau ku pijat?" Raka membalikkan tubuh Sarah tanpa menunggu persetujuan lagi.


Dan memijit lembut punggung Sarah.


Sarah memejamkan matanya, seperti menahan nafas, tampak seperti di serang sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?" Raka bertanya dengan panik.


Sarah tidak menjawab, matanya terpejam kuat-kuat seolah menahan sakit.


Raka mengguncang tubuh Sarah, sang istri diam sambil menggigit bibir bawahnya, mendekap perutnya.


Raka melompat dengan panik dari tempat tidur.


"Aku tidak apa-apa..." Sarah membuka matanya, pias wajahnya berubah.


"Rasanya nyeri sebentar, dan rasanya aku mau ke kamar kecil, bantu aku berdiri." Sarah berusaha bangkit di bantu oleh Raka dengan gugup.


"Tunggu di sini!"


Raka berlari ke luar kamar dengan tegang, dan tak lama kembali dengan mama yang piasnya sedikit cemas.


"Biarkan mama periksa." Mama mendekati Sarah yang duduk di pinggir tempat tidur, wajahnya tampak sedikit lega, karena seoertinya nyeri yang menyerang mendadak tadi telah hilang.


"Sayang, apakah ada sesuatu yang aneh pagi ini selain rasa nyeri yang tiba-tiba tadi?" Mama meraba perut Sarah yang mengencang.


"Ada sedikit lendir aneh saat Sarah pipis." Sarah menjawab dengan malu-malu.


Mama tersenyum meski sekelebat rautnya menegang.


"Sayang, siapkan mobil, bawa semua perlengkapan melahirkan...kita bawa Sarah ke rumah sakit." Mama berbalik kepada Raka memberi instruksi.


"Sarah kenapa, ma?" Tanya Raka dengan gugup.


"Sarah akan segera melahirkan!"


(Yuk...VOTE Sarah dan Raka, ya😅 untuk memberi semangat ibu muda kita ini berjuang memberikan kita ponakan online🙏☺️


Jangan lupa tunggu keseruan dan ketegangan Raka menjelang lahiran😅)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all❤️...


__ADS_2