
"RAE!"
Sarah dan Raka melompat menyonsong si wajah tanpa dosa yang melototot pada daddy dan mommynya itu, lalu seperti di aba-aba,
"Waaaaaa...."Rae menangis keras, bukan karena terluka tapi karena terkejut dengan teriakan mommy dan daddynya yang kuatir terjadi apa-apa padanya.
"Astaga, sayang..." Raka langsung memeluk dan menggendong Rae, memeriksa setiap jengkal tubuh anaknya itu takut ada yang tergores maupun terluka oleh insiden itu.
"Kamu tidak apa-apakan, sayang? cup..cup...anak daddy..." Raka menenangkan Rae, sementara Sarah menghela nafas lega sambil membersihkan pecahan pot keramik itu.
"Tuh, kan...gara-gara daddymu yang genit itu, sampai lupa memperhatikanmu...coba tadi kalau terjadi apa-apa."Sarah mengomel dengan wajah memerah, sedikit malu dengan dirinya sendiri yang lupa diri ada anak kecil, apalagi Rae sedang aktif-aktifnya.
Rae sudah berhenti menangis tapi raut wajahnya masih tegang memeluk daddynya.
"Ma...ma...ma..." Dia sekarang sibuk memelintir telinga sang daddy.
"Sayang...aku akan buatkan susu untuk Rae, mungkin dia lapar..." Sarah menuju dispenser di sudut ruangan.
"Daddynya juga mau susu mommy, gimana ini..." Raka terkekeh setelah berhasil mengatasi ketegangan yang baru saja melanda mereka.
"Hush.. untung tadi Rae cuma pecahin vas bunga, coba kalau daddynya sibuk menyusu, bisa pecah itu lampu tidur." Sarah melirik pada suaminya itu sambil tertawa.
"Sayang daddy, cepat tidur, kasihan mommymu itu...tadi sempet merem melek, kamu bikin dia pusing tuh." Raka membalas sambil tergelak.
"Ih, siapa juga yang merem melek, daddymu itu yang kepedean."
Rae sibuk memainkan rambut dan kuping daddynya, tak mengerti jika daddy dan mommynya itu sedang meributkan ritual mereka yang entah keberapa kali tertunda gara-gara ulah bayi kesayangan mereka itu.
...***...
Pagi baru saja naik, cahayanya masuk lewat sela gorden kamar yang di batasi kaca-kaca besar mengarah ke kolam renang samping rumah.
__ADS_1
Tapi Sarah benar-benar malas untuk segera bangun, apalagi Rae masih terlelap di tempat tidurnya karena dia baru bisa tidur baru menjelang subuh. Di sebelah Rae, suaminya tertidur tak kalah lelapnya.
Dilirik pada jam dinding di tembok, sudah jam 7 lewat. Biasanya dia sudah turun ke bawah untuk mengantarkan Rae pada suster untuk di mandikan sementara dia menyiapkan suaminya itu untuk berangkat ke kantor.
Tapi, saat melihat wajah sang suami yang begitu tenang dalam tidurnya, dia tak tega untuk membangunkannya.
Rae tertidur menjelang subuh, dan begitu bayi itu terlelap tiba-tiba si kukuk memberi serangan fajar, membuat Sarah harus rela membuka matanya, memuaskan rasa penasaran si suami yang sempat di tunda oleh insiden vas pecah oleh Rae.
Wajarlah ada sirat kelelahan di wajahnya tampannya itu, perang itu memang tak memakan waktu yang lama, tapi urusan bergadang mengawasi si undur-undur lebih berat dari percintaan di awal subuh tadi.
Sarah senyam senyum sendiri, menatap pada Raka, suaminya itu memang the best.
Dengan perlahan, Sarah menggeser tubuhnya, menurunkan kaki, hendak beranjak menuju kamar mandi ketika bunyi handphone Raka memecah kesunyian.
Sarah beringsut meraihnya, hendak mematikannya, dia tak ingin suaminya itu terganggu. Kalau perlu, Raka tak diijinkannya ke kantor hari ini, biar dia istirahat di rumah saja.
Handphone Raka berbunyi tak berhenti, mata Sarah tertuju pada nama kontak yang memanggil.
Sarah mengernyit dahi, matanya mengarah ke jam dinding, memastikan hari masih terlalu pagi untuk urusan kantor.
Semula dia hendak mematikannya, tapi urung. Karena itu hanya asisten Raka, dia merasa tak apa-apa untuk menyambutnya, meski sebenarnya dia tidak pernah menyambut telpon orang untuk suaminya selama ini.
"Hallo..."
"Hallo, pak...eh, hallo bu Sarah, pak Rakanya ada?" Ryan terdengar menyambut dengan tergagap.
"Bapak masih tidur. Ada apa, Yan?" Sarah balik bertanya dengan volume suara yang rendah.
"Itu bu...anu..."
"Itu anu, apa? kamu kenapa?"
__ADS_1
"Kantor ibu..."
"Kantor ibu apanya?"
"Ada perempuan yang mengaku CEO baru perwakilan bu Mytha...dia sekarang berada di depan ruangan ibu."
"CEO baru? Siapa?" Sarah mengerutkan kening, rasanya tidak ada rapat dewan terbaru mrngenai perubahan atau penambahan staf pelaksana atau pejabat apapun di perusahaan mereka sejak dua bulan dia memegang jabatan sebagai salah satu Komisaris pemegang saham.
"Saya tidak kenal, bu. Tapi mbak itu meminta saya membukakan kantor ibu, katanya ruangan ibu itu miliknya sekarang."
"Hah..."
"Saya...saya cuma mau meminta pak Raka datang, karena...karena dia mengancam akan menyuruh OB mendobrak ruangan ibu."
"Heh, siapa yang kurang ajar begitu?" Tanya Sarah dengan suara meninggi, membuat Raka terbangun dan membuka mata. Meskipun Sarah tidak pernah benar-benar menempati ruangan yang di wariskan papa angkatnya itu padanya tapi dia menyimpan banyak dokumen lenting di sana.
"Ada apa, sayang?" Raka meletakkan punggung tangannya di atas dahinya sambi menatap istrinya itu dengan heran mendapati reaksi Sarah sambil masih menerima panggilan menggunakan handphonenya, matanya terpicing karena berusaha beradaptasi dengan cahaya yang menimpa korneanya.
"Jangan ada yang membuka ruangan itu sampai aku datang!" Wajah Sarah memerah sambil menutup telpon.
"Ada apa, sih?" Raka sekarang duduk menatap sang istri dengan penasaran.
"Siap-siap sayang, kita harus segera ke kantor!" Sarah menyerahkan handphone Raka dan melompat dari tempat tidur di ikuti tatapan bingung Raka, sepertinya istrinya itu sedang menahan murka.
(Siapakah yang menginginkan ruangan Sarah? Yuk di VOTE semuanya, mohon dukungannya untuk semangat othor menulis, lanjutannya segera otewe😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......
__ADS_1