
"Tunggu sebentar..." Raka mengalihkan wajahnya dari layar.
"Ik praat met iemand." Raka melepaskan tangan gadis yang mengait lehernya. Dan mendorong halus gadis itu.
Sementara si gadis indo belanda ini tampak memanyunkan mulutnya, merengut dengan kesal. Lalu beranjak dan hilang dari sebelah Raka.
Sarah terdiam, kehilangan kata-katanya menyaksikan adegan itu di layar HPnya.
"Oh, ya...ada apa ke Leiden?" tanya Raka lagi.
"Uhm...urusan kerja!" jawab Sarah sekenanya.
Dadanya bergemuruh tak menentu menatap wajah Raka. Baru kali ini dia merasa darahnya seperti naik sampai kepala, nafasnya terasa sesak karena kesal dan marah.
Inikah rasanya cemburu?
Sarah membuang pandangannya sebentar, betapa anehnya saat tak rela melihat Raka dekat dengan perempuan lain.
Suatu perasaan pertama kali yang pernah di rasakan oleh Sarah setelah sekian lama mengenal Raka.
"Di Leidennya?"
"Ya."
"Berapa lama?"
Sarah yang masih merasa sedikit emosi melihat adegan sekilas tadi, tiba-tiba merasa perlu tahu semua hal tentang Raka. Betapa tak relanya melihat laki-laki itu mempunyai hubungan dekat dengan perempuan lain.
"Tiga hari, seminggu, dua minggu atau mungkin lebih lama dari itu. Tergantung pekerjaannya selesai atau belum." Jawab Sarah, benar-benar mengada-ngada.
Hanya saja kekesalannya membuatnya bertingkah menjadi sinis dan ketus.
"Perlu ku carikan hotel untukmu?" tawar Raka hati-hati.
"Tidak perlu..." Sahut Sarah cepat.
"Kamu punya kenalan di sini?" tanya Raka sedikit bingung, biar bagaimanapun dia harus bertanggungjawab dengan gadis ini, mamanya sudah mewanti-wanti dengan keras, mengurus Sarah dengan baik selama dia berada di Leiden nanti.
Sarah menggelengkan kepalanya dengan raut masih kesal. Sikap dingin dan acuhnya terhadap Raka entah menguap kemana.
Dia sekarang benar-benar kewalahan meredam rasa cemburu yang menusuk-nusuk dadanya.
"Lalu, kamu tinggal di mana?" tanya Raka terlihat semakin bingung.
"Di apartemenmu!" Sahut Sarah dengan acuh.
Sekarang kebingungan Raka benar-benar terpampang di wajah tampannya.
Yang dia tahu selama ini, Sarah sangan anti satu tempat dengan Raka, dan sekarang dengan entengnya dia mengatakan akan tinggal di apartemen Raka, tentu saja itu suatu keanehan yang luar biasa.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Raka bertanya dengan alis bertaut.
"Memangnya kenapa?" Sarah gantian menaikkan alisnya, dia bertambah kesal dalam hati memikirkan mungkin Raka keberatan karena dia tidak bisa lagi sesukanya mengundang perempuan ke apartemennya.
"Tapi, apartemenku hanya punya satu kamar tidur?" Raka menaikkan bahunya, meminta pertimbangan dari Sarah. Dia kuatir Sarah kurang nyaman nanti.
"Kamu kan sudah biasa tidur di sofa? masa aku seminggu di Leiden kamu tidak bisa melakukannya untukku?"
"Tapi..."
"Mama suka video call mendadak, kamu mau dia tanya macam-macam kalau kamu di apartemen, aku berada di tempat lain?" dalih Sarah.
Ada sedikit rasa malu menyusup dalam hatinya, bertindak di luar prinsipnya sama sekali, karena dia bukan orang yang agresif. Tapi perasaan cemburunya benar-benar menggelitik.
Dia penasaran dengan kehadiran si setengah bule yang menganggu pemandangannya tadi.
Kalau saja tidak memikirkan harga dirinya, mungkin saja dia akan meracau menanyakan siapa perempuan tadi.
Raka nampak terdiam, dia merasa alasan Sarah masuk akal. Mamanya adalah orang yang cerewet, seringkali menelpon tidak tentu jadwal.
"Baiklah...kamu akan tinggal di apartemenku selama di sini. Tapi aku tidak bisa mengantarmu kemana-mana, sekarang aku sedang sibuk mengerjakan tugas ujian semesteran."
"Oh, tenang saja untuk itu, aku tidak akan merepotkanmu." Sahut Sarah dengan acuh.
Padahal dia sama sekali tidak pernah ke luar negeri. Tentu saja dia akan sedikit kebingungan jika mau keluar. Tapi Sarah bukan oranglah orang yang bodoh. Meskipun dia tidak bisa berbahasa belanda tapi dia menguasai bahasa inggris.
Dia yakin saja, dia berangkat ke Leiden dan menuntaskan rasa penasarannya serta keinginannya yang sangat membuncah untuk jujur tentang perasaan cintanya kepada suaminya itu.
Tapi, setidaknya dia akan memperjuangkan perasaannya yang baru di sadarinya dengan sungguh-sungguh saat di tinggalkan oleh Raka.
Mama telah memotivasinya untuk merebut hati suaminya dan dia akan memperjuangkannya, mengembalikan Raka kepada Mama. Meskipun yang terburuk mungkin saja Raka telah memberi hatinya pada orang lain.
"Oke kalau begitu, setidaknya aku telah memastikan kebenaran berita dari mama." Kalimat itu terdengar canggung.
Wajah dingin Raka kembali, seolah mereka berdua tidak punya hubungan apa-apa.
"Lusa bertepatan dengan salah satu ujian mata kuliah, mungkin aku tidak bisa menjemputmu. Jadi ku harap kamu bisa langsung saja ke apartemenku. Kuncinya ku titipkan dengan office apartemen saja."
Sarah terdiam, sekarang dia bingung sendiri, entah bagaimana nanti di sana, dia tidak pernah ke Leiden. Seharusnya Raka lebih peka.
"Kabari saja jam berapa kamu berangkat atau fotokan ticketmu saja, biar aku tahu saja." Lanjut Raka.
Sarah diam saja, sibuk menggunakan kepalanya, bagaimana nasibnya nanti setelah sampai di Leiden.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Raka, menangkap wajah galau Sarah.
"Oh..." Sarah tergagap.
"Kamu mencemaskan sesuatu?"
__ADS_1
"Tidak."
Sesaat mereka kehilangan kata-kata. Sepertinya banyak yang ingin di sampaikan dari hati, tapi semuanya tak bisa keluar dari mulut masing-masing.
"Okey...aku cuma perlu tahu itu saja. Sampai ketemu lusa." Raka menutup telpon, tanpa meminta persetujuan.
Sarah menatap layar ponselnya, dia menetapkan hatinya.
Apapun yang terjadi dia memang harus bertemu dengan Raka.
Raka adalah suaminya sekarang meskipun hanya di atas kertas tapi sekarang dia benar-benar menyadari hatinya telah jatuh cinta padanya dan tidak rela jika Raka memberi hatinya pada orang lain.
Setidaknya dia akan berusaha mengetahui perasaan Raka padanya.
Sarah memencet sebuah nomor kontak,
"Hallo, Jen...bookingkan aku pesawat ke Leiden untuk lusa." Pinta Sarah langsung menodong.
"Wow...mendadak sekali Mam!" Jen berteriak kecil di seberang sana.
"Pesankan saja," Sahut Sarah
"Ada urusan apa sih, mam?" Si Jen ini kepo sekali.
"Hush, tidak perlu kamu tahu!" Sarah menjawab cepat.
"Kalau urusan pekerjaan, Jen ikut dong." rengek Jen dari seberang sana
"Kamu tinggal aja."
"Yakin nih, asisten nggak di bawa?"
"Asisten jaga butik selama aku tidak ada."
"Lah, mam...rencananya lama?"
"Kurang tau, yang pasti berangkat."
"Urusan apa, sih?"
"Bukan urusanmu, Jen"
"Eh, di sana kan ada mas Raka? Jangan-jangan mau cuss ketemu mas Raka nih" goda Jen.
Wajah Sarah mendadak memerah, dia tersipu sendiri.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...