Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 54 MENENANGKAN BADAI


__ADS_3

Badan Sarah gemetaran di samping Raka. Air mukanya benar-benar tegang dan bingung. Kejadian yang barusan terjadi di rumah orang tuanya benar-benar mengguncangnya.


"Sayang, kita sudah sampai..." Raka membuka pintu mobil. Mereka kembali ke apartemen Raka.


Raka dan Sarah tak banyak bicara selama di dalam perjalanan. Sarah sepertinya masih tak bisa berkata-kata dan Raka tak ingin menganggunya dengan banyak bicara.


Sarah hanya perlu menenangkan dirinya sebentar, karena apa yang terjadi tadi sudah barang tentu membuat Sarah menjadi serba salah.


Suami yang baik tentu mengerti, kapan harus diam dan kapan harus berbicara di saat situasi sedang kalut.


"Apa salahku...?" Sarah memeluk lututnya, duduk di atas sofa dengan mata yang berkaca-kaca.


Raka melingkarkan tangannya di bahu Sarah dan mencium kepala istrinya dengan sayang.


"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, sayang..." Ujar Raka dengan lembut.


"Kenapa jadi begini? kenapa tiba-tiba semua kacau seperti ini?"


"Itu tidak ada hubungannya dengan kita."


"Tapi mereka memintamu kembali..." Sarah menggigit bibirnya dengan ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikannya.


"Sally...memintamu kembali..." Sarah seolah menegaskannya kepada dirinya sendiri.


"Dengarkan aku..."Raka meraih dagu Sarah dan mendekatkan wajah muram itu mendekat pada wajahnya.


"Tidak akan ada yang berubah, aku adalah suamimu dan tetap seperti itu. Aku akan di sampingmu, mereka suka atau tidak suka!"


Sarah benar-benar hampir tak berkedip menatap Raka, seakan mencari apa yang di butuhkannya untuk berpegangan.


"Tapi, mereka akan memaksaku untuk melakukannya lagi...karena aku terikat membalas budi sepanjang hidupku atas kemurahan telah memungutku. Aku harus membayarnya, mereka selalu memintaku untuk membayarnya..."Airmata Sarah menetes tak terbendung.


"Sayang, jangan kuatir. Aku akan membayarnya bersamamu, jika mereka meminta harga atas kemurahan hati mereka di masa lalu."


"Bagaimana jika mereka memintamu, kembali kepada Sally...?"


Raka menatap Sarah begitu lama, kemudian dengan perlahan jemarinya menyeka air mata Sarah.


"Bukankah kamu telah mengatakan, bahwa kamu mempercayaiku. Aku bukan benda yang dapat di beri dan dikembalikan sesuka hati. Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu, sayang."


"Meskipun Sally seperti itu?"


"Sally seperti itu, karena keinginannya sendiri. Kita tidak perlu ikut merasa bersalah untuk sesuatu yang bukan kesalahan kita."


"Kamu tidak tersentuh sedikitpun dengan penderitaan Sally?"


"Sayang...! Bisakah kamu berhenti untuk selalu menghubungkan perasaanku dengan adikmu itu. Ya, dia pernah menjadi masa laluku, tapi aku benar-benar tidak perduli lagi dengan apapun yang terjadi dengannya!" Suara Raka sedikit meninggi.

__ADS_1


"Tapi dia mengatakan, dia mencintaimu..."


"Dia sedang kehilangan kewarasannya, kata-kata seperti itu tidak benar-benar di sadarinya."


"Bagaimana jika dia benar-benar mencintaimu?"


Raka melepaskan lengannya dari bahu Sarah, wajah itu tiba-tiba begitu dingin bahkan nyaris seperti akan membeku.


"Orang yang benar-benar mencintai tidak akan tega mengkhianati. Entah aku yang telah di bodohi atau diriku yang membodohi diri sendiri sekian lama, sehingga bisa berada dalam lingkaran kepalsuan begitu lama. Jika kamu hanya ingin tahu, apakah jika karena Sally benar-benar mempunyai perasaan kepadaku lalu aku akan berpaling darimu, maka kamu salah besar..."Raka menatap lurus ke arah tembok di depannya.


"Aku mengakui, aku patah hati saat dia meninggalku. Laki-laki mana yang tidak merasa harga dirinya hancur, jika perempuan yang dipercayainya lari dengan laki-laki lain?


Tapi, penyesalan Sally tidak akan membuatku berubah menjadi pengkhianat yang sama seperti dirinya.


Aku, sudah berjanji padamu, menjadi suamimu sepanjang hidupku...dan aku tidak akan mengingkarinya."Raka memalingkan wajahnya, pada Sarah yang menatapnya dengan wajah sembab.


"Kamu benar-benar mencintaiku?"Sarah mengerjap matanya pada Raka dengan lutut yang masih menopang dagunya.


"Ya...aku mencintaimu, Sarah. Aku mencintaimu. Aku sangat...sangat mencintaimu!" Raka memeluk Sarah dan mengecup dahinya.


"Istriku sayang, jangan takut lagi. Ada aku..." Bisiknya lembut di telinga Sarah. Dengan perasaan haru Sarah memeluk leher Raka, air matanya kembali tumpah. Raka mencium mata Sarah yang basah, berusaha mengerti setiap jengkal kecemasan istrinya itu.


Dia ingin Sarah merasa tak punya alasan untuk takut pada apapun lagi, dengan kehadirannya.


"Sayang...apakah kamu mendengar sesuatu?"Tiba-tiba Raka meletakkan telunjuknya di bibir Sarah.


"Kamu tak mendengar suara perutku yang kelaparan?"Raka merengut dengan pias kesal.


Sarah tak bisa menahan senyumnya melihat raut suaminya itu.


"Kita belum makan apa-apa dari siang tadi." protes Raka.


Sarah melirik jam dinding, sudah lewat jam sepuluh malam. Sudah cukup larut untuk keluar mencari makan.


"Pergilah mandi, aku akan membuat sesuatu untukmu." Raka beranjak dengan sambil menyeringai.


"Aku tak punya baju di sini untuk berganti..."Sarah menyahut, dia pertama kali hari ini di bawa Raka ke apartemennya, sepulang dari rumah Lila dan Edgar tadi siang. Jadi tidak ada membawa pakaian. Semua koper pakaian mereka saat kembali dari Leiden ada di rumah orang tua Raka.


"Bajuku banyak, kamu pakai saja yang mana..." Raka menjawab dengan cuek.


Sarah terbengong sendiri, melihat Raka yang berjalan santai menuju dapur kecil di sebelah kamar.


Tapi rasa gerah dan tak nyaman membuat Sarah akhirnya beranjak menuju kamar mandi di dalam kamar Raka. Mengguyur badannya dengan air hangat dari shower benar-benar nyaman.


Sarah membongkar lemari Raka, dan bingung sendiri. Semuanya baju laki-laki.


Kemudian di ambilnya selembar baju hem putih dari gantungan. Mengenakannya seperti daster yang kedodoran.

__ADS_1


Raka muncul di pintu, terpesona sesaat melihat penampilan Sarah.


"Kenapa? Jelek?" Sarah memanyunkan bibirnya, sambil mematut dirinya.


"Tidak sayang, kamu seksi seperti itu..."Raka mengedipkan matanya dan meletakkan nampan berisi satu mangkok besar mie instan lengkap dengan telor ceplok di atasnya pada meja kecil di samping tempat tidur.


"Besok aku telpon Dea untuk membawa baju untukmu. Sekarang kita makan dulu." Raka menggesek telapak tangannya dengan rasa puas.


Raka menyorongkan mangkok besar itu kepada Sarah yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Sayang, jangan kamu kira, cuma kamu saja yang bisa masak. Aku juga masternya."Raka berujar dengan sombong.


Sarah hampir tergelak mendengarnya.


"Masa master chef masaknya mie instan." Sarah tertawa. Raka tersenyum melihat istrinya yang kembali ceria.


"Yang penting, kita makan malam ini. Perang butuh tenaga sayang..."


"Perang?"


"Jangan pura-pura lupa, kamu sudah janji, ada perang lanjutan malam ini."


Sarah mencubit perut Raka dengan gemas.


"Itu saja yang ada di kepalamu..."


"Aku kan cuma menagih janji."Raka menyahut, cuek.


"Tapi kenapa mangkok mie nya cuma satu?" Sarah mengerutkan kening, sambil mengaduk mie di dalam mangkok.


"Itu dua porsi sayang, biar tidak repot cuci piring, jadi di bikin satu mangkok saja." Raka beralasan, yang membuat Sarah benar-benar tergelak.


"Kita berdua makan di satu mangkok saja, paket hemat."


"Sendoknya cuma satu?"


"Kan kamu bisa menyuapi aku, sayang...masa perlu sendok sepuluh?"


Sarah tertawa dengan sikap Raka yang sok manja itu.


Raka menatap wajah istrinya itu dengan lega, dia merasa telah berhasil menenangkan badai di hati Sarah.


Kesusahan hari ini, cukup untuk hari ini, besok akan mempunyai kesusahan sendiri. Setidaknya, hari ini mereka bisa melewati satu masalah meski mungkin belum benar-benar berakhir.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏☺️...


__ADS_2