Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 68 MAAF UNTUK SEBUAH KEJUJURAN


__ADS_3

Sarah membuka pintu dan melihat Raka masih berdiri di depan kaca jendela kamar apartemennya menatap ke arah luar.


Sarah menghela nafasnya, rasanya begitu canggung jika dia mengucapkan sesuatu karena tak tahu harus memulai dari mana.


Dia sangat khawatir Raka masih menyimpan kemarahan. Kejadian di parkiran tadi sungguh membuatnya ketakutan setengah mati. Pertama kali dalam hidupnya melihat Raka begitu marah.


Saat Raka mengayunkan tangannya ke wajah Raka, dia sampai-sampai tak bisa bergerak di tempatnya, seperti terpasung begitu rupa, lututnya lemas karena ketakutan.


"Sayang, aku minta maaf...."Suara Sarah bergetar seolah tercekat di tenggorokan.


Perlahan Raka membalikkan badannya, mata itu masih memancarkan kemarahan tapi di bibirnya begitu tampak seperti penyesalan yang begitu dalam.


"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu."


Raut wajah itu sungguh di luar perkiraan Sarah.


"Aku telah bertindak berlebihan tadi, dia hanya mabuk. Seharusnya, aku bisa menahan diri." Kata Raka, seulas senyum tipis menghias bibirnya.


"Aku yang bersalah." Tangis Sarah pecah, dia berlari memeluk Raka.


Semua perasaan yang campur aduk dalam hatinya setelah kejadian itu, benar-benar menguras emosinya.


Rasa bersalah, rasa takut dan penyesalan campur aduk menjadi satu. Seakan tumpah ruah saat dia berada di dalam pelukan Raka.


"Kamu tidak bersalah sayang, akulah pangkal dari semuanya. Aku pernah mengatakan, mengijinkan kamu menjalin hubungan dengan siapa saja sebagai bagian dari perjanjian konyol yang kubuat. Jikapun kamu pernah mempunyai hubungan dengannya, aku bahkan tak punya alasan untuk cemburu meskipun hatiku terbakar seperti di neraka memikirkannya." Raka memeluk Sarah kuat-kuat.


Sarah menangis sejadi-jadinya di pelukan Raka.


Betapa sakit hati yang dimaafkan begitu saja tanpa harus menjelaskan apapun, dia merasa semakin begitu bersalah pada suaminya itu.


"Aku...aku...benar-benar minta maaf." Suara Sarah tersendat-sendat.


Raka melonggarkan pelukannya, di tatapnya wajah Sarah dalam-dalam.


"Aku juga minta maaf sayang, telah membuatmu sangat menderita."Raka menatap Sarah dalam-dalam.


"Bisakah kita saling memaafkan dan melupakan semuanya."


Suara Raka begitu lembut dalam nada setengah berbisik.


Sarah terharu dengan semua yang di dengarnya, dia tak bisa apa-apa kecuali menangis di depan Raka.


"Sudah, sayang...berhenti menangis seperti itu, nanti babyku di dalam marah. Di kiranya, papanya ini begitu jahat pada mamanya."Canda Raka sambil menghapus air mata Sarah.


Kemudian dengan hati-hati di bimbingnya Sarah duduk di pinggir tempat tidur.


Raka beranjak menuju dispenser di dekat ruang makan, mengambil segelas air dan menyodorkannya kepada Sarah.


"Minumlah..."


"Tapi aku tidak haus."


"Anakku di dalam, bilang dia haus." Raka menjawab dengan senyum kecil.


Sarah menaikkan alisnya sambil menyeka matanya yang basah.


"Mamaku suka buang airmata banyak begitu, semua air minumku habis dipinjam mama buat nangis...dia bilang begitu tadi." Raka mengucapkan kalimat itu dengan sedikit jenaka sambil menunjuk ke perut Sarah.


Mau tidak mau Sarah tersenyum melihat tingkah suaminya yang lucu itu.


Lalu menyambut gelas dari tangan Raka dan meminumnya sambil tersenyum.


Lalu meletakkan gelas di tangannya ke meja tempat lampu tidur.


Raka memegang kedua tangan Sarah, sekarang wajahnya menjadi serius.


"Apakah kamu marah saat aku memukul Dion?"Tanya Raka hati-hati.

__ADS_1


Sarah terdiam, lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya kasihan padanya." Jawab Sarah Lirih.


"Dan takut sekali...."Lanjut Sarah sambil menunduk.


"Takut apa?"


"Takut kamu melihatmu marah dan menjadi cemburu."Jawab Sarah.


"Aku memang marah, sayang...marah sekali melihatnya menyerudukmu seperti itu, lalu memelukmu sembarangan. Aku marah, dia menyentuhmu."Mata Raka berkilat, seolah adegan itu lewat di depan matanya.


"Seorang suami yang mencintai istrinya tentu saja tidak rela orang lain menyentuh istrinya dengan kurang ajar seperti itu. Aku juga tak habis fikir, tanganku begitu refleks memukulnya, sebelum otakku menjadi sadar, aku sudah bertindak begitu saja." Raka memegang dagu Sarah yang duduk di hadapannya, istrinya itu mengangkat wajahnya perlahan.


"Semua di luar kendaliku, Sayang. Terjadi tak terkendali."Keluh Raka.


"Jadi...kamu tidak cemburu?"


"Cemburu? Ya, pastilah aku cemburu, suami mana sih yang tidak cemburu dengan pria yang jelas-jelas menyukai istrinya, bahkan bersikap kurang ajar begitu." Raka merengut.


Sarah menundukkan lagi wajahnya.


"Aku minta maaf untuk itu. Aku juga terlalu terkejut sampai-sampai membiarkan semuanya terjadi."


Raka mengangkat dagu Sarah dengan lembut.


"Sayang, itu terjadi dengan cepat dan diluar perkiraanmu. Sudahlah, mungkin bogen mentahku tadi cukup membuatnya sadar. Jangan berani menganggu istri Raka lagi." Raka terkekeh. Sarah diam seribu bahasa, benar-benar menyesalkan kejadian tadi.


Tiba-tiba Raka membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sarah.


"Sayang, apakah dia benar-benar mencintaimu?" tanya Raka, sambil menatap wajah istrinya yang tampak menunduk mendapati wajahnya dengan terkejut, entah karena sikap manjanya yang mendadak ataukah pertanyaan yang dilontarkannya barusan.


"Aku tidak tahu." Sarah menjawab ragu.


"Tapi aku melihat, dia benar- benar menyukaimu."Raka tersenyum kecil dari atas pangkuan Sarah.


"Kamu tidak akan marah jika aku jujur padamu kenapa Dion bersikap begitu?"tanya Sarah, dengan bimbang.


"Jujurlah, tidak akan ada yang marah jika kita mengatakan hal yang sesungguhnya." Raka memilin-milin rambut panjang Sarah yang menjutai sampai ke bawah dadanya, saat menunduk pada Raka.


"Saat kau pergi ke Leiden, "


"Ya..."


"Aku menerima cintanya."Sarah berucap ragu-ragu.


"Owh!" Pias wajah Raka sesaat berubah, seperti tidak menyangka apa yang di dengarnya itu.


"Kamu tidak marah, kan?"Tanya Sarah menjadi tidak enak.


"Eh, marah? Aku tidak marah!" Raka menyahut sambil menyilangkan tangan di dadanya seolah sedang mendengarkan.


"Tapi..."


"Tapi apa?"


"Hanya dua atau tiga bulan."


"Hm...cukup lama." Raka mengernyit dahi seperti keberatan.


"Tapi..."


"Tapi apa lagi?"


"Aku tidak bisa membohonginya terus-terusan, jadi aku memutuskannya sebelum ke Leiden."


"Kamu bohong apa?"

__ADS_1


"Kalau aku tidak pernah mencintainya, aku...aku ..." Sarah tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kamu kenapa?" Raka mengernyit dahi.


"Aku sudah jatuh cinta padamu, bahkan sebelum kamu pergi ke Leiden" Jawab Sarah dengan wajah memerah.


"Benarkah?" Mata Raka tampak berbinar mendengar pengakuan itu. Sarah mengangguk malu-malu.


"Kenapa kamu tidak bilang, sayang?"


"Bilang apa?"


"Sudah jatuh cinta padaku?"


"Ih....!" Sarah mencubit Raka dengan raut malu.


"Tapi aku benar-benar tidak memiliki perasaan apa-apa padanya." Lanjut Sarah.


"Oh, syukurlah..." Raka mengelus dadanya dengan gaya yang lucu.


"Dion teman yang baik, akan selalu begitu. Di hatiku juga dia hanya teman, hanya saja aku terlalu naif, ku kira saat aku menerimanya sebagai pacar, aku akan melupakanmu."Sarah membelai rambut Raka dengan lembut.


"Tapi dia tak pernah menyentuhku, sungguh...aku tidak mengizinkannya." Sambung Sarah ketika melihat kilat cemburu bermain di mata suaminya itu.


"Aku percaya itu, sayang. Malam pertama kita membuktikan, istriku ini benar-benar tidak akan menyerahkan dirinya dengan sembarangan. Kecuali..."


"Kecuali apa?" Sarah mendelik.


"Kecuali pada pangeran setampan aku. Dion sih, kurang tampan." Raka terkekeh.


"Karena aku berjanji, memberikan diriku hanya pada suamiku." Sergah Sarah dengan wajah masam.


"Terimakasih, sayang. Aku senang ternyata wajah tampanku ini bukan alasannya." Raka terkekeh sambil memencet hidung bangir istrinya.


"Tapi tunggu dulu, Apa mantan mu itu tidak memegang tanganmu? Tidak menciummu?"


Wajah Sarah seketika kembali memerah. Raka menunggu dengan wajah cemberut.


"Mungkin...satu atau dua kali?" Sarah menjawab ragu. Raka merengut mendengarnya


"Eh, tinjuku tadi keras tidak?" Tanyanya tiba-tiba.


"Mana ku tahu."


"Sayang sekali, kalau tidak keras."


"Eh, kenapa?" Sarah membeliak sedikit takut Raka marah.


"Paling tidak, aku meninjunya untuk kekurang ajarannya merayu istriku saat suaminya lagi tidak ada."


"Kamu marah...?"


"Akh, siap bilang aku marah. Mantan-mantan memang suka bikin ribet kalau di kasih hati. Jadi sekali-kali harus di beri pelajaran." Raka tertawa, menenangkan wajah istrinya yang tampak menyesal dengan apa yang telah dikatakannya.


Lalu dengan perlahan Raka menarik leher Sarah, membawa wajah istrinya itu mendekat ke wajahnya. Sarah membungkukkan badannya pada wajah yang sangat tenang di pangkuannya itu, helaian rambut Sarah jatuh menutupi sebagian wajah Raka. Lalu sebuah ciuman hangat itu terjadi begitu lembut dan penuh kasih sayang.


"Sayang, kita tidur di sini saja malam ini."Pinta Raka setengah berbisik.


"Tapi, mama bilang..."


"Soal mama, nanti aku yang urus!"


Menyimpan masa lalu untuk diri sendiri memang kadang adalah yang terbaik, tetapi jujur tentang masa lalu adalah sebuah keberanian.


Yuk, yang baca please like, komen, kalau merasa ikhlas VOTE juga ya mumpung senin noveltoon lagi bagi2 Vote ke readers...🙏☺️


Author kadang kepengen juga, novel ini keliatan femes kayak novel yang lain karena banyak likenya😅😅😅😅 (Eh, maaf authornya terlalu ngarep🤭)

__ADS_1


Happy reading semua, jangan lupa tunggu UP selanjutnya❤️❤️


__ADS_2