Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 57 ANTARA BENCI DAN CINTA


__ADS_3

"Kamu kenapa, sayang...?"Tegur Raka tidak tahan lagi, sedari istrinya itu pulang dari butik , dia menjadi lebih pendiam.


Sarah yang baru keluar dari kamar mandi itu hanya terbalut handuk warna putih. Dia tersenyum sambil menggeleng terlihat sangat di paksakan.


"Aku? Kenapa?" Sarah menunjuk wajahnya sendiri yang terlihat segar.


"Aku baik-baik saja..." Sarah berkilah.


"Kamu lebih pendiam dari saat kamu pulang. Ada yang mengganggumu? si Jen cerewet itu berulah? Biar ku cubit dia, berani membuat istriku ini kesal." Raka yang tampak santai dengan celana pendek dengan kaos tipis itu menaikkan alis legamnya duduk di pinggir tempat tidur.


Sarah cuma nyengir sambil melewati Raka menuju lemari.


Raka yang gemas dengan tingkah Sarah, menarik tubuh Sarah hingga terduduk di pangkuannya.


Sarah terpekik karena terkejut. Tak menyangka Raka melakukan atraksi mendadak seperti itu.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" Sarah menarik handuk yang melorot karena tarikan tangan Raka. Si suami ini hanya terkekeh, saat rambut Sarah yang setengah basah habis di keramas dan dikeringkan dengan tanggung itu menyentuh wajahnya.


"Kamu kenapa sayang? tidak biasanya wajahmu mendung ketika pulang. Persis ibu-ibu yang habis di tagih tukang kredit."


Raka memeluk pinggang Sarah yang terduduk di pangkuannya dengan erat, melawan geliat enggan sang istri.


"Sok tahu..."Sarah masih menggeliat dengan bibirnya yang manyun.


"Aku mengenal dengan baik perubahan sikap istriku ini, kalau lagi senang, marah, kesal bahkan kadang saat sedang syndrome bulanan yang menyebalkan itu."Raka menyusupkan wajahnya di rambut Sarah yang belum kering, bau harum menguar dari sana membuat gairahnya tiba-tiba menggelitik.


"Kalau karena pekerjaanmu yang terlalu banyak, sampai bikin istriku ini bad mood. Aku akan menutup sementara butikmu itu." Sarah mengancam dengan suara serak, posisi Sarah yang menggeliat di pahanya itu membuatnya semakin tak bisa menahan diri.


"Eh, sembarangan. Aku baik-baik saja. Cuma sedang bad mood saja." Sarah menyahut, dia merinding geli saat bibir Raka menyentuh tengkuknya.


"Bad mood pasti ada alasannya, sayang. Atau salah satu mantanmu hari ini datang ngajak balikan..." Raka semakin berbicara ngawur.


Sarah mencubit lengan Raka dengan mimik tidak terima.


"Mantanmu yang datang minta aku menceraikanmu!" Sarah menjawab dengan suara yang kesal.

__ADS_1


Raka menghentikan gerakan susup menyusup di leher Sarah itu. Dia meletakkan kepalanya di pundak Sarah, memandang wajah gadis itu sejenak, menyelidiki pias Sarah apakah hanya bercanda atau serius.


Sarah memalingkan wajahnya, menyambut tatapan Raka yang masih memeluknya erat di pangkuannya.


"Mantanku? siapa sayang?"


"Memangnya kamu punya mantan banyak?"


Raka memicingkan matanya kepada Sarah yang nampak melotot kepadanya.


"Sally? ke butikmu? Menemuimu?" Pertanyaan beruntun yang pendek-pendek itu seolah tidak yakin.


Sarah tidak menjawab, hanya kepalanya yang mengangguk.


"Dia ternyata belum waras?" Raka menaikkan alisnya sedikit mengejek.


"Dia datang karena sudah kembali sehat."Sahut Sarah.


"Dia fix belum waras sayang, kalau dia waras dan otaknya sudah kembali normal dia tidak akan memintamu menceraikanku, yang bukan siapa-siapanya dia. Tapi dia datang ke pacarnya Bram itu, minta di kawini." Raka tertawa kecil sambil mendekatkan hidungnya pada hidung bangir Sarah.


"Tapi, dia benar-benar memintamu lagi, dia mengamuk-ngamuk mengatakan kalau kamu tidak pernah bisa melupakannya." Raut wajah Sarah terlihat kembali suram.


Mata Sarah menyorot dengan tajam kepada Raka.


"Kamu membencinya? Ada yang mengatakan antara benci dan cinta hanya setipis helaian rambut." Sarah mencecar dengan tatapan masih lurus pada wajah yang hanya beberapa centi jaraknya dari wajahnya sendiri.


"Siapa yang mengatakannya?"Mata Raka menantang mata istrinya itu.


"Orang."Sarah menjawab pendek.


"Orang yang mana?" Raka menaikkan alisnya lebih tinggi.


Sarah menggedikkan bahunya tak bisa menjawab.


"Sayang, orang yang mengatakan itu adalah orang-orang yang tak pernah benar-benar tahu rasanya di sakiti dan tidak sungguh mengenal rasanya benci. Cinta dan benci sungguh berbeda. Cinta adalah ketika kita sangat ingin berada di dekat orang yang kita sayangi dan tak ingin menyakiti dia seujung kukupun. Tapi Benci adalah hal yang berbanding terbalik, karena saat kita memikirkannya sedikit saja sudah membuat kita begitu muak.

__ADS_1


Aku membenci Sally? Mungkin saja, karena apa yang dia lakukan pada kita berdua begitu jahat. Tapi mencintainya? Sebentar dulu, aku akan memikirkannya?" Raut Raka tampak seperti orang yang berfikir keras.


Sarah menunggu kelanjutan kalimat Raka dengan rasa penasaran dan sedikit gugup melihat keseriusan Raka saat berbicara.


"Maaf Sayang jika aku mengecewakanmu..." Raka mendesah sambil memandang wajah Sarah dengan penyesalan.


Mata Sarah seketika membeliak, dia selalu mempercayai kejujuran Raka dalam menyatakan perasaannya. Dan sekarang laki-laki itu sedang menatapnya nanar dengan begitu menyesal. Hatinya bergemuruh di serbu rasa takut.


"Aku sudah lupa apakah aku rasanya pernah mencintai dia, karena saat aku jatuh cinta padamu aku telah lupa dengan semua rasa pada orang lain. Aku kehilangan rasa benci, aku kehilangan rasa marah. Yang Ku tahu hanya ingin melihatmu, tak ingin sedetikpun melewatkan wajahmu dari kepalaku. Aku benar-benar tak punya waktu untuk memikirkan yang lain." Raka perlahan menyentuh bibir Sarah yang sedikit terbuka itu dengan bibirnya. Mengecupnya selembut mungkin.


Seiring kecupan hangat itu, hati Sarah yang sedikit membara seperti tersiram air hujan di musim kemarau. Terasa sangat melegakan.


Sarah menggigit bibir bawah Raka dengan gemas. Raka menjerit kecil.


"Kenapa kamu menggigitku, sayang?"Raka menekan perut Sarah untuk menunjukkan protesnya.


"Kami suka sekali mempermainkanku!"Sarah merengut kesal. Raka tertawa lalu tanpa aba-aba tangannya menyusup ke balik handuk yang di kenakan Sarah. Tangannya dengan nakal mempermainkan dada Sarah.


Istrinya itu menggelinjang dengan mata melotot.


Raka segera memeluk Sarah semakin erat di pangkuannya, bibirnya segera menyasar ke setiap lekuk di hadapannya dari leher sampai punggung Sarah.


Suara desahan Sarah yang terbakar gairah semakin membuat Raka bersemangat.


Dengan perlahan ditariknya handuk yang menutupi sebagian tubuh istrinya itu.


Membuat kulit sarah yang mulus itu seperti hamparan keindahan di depannya.


Sarah pasrah ketika tubuhnya dalam sekejap tanpa sehelai benangpun di pangkuan Raka.


"Sayang, jangan pernah lagi meragukan aku, karena aku akan marah padamu kalau kamu melakukannya terus." Lalu Raka memeluk Sarah, tangannya bergerilya setiap jengkal tubuh Sarah, wajahnya menyusuri punggung Sarah dengan lidahnya yang membara.


Sarah tak menjawab kepalanya kosong hampir tak mendengar lagi kalimat yang dilontarkan Raka, hanya matanya yang terpejam ketika Raka memiringkan tubuhnya perlahan, membaringkannya di lengannya yang kokoh, membiarkan rambutnya tergerai menjuntai sementara lehernya yang jenjang terkulai pasrah.


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu lho🙏...

__ADS_1


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Dukungan dari semua Readers adalah semangat author untuk terus UP🙏☺️...


__ADS_2