
"Bicaralah sekarang...aku akan mendengarkanmu." lanjutnya dengan suara yang lebih lunak, Sarah sepertinya sangat tahu bagaimana cara membuat harga diri Sally itu remuk dan terhempas.
Sally melipat kakinya dengan wajah pongah, matanya yang bulat membeliak kepada Sarah, dia merasa seperti di atas angin.
"Aku akan mengambil ruangan papa ini..." Matanya berputar mengedari ruangan besar itu, bertingkah seperti seorang penyita barang.
"Ruangan ini akan menjadi milikku dan mama." Ucapnya dengan lantang, seolah Sarah baru saja merebut apa yang dimilikinya dan dia berhasil merampasnya lagi.
Kepuasan terpancar di raut wajahnya, seakan dia begitu yakin Sarah tak bisa menolak permintaannya.
"Oh, ya...atas permintaan siapa? mama? atau kamu sendiri?" tanya Sarah sambil mengernyit dahi, alis cantiknya itu bertaut.
"Bukan urusanmu!" Sally menjawab ketus, terlihat sekali kalau dia begitu kesal melihat Sarah bersikap begitu padanya.
"Sally, semua di kantor ini sekarang menjadi urusanku juga, apapun itu." sarah tersenyum kecil pada wajah yang kesal itu, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan raut kesal Sally.
"Mama adalah seorang komisaris juga, jadi dia berhak atas ruangan ini! Dan lagi ini ada ruangan papa, mama lebih berhak atas ruangan ini dari pada kamu!" Telunjuk Sally terarah luris kepada Sarah.
"Bukankah mama sudah punya ruangan sendiri di lantai yang sama?" Sarah menyahut dengan alis bertaut.
"Ruangan itu tidak sebesar ruangan papa ini." Sally menyergah dengan judes.
"Untuk apa ruangan yang besar jika orang yang tinggal di dalamnya bahkan hampir tak mengerti apa yang dilakukan?" Pertanyaan Sarah dalam volume rendah tetapi terdengar menohok.
"Jangan bersikap kurang ajar, Sarah. Kamu sadar tidak posisimu sebenarnya siapa?" Sally berkacak pinggang, wajahnya menunjukkan kemurkaan yang tak bisa di tahannya.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang lebih pantas bertanya begitu, Sally."Sarah tertawa dalam nada mengejek yang halus, hal ini membuat Sally semakin terlihat jengkel luar biasa.
"Dari tempat kita duduk sekarang, bahkan seharusnya kamu tidak mengangkat wajahmu padaku di dalam kantor ini." Lanjut Sarah dengan tatapan yang dingin pada Sally yang semakin terlihat begitu terpojok.
"Mama yang menyuruhku..." Sally hampir kehilangan kata tetali dia tak surut untuk menunjukkan perlawanan.
"Mama?" Sarah menukas dalam nada tanya.
"Mama menyuruhmu datang kemari dengan tanpa ijin dan persetujuan siapapun mengambil ruangan ini seperti merebut sebuah boneka mainan? Mama yang kemudian menunjukmu hanya dengan telunjuknya untukmu menjadi seorang CEO dalam perusahaan ini? Apakah kamu tahu itu artinya?" Sarah menaikkan alisnya dengan kepala yang mencorong ke depan.
Sally tak berkedip menatap kepada sarah, tampak semakin gusar dengan sikap kakaknya itu.
"Itu berarti mama masih tidak mengerti etika dan prosedur. Untuk penunjukan Raka sebagai CEO pelakasana papa dan pak Rudiath harus melakukan rapat dewan direksi terlebih dahulu, mengapa demikian?" Sarah tampak semakin serius membuat Sally tak dapat berbicar sepatah katapun.
"Karena CEO adalah ujung tombak perusahaan ini. CEO memiliki tugas utama termasuk di dalamnya membuat keputusan-keputusan besar terkait perusahaan, mengelola seluruh operasional dan sumber daya perusahaan, serta berperan sebagai pemeran utama dalam mengelola komunikasi antara dewan direksi, operasional perusahaan, sekaligus menjadi wajah dari perusahaan. Jika orang yang tidak berkompetensi menjalankannya, maka perusahaan ini akan hancur." Ucap Sarah dengan panjang dan lebar, kedua tangannya sekarang di atas meja menunjukkan betapa seriusnya dia.
Sally yang semula diam, kini kembali meradang, dia merasa begiti diremehkan oleh Sarah sekarang.
"Mama adalah komisaris di perusahaan ini, dia berhak menunjukkan sesorang yang mewakili dia dalam perusahaan ini." sally kini berdiri, dia merasa begitu tidak leluasa hanya duduk dan melotot pada Sarah dari tempat yang rendah.
"Mama mungkin adalah komisaris tapi jangan lupa ada 2 komisaris yang lain mempunyai tempat yang sama dengannya bahkan Pak Rudiath sekarang adalah pemegang saham tertinggi, aku atau mama sekalipun tidak bisa membuat keputusan tanpa melewati beliau."
Sally sekarang seperti kehilangan kata untuk berdebat dalam hal berargumen Sarah jauh di atasnya.
"Baiklah..." Sarah berdiri dengan santainya, badannya yang ramping itu tampak berlenggang acuh tak acuh.
__ADS_1
"Aku sudah bisa menyimpulkan bahwa, kamu menginginkan dua hal hari ini. Yang pertama kamu ingin ruangan ini dan yang kedua kamu menginginkan Jabatan sebagai CEO." sarah menyeringai pada Sally.
"Untuk menjadi seorang CEO, kamu harus memiliki kompetensi yang tinggi, sehingga kamu pantas untuk di andalkan, karena perusahaan ini bukan arena permainan yang bisa kamu duduki dengan sesukamu. Banyak orang yang hidup dengan bergantung pada usaha ini" Sarah tak memberi kesempatan untuk Sally berkata-kata, atau mungkin Sally bahkan tak punya kata untuk membuatnya menjadi terlihat lebih pintar di depan Sarah.
"Untuk permohonan mama ini, akan di sampaikan nanti secara resmi di rapat dewan direksi berikut, mama boleh ajukan kamu di forum, dan...tentunya kamu harus mempresentasikan skill, kemampuan dan kompetensimu di bidang usaha ini di depan dewan. Demi posisi itu, kamu harus memenangkankan dua suara dari tiga komisaris utama. Yang tentunya kamu tahu siapa-siapa orangnya." Sarah mengedipkan matanya.
Sally tercengang pada Sarah, jika ini adalah permainan catur maka dia sedang menerima skakmat dari lawannya. Sungguh, Sally sekarang benar-benar bukan apa-apa jika di bandingkan Sarah, bahkan andai itu hanya bersilat lidah sekalipun, dia akan terlihat bodoh di depan Sarah.
"Dan...untuk permintaanmu yang kedua..." Sarah menghela nafanya sesaat, menatap Sally dengan sikapnya tenang dan tanpa beban.
"Soal ruangan ini..."
BERSAMBUNG... ke part berikut ya.
(Yeayyyy.....terimakasih para pembaca tersayang, segenap readers tercinta telah membaca novel ini, berkat dukungan kalian semua telah mengantarkan Sarah dan Raka pada level 10 untuk level karya di Noveltoon 🤗🙏🙏🙏 Mak othor bahagia banget, pokoknya love buat kalian semuaaaaaa🤗🤗🤗)
Oh, iya nih jangan lupa mampir di karya akak yang lain.
Kalau mau bacaan yang ringan, boleh mampir ke dokter Yogi dan Dea baru launching ini, sudah 10 bab, UP santai Dea, sebagai selingan siapa tahu cari bacaan lain🤠Tidak ada konflik, pelakor2an atau bawang2an di novel Dea ya, ceritanya komedi romantis.
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......