Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 107 HANYA PERLU MENCINTAI


__ADS_3

Sarah duduk dengan raut gelisah ketika menunggu Raka menjemputnya dari kamar hotel, kamar suite room yang menghadap pemandangan kota itu disediakan secara khusus oleh Raka untuk menjadi tempat mereka berdua menginap usai acara pesta perjamuan yang bertempat di ballroom lantai 26, lantai paling atas hotel.


"Aku tidak mau istriku terlalu lelah, jadi usai acara kita berdua langsung beristirahat di hotel saja."Alasan Raka kepada Sarah


Sarah setuju dengan suaminya itu, menurutnya itu adalah ide yang bagus. Dia bisa langsung beistirahat ketika acaranya selesai.


Acara tingkeban sepanjang siang hingga sore tadi cukup melelahkan bagi wanita yang sedang hamil besar ini.


Malam ini dia harus menyambut tamu kembali, tentu saja hal ini cukup menguras tenaga.


Tiba-tiba rasa sedih itu berkelebat, saat dirinya merasa sebatang kara. Semula di acara Tingkeban, dia berdo'a terjadi satu keajaiban, mama dan papanya datang untuk menunaikan ritual tersebut bersamanya. Tapi, mimpi hanya sekedar mimpi. Dia hanya bisa menelan rasa getir, saat menyadari tak ada yang berubah.


Sarah tak bisa berharap banyak, dia sekarang adalah anak yang di buang karena telah berani memilih jalan sendiri. Dia hanya ingin bahagia tapi membayarnya dengan mahal. Keluarganya mungkin tak menganggapnya siapa-siapa lagi.


Dielusnya perutnya yang sudah membesar itu, dua bulir bening jatuh di sudut matanya.


Dia mungkin tidak di anggap lagi, tapi ada seseorang yang kini di dalam rahimnya, seolah menguatkan dirinya tetap teguh pada jalannya.


Sarah tak pernah sendiri lagi, ada seseorang yang kini menemaninya kemana saja.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar, Raka telah berdiri dengan cardlock yang masih ada di tangannya.


Dia telah duluan ke ballroom menyambut tamu, sementara Sarah tadi masih bersiap-siap.


"Sayang..." Wajahnya nampak sedikit tegang dan aneh, menatap Sarah yang segera berdiri dari duduknya.


"Kamu sudah siap?" Tanyanya dengan suara yang tampak ragu.


"Ya, aku sudah siap..." Sarah menunjukkan tampilannya, berbalut dress see-through sleeve bermotif bunga, bagian luarnya lace tipis sementara dalamnya bahan satin lembut berwarna pastel senada dengan warna baju Raka.


"Ada yang ingin bertemu..." Raka tidak beranjak dari pintu, menatap Sarah dengan bimbang.


Sarah mengernyitkan dahi dengan penasaran, tingkah raka sedikit berbeda.


"Siapa?" tanya Sarah, alisnya sekarang terangkat melihat Raka yang tampak serius.


Raka melangkah perlahan ketika seorang laki-laki yang sangat di kenalnya muncul di belakang Raka.

__ADS_1


Mulut Sarah terbuka, dengan raut tak percaya melihat siapa yang di bawa oleh Raka.


"Papa..." bibirnya bergetar memanggil orang yang tampak menyungging seulas senyum tipis padanya.


"Sarah...maaf, papa terlambat datang..."Ucapnya dengan senyum yang lebih lebar.


Sarah menatap dengan matanya yang bulat bersinar, memastikan dirinya tak bermimpi.


"Harusnya papa datang lebih awal, tapi Papa baru saja tiba sejam yang lalu dari jakarta, pesawatnya delay..."


Belum sempat kalimat itu selesai, Sarah menghambur ke arah papanya, airmatanya tak lagi bisa dibendungnya.


"Papa, maafkan Sarah..." Dengan isak yang tertahan karena rasa haru, dia memeluk papanya.


"Sarah, papa yang minta maaf, nak." Suara papa terdengar serak, memeluk Sarah dengan erat.


Sarah tak tahu harus berbicara apa lagi kecusli menangis, dia seolah sedang menerima sebuah keajaiban saat melihat sang ayah muncul di hadapannya.


Raka beringsut pelan dari tempatnya berdiri, keluar dari kamar, memberi ruang dan kesempatan untuk dua orang itu berbicara.


Dia sungguh tak tahu, apa yang menggerakkan papa Sarah begitu tiba-tiba datang, tapi dia berharap ini bukan hanya sebuah drama.


"Papa, terimakasih sudah datang..." Sarah melepaskan pelukannya, dari dulu hanya sosok inilah yang selalu cukup mengerti dirinya meskipun dia tahu, papa tak pernah bisa berbuat banyak di depan mamanya.


Ya, karena Papanya ini adalah adik ayah kandungnya yang sebenarnya.


Ayahnya sendiri setelah kematian ibu kandung Sarah ketika melahirkan Sarah, menyerahkannya begitu saja kepada papanya ini dan menghilang entah kemana. Saat Sarah berusia 7 tahun, masih sempat di dengarnya, sang ayah pergi ke luar Negeri dan tinggal bersama dengan seorang perempuan bule di Kanada.


Tapi setelah itu, dia tak pernah lagi mendengar kabar sang ayah, tapi satu hal yang dia tahu, sang ayah begitu membencinya dan menganggap Sarahlah yang membuat ibunya meninggal.


Kesedihan itu selalu menghantui Sarah saat dia beranjak dewasa, tapi mbok Yem, pembantu di rumah mereka yang mengasuhnya dari bayi selalu mengajarkannya untuk tidak menyimpan dendam dan sakit hati, karena ayahnya mungkin tak bisa menerima kenyataan dengan benar. Suatu saat dia akan mengerti dengan sendirinya, Tuhanlah yang memegang garis takdir manusia. Tak akan pernah ada kebencian yang bertahan lama jika dihadapkan dengan cinta.


Sarah hanya perlu mencintai ayahnya itu dalam keadaan di terima atau tidak, maka suatu saat cintanya akan menggerakkan hati sang Ayah, dan Tuhan sedang bekerja untuk memulihkan semuanya, itulah yang selalu di dengungkan Mbok Yem, sebagai kekuatan untuk Sarah bisa berdamai dengan kenyataan.


Ayah tetaplah ayah, tak ada orang yang bisa memutuskan pertalian darah antara orangtua dengan anaknya meski dengan alasan apapun.


"Memang seharusnya papa datang. Bukankah ada cucu papa yang sedang menunggu?" orang yang selalu di panggilnya papa ini sedikit menunduk, memperlihatkan rambutnya yang mulai perak sebagian itu.

__ADS_1


Matanya berbinar menatap ke arah perut Sarah, dan menunjuknya dengan sikap bangga.


"Selamat ya, nak...sudah lama papa ingin mengucapkannya, hanya saja papa belum punya keberanian untuk menemuimu" Nada Suara papa terdengar berat.


"Sarah yang bersalah, pa...seharusna anak yang datang kepada orangtuanya. Tapi Sarah terlalu takut...."


"Bukan salahmu, nak." Papa memegang bahu Sarah.


"Papamu yang pengecut ini tak bisa berbuat banyak di depan mamamu." Suara berat itu seperti keluh.


"Dan lagi, tekanan oleh sikap adikmu yang semakin menjadi-jadi. Dia terlalu besar kepala karena selalu di manjakan oleh mamamu."


"Sarah mengerti, pa..." Sarah memegang lengan papanya itu dengan air muka begitu bersalah.


Dari dulu, ayahnya tak pernah mau menentang sang mama, dan dia mengerti. Salah satunya selain karena memang modal kekayaan sang papa adalah aset dari keluarga mamanya, mama selalu mengungkit hal itu dan papa tak pernah mau meributkannya.


"Mamamu tidak bisa datang..." Papa berkata lagi.


Sarah menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti.


"Tapi, papa membawa seseorang untukmu."


Papa tersenyum lebar.


Kemudian dengan langkah lebar dia berbalik ke arah pintu seperti telah tidak sengaja meninggalkan sesuatu.


"Siapa, pa...?" Sarah sungguh tak berharap jika papa membawa Sally malam ini, dia masih belum cukup kuat untuk bertemu dengan adik yang dia tahu tak pernah ingin melihatnya bahagia dengan Raka itu.


Saat pintu itu terbuka lagi dan sesosok tubuh berdiri disana dengan tangan bertaut saling meremas di depan dadanya. Memandang Sarah dengan tatapan bahagia.


Sarah tak bisa menahan diri untuk tidak segera menghambur memeluknya.


(Ayok, di VOTE buat yang belum vote mumpung senin pagi yang maniz author UP, biarkan Sarah bahagia hari ini, yaaaa🤗🤗🤗 dan authorpun akan lebih bahagia lagi😂🤭 lope2 yang banyaaaaak buat kalian semua😘😘😘)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...


__ADS_2