Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 177 MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA


__ADS_3

Sally adalah anak yang di besarkan dalam asuhan seorang ibu yang begitu memanjakannya, mamanya tak pernah benar-benar menyalahkannya dalam setiap kesalahan yang dilakukannya karena itu dia hanya tahu bagaimana membahagiakan hidupnya tanpa memikirkan orang lain.


"Aku bersyukur akhirnya dipertemukan denganmu..." Suara itu terdengar datar memecah kesunyian sepeninggal Sarah. Sekonyong-konyong Diah mengangkat wajahnya pada Sally dengan pandangan setajam elang, mata itu seakan ingin menelanjangi perempuan di depannya itu.


"Selama ini, aku benar-benar begitu penasaran dengan perempuan yang sangat di gilai oleh suamiku itu, seistimewa apa dia? dan seperti apa? sehingga dengan suka rela dia mengabaikan anak dan istrinya, keluarga besarnya bahkan mempertaruh segala sesuatu dalam hidupnya..." Suara itu terdengar tanpa gelombang, mengalir begitu saja dari bibir Diah.


"Tapi ketika aku bertemu denganmu hari ini...teris terang aku merasa kecewa, ternyata orang yang ku kira begitu luar biasa itu, jauh dari perkiraanku. Selera suamiku ternyata tak jauh dari bagaimana dirinya. Kalian memang ditakdirkan satu sama lain. Tapi tak bisa ku salahkan juga, kalian berdua memang serasi." Kalimat itu terdengar seperti sindiran yang menyakitkan telinga.


"Apa maksudmu?!" Sally membentak kasar, begitu tersinggung dengan apa yang di ucapkan oleh Diah.


"Kamu tahu benar maksudku. Aku sedang membicarakan perselingkuhanmu dengan suamiku." Jawab Diah acuh tak acuh.


"Bram yang selalu datang padaku! Jangan menyalahkanku untuk kebodohan suamimu!" Sally mendengus kesal menutupi rasa terbakar yang sedang menimpa wajahnya. Tidak hanya wajahnya yang terbakar tetapi hatinya terasa panas luar biasa.


"Aku tak pernah menyalahkan kamu untuk perselingkuhan kalian. Aku hanya menyesali mengapa begitu lama menyiksa diriku sendiri untuk mempertahankan laki-laki yang tak sebanding dengan diriku. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan Bram begitu bodoh?" Cibir Diah dengan halus.


"Orang bodoh sepantasnya lah mencari orang yang selevel dengannya, aku saja yang menilainya terlalu tinggi selama ini." Diah menarik sudut bibirnya, senyum itu begitu kaku.


Mulut Sally terkatup rapat dengan tegang, menatap Diah, ketika perempuan yang selalu diremehkannya ini membalik kata-katanya sendiri, rasanya seperti menelan batu besar.

__ADS_1


"Kenapa kamu kemari? Berdalih menjadi pesuruh Sarah? Kamu ingin membalasku? Ingin merebut Bram kembali?" Sally meracau sambil terkekeh.


"Aku tak perlu merebut sesuatu yang sebenarnya adalah milikku. Sayangnya aku sudah tak berminat lagi untuk mempertahankannya. Ambillah untukmu, mungkin kalian berdua memang di takdirkan untuk bersama. Seperti lalat yang sangat menyukai sampah dia akan selalu betah bersama kotoran, lalu apa pantas aku menawarkannya bertahan?" Diah mengerjapkan matanya, seakan dia bertanya pada seseorang dalam rasa penasaran.


Sally tercengang seperti orang bego, tangannya terkepal naik ke pinggang, dia hendak marah tapi semua seperti terbalik, seharusnya Diah yang mengemis-ngemis padanya demi suaminya atau mungkin mengamuk tak jelas karena sakit hati suaminya di rebut perempuan lain. Tapi, yang terjadi, Diah bahkan jauh lebih tenang dari yang di bayangkan Sally.


"Aku akhirnya merasa kasihan padamu, bahkan lebih baik seorang pelakor yang bersembunyi dan tahu kapan berhenti daripada seorang perempuan yang tak merasa berdosa dengan perselingkuhannya. Artinya, kewarasanmu memang patut dipertanyakan. Untuk apa aku bersikap keras pada orang yang demikian?" Raut wajah Diah begitu tenang, tak terpengaruh emosi seperti halnya yang kini ditunjukkan oleh Sally.


"Kamu ingin memakiku? Ingin mencoba menghinaku? Kamu bukan apa-apa di banding diriku! Kamu perempuan biasa yang bahkan suamimu saja tak menginginkanmu!" Sally meradang. Dia tak terima dengan semua ucapan Diah.


"Aku tidak perlu mengotori mulutku dengan makian, aku tidak perlu mencercamu atau Bram...aku tak perlu membuang energiku untuk sekedar menunjukkan pada kalian bahwa kalian selama ini telah menghancurkan banyak hati dan kehidupan orang lain." Diah tersenyum kecut.


"Bram bersumpah, dia lebih memilihku daripada dirimu! Dia tak pernah mencintaimu, dia sama sekali tak pernah mencintaimu! Kamu keberatan? kamu ingin apa sekarang?" Sally tertawa jahat, dia benar-benar tak punya rasa malu sama sekali.



"Aku tidak lagi berharap dia memilihku. Sungguh, aku tak lagi ingin dia kembali memperbaiki rumah tangga kami. Kesetiaan macam apa yang bisa ku tuntut dari orang semacam Bram? Denganku yang telah bersumpah setia di depan Tuhanpun dia begitu mudah mengingkarinya apalagi padamu yang hanya bersumpah di atas ranjang?" Diah menggeleng-gelengkan kepalanya, senyumnya nampak samar dan dingin bahkan seolah sedang mengejek.


Sally tak pernah merasa dirinya begitu tertampar seumur hidup, seorang Diah telah menghinanya dengan begitu tak terhingga, meski tanpa mengeluarkan sumpah serapah. Sally kehilangan kata-kata di depan perempuan yang telah di sakitinya dengan kejam itu, perempuan yang di anggapnya adalah sampah dalam pernikahan Bram.

__ADS_1


"Ambillah dia untukmu, aku benar-benar ikhlas lahir bathin sekarang, bertemu denganmu setidaknya, aku bisa membebaskan diriku dari perasaan bersalah jika harus kehilangan rumah tanggaku. Terimakasih telah merawat suamiku, silahkan menampungnya seumur hidupmu. Aku akan menceraikannya segera, dengan begitu aku bisa menghalalkan perselingkuhan kalian, tidak nyaman rasanya membiarkan kalian berdua tinggal satu atap, bergelut satu ranjang di bayang-bayangi dosa seumur hidup. Sebagai istri, itu mungkin adalah pengabdian terakhir yang bisa ku lakukan padanya." Diah tersenyum lebar, wajah suram yang kaku itu terlihat lepas, dia tampak puas telah mengeluarkan semua kata yang ingin di ungkapkannya di depan Sally.


Sally berdiri seperti manequin, menatap Diah tak berkedip, tubuhnya gemetar menelan semua kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh Diah.


"Oh, iya...sepertinya ibu Sally terburu-buru tadi, maaf telah menahan anda terlalu lama. Silahkan keluar, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya, memindahkan barang-barang ibu Sarah ke ruangan pak Raka, suami beliau. Jika ruangan ini telah siap, kunci ruangan ini akan saya serahkan pada Lobby lantai ini." Diah membungkukkan badannya di depan Sally dengan sikap formal, tangan kanannya terbuka ke arah pintu.


Sally melongo benar-benar kehilangan semua kata-kata yang ada di kepalanya, Diah mengusirnya secara halus, setelah mempermalukan dirinya begitu rupa.


Sally menelan banyak penghinaan hari ini, dari dua orang yang telah di sakitinya.



"Seni berperang tertinggi adalah bertempur tanpa melakukan kekerasan, mengalahkan lawan tanpa menyentuhnya."


Diah telah belajar dengan benar dari Sarah, bagaimana cara membalas dendam.


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......

__ADS_1


__ADS_2