
(MYTHA)
Mytha berjalan dengan langkah pendek, asisten rumah tangga yang yang menyambutnya di pintu seolah tak dilihatnya.
Matanya yang sembab dengan mulut terkunci, tak pernah asisten muda itu melihat keadaan nyonya besarnya ini begitu menyedihkan seperti kepulangannya kali ini.
"Selamat datang, nyonya..." Sapaan itu tak sedikitpun membuat Mytha menoleh, pias pucat dan dandanan yang berantakan karena sebagian make-up yang menempel pada wajahnya berantakan karena basah sebagian.
Penampilan sang majikan ini menjadi nyaris menakutkan.
Mytha terus melangkah, memeluk tas tangan yang berada di tangannya. Tas tangan itu digenggamnnya erat-erat seperti orang yang sangat takut kehilangan sesuatu.
"Nyonya...apakah nyonya akan makan siang...?"
Pertanyaan berikutnya itu tak di gubris Mytha, dia sepperti Zombie tak bernyawa menuj kamarnya yang berada di lantai satu. Dia sama sekali ta memperdulikan tatapan bingung dan agak takut dari asisten rumah tangganya itu.
Sesaat Mytha seperti orang linglung, berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. dalam beberapa menit dia hanya berdiri menatap pintu kamarnya itu tanpa membukanya sama sekali.
Tiba-tiba dia berbalik, melangkah menuju tangga ke arah lantai atas.
Dan naik sampai lantai tiga di mana Kamar Sally dan Sarah berada.
Dua kamar puterinya yang kini tak lagi mereka tinggali.
Kamar Sarah dan Sally berhadapan, di rancang oleh papa Sarah, supaya dua anaknya itu bisa bermain bersama dan menjadi dekat, tetapi tidak demikian dengan niat Mytha, dia menggunakan kamar itu untuk membuat mereka mengerti perbedaan level mereka.
Mytha membuka perlahan pintu kamar Sally, sebuah kamar besar dengan desain seperti kamar seorang puteri sungguhan.
Kamar mewah itu lengkap dengan sofa dan meja rias yang di dominasi dari kristal, semuanya mencerminkan betapa Sally adalah gadis yang ingin terlihat menonjol dan berbeda, dia ingin menjadi princess dalam segala hal.
Senyum Mytha merekah memandang sekeliling kamar anaknya itu, pias bahagianya tiba-tiba berkelebat di wajahnya yang mendadak menjadi terlihat lebih tua bertahun-tahun dalam sehari.
__ADS_1
Foto Sally kecil dalam pakaian Cinderella, terlihat sangat cantik dan polos dalam bingkai besar di dinding kamarnya, berdampingan dengan foto dirinya yang sudah dewasa dengan gaun malam seksi berwarna merah marun, wajahnya mendongak dengan angkuh tetapi terlihat menggoda. Kontras sekali!
Dua foto itu begitu berbeda, seperti sebuah metamorfosa yang aneh.
Mytha mengangkat tangan kanannya dengan gemetar, terulur meraba permukaan kaca fre foto besar itu.
Senyumnya begitu lebar, mengusap foto itu seolah begitu bangga dengan anak gadisnya itu, anak gadis kebanggaan dan kesayangannya. Yang pada masa kanak-kanaknya tak akan pernah tidur jika dia tidak tidur di pelukannya, bayi cantiknya yang sangat suka merengek padanya.
Semua kenangan manis bersama Sally berlarian membuatnya tak tahan untuk tak menempelkan pipinya di foto anaknya itu.
"Sayang...kesayangan mama...Princess Sally milik mama. Mama rindu..." Ocehnya sambil menciumi foto besar, sebesar aslinya itu meski dia hanya bisa mencapai separuh gambarnya.
"Aku harus bertemu Sally, aku harus menemuinya. Dia harus tahu...dia harus tahu jika Sarah telah mempermalukan mamanya. Dia harus tahu..." Wajahnya mendadak berubah menjadi sedikit tegang, setengah berlari keluar dari kamar Sally, seakan dia benar-benar sedang tergesa.
Tetapi saat dia keluar, tiba-tiba dia berhenti menatap kamar yang berada di seberang kamar Sally.
Matanya tertuju ke arah kamar Sarah.
Entah apa yang kemudian di fikirkannya, tangannya meraih gagang pintu itu, kemudian...
Gagang itu di tekannya ke bawah, dan pintu kamar itu terbuka.
Kakinya yang lrbih kurus daei sebelum perceraiannya itu melangkah gemetar, memasuki kamar yang tak pernah sekalipun di masukinya itu sejak Sarah berumur dua tahun.
Secara keseluruhan, Sarah diserahkannya dengan penuh kepada pengasuhan Mbok Yem. Bahkan dia tak pernah ingin meneliti warna seprei, gorden atau apapun yang menjadi interior kamar puteri angkatnya itu. Mbok Yem dan papa Sarah, Wijayalah yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan anak angkatnya itu dan setelah Sarah cukup besar, dia mengurus sendiri keperluannya.
Sejenak matanya terpana, melihat pada ruangan yang sama besarnya dengan kamar Sally itu tetapi ruangannya begitu sederhana dalam dominansi warna putih.
Interiornya minimalis, tak banyak barang ataupun ornamen. Simple tetapi rapi dan bersih.
Mytha termangu, dulu dia meminta tak ada barang Sarah yang lebih mewah dan bagus melebihi semua kepunyaan Sally untuk membuat Sarah mengerti levelnya.
__ADS_1
Tetapi dia tak pernah menyangka sesungguhnya Sarah telah mbuat dirinya tetap di dalam titik sederhana itu meskipun dia telah dewasa dan mandiri.
Tanpa di sadarinya, dia melangkah masuk ke dalam kamar yang telah di klaimnya pantang untuk di masukinya itu.
Dia memandang sekeliling kamar Sarah dan kemudian menyadari, tak ada hiasan apapun di dinding putih itu, tak ada foto atau pajangan apapun di sana.
Mata Mytha tertuju pada sebuah sudut yang seoerti ceruk di mana tempat Sarah biasanya menggambar atau merancang sesuatu, ada meja dan lemari dinding di sana.
Mata Mytha tertuju pada sebuah foto kecil yang di pajang hanya seukuran 8 R.
Foto itu buram, tetapi masih jelas meski di ambil dengan ketajaman gambar yang jelas dari alat pengambil foto yang telah lama.
Matanya terpicing mendekat, dan segera mengenali siapa yang ada di sana.
Foto Wijaya sedang duduk berdua dengan Sarah dan Sally pada sebuah ayunan kain. Dan pada bagian bawahnya di tempel foto Sarah bayi sedang di peluk Wijaya.
Entah kapan foto itu di ambil, Mytha lupa. Tapi memang tak ada dirinya di sana.
Mytha mengangkat foto itu dengan jari yang bergetar, lalu berjatuhan 3 foto lain dari belakangnya.
Foto berukuran kecil itu jatuh di kaki Mytha. Di pungutnya dengan penasaran.
Seketika dia terpekur menatap foto dua anak kecil di sana, satu berambut lurus dan yang lain berambut ikal, itu adalah Foto Sarah dan Sally di masa kanak-kanak mereka.
Dia tak pernah tahu, Sarah menyimpan beberapa foto masa kecil mereka berdua Sally, terlihat seperti dua orang teman dengan tubuh dan perawakan yang sama tinggi.
Mytha juga tak pernah ingat jika dua gadis ini pernah begitu akrab dalam beberapa kesempatan, dia hanya punya secuil kenangan yang busa di kenang karena sedikitnya dia melihat pada Sarah di masa kecilnya.
"Sally...Sa...Sarah...?" Bibirnya mengucap nama kedua anak gadis yang tampak bahagia di gambar itu dengan menyepak genangan air hujan di depan mereka.
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....