Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 237 BEBAN SERINGAN KAPAS


__ADS_3

Musim dingin di Canada, terasa lebih dingin tahun ini.


Sarah memeluk mantelnya sambil duduk di halaman belakang ranch, pada sebuah kursi menghadap pemandangan bukit di belakang kamarnya.


Nun jauh di kejauhan, pohon-pohon pinus menghijau keperakan, salju sisa turun tadi malam meleleh terpantul cahaya senja yang mengintip jingga dari barat.


Senyumnya merekah ketika si Ry dan Rei berlarian, sementara Rae mengikuti kedua adiknya itu seperti body guard.


"Kakak sudah bilang, pakailah scarf dan kaos tangan, ini sangat dingin." Mulutnya yang cerewet itu mengomel manja, persis Raka saat sedang kesal.


Kedua adiknya itu menurut, menyerahkan lehernya untuk di ikatkan scarf oleh kakaknya, lalu dengan susah payah kakaknya yang perhatian terhadap adik-adiknya itu, memasangkan sarung tangan pada keduanya.


Sarah memperhatikan ketiganya sambil menyeringai, kakak tampan itu memang begitu possesif jika urusan si kembar, meskipun mereka sering ribut tapi Rae selalu mengalah pada akhirnya.


Suara cekikikan kedua gadis itu segera ramai, menghambur pada mommynya.


"Mommy...mommy...Ry mau cokelat." Ry yang sedikit lebih tomboy dari sang adik berselang 5 menit, Rei, meletakkan sikunya di pangkuan Sarah. kedua telapak tangannya menyangga dagunya dengan wajah manja.


"Datanglah pada kakek, dia sedang di dapur membuat cake cokelat dengan grandma." Sarah menowel hidung sang anak yang bangir.


"Okey, mommy." Ry segera berdiri tegak lalu menyambar tangan Rei yang sedang sibuk dengan tali mantelnya. Setelah itu berlari dengan kaki-kaki kecil mereka, suara mereka berdua menjadi ramai sesaat.


"Ry... Rei, jangan berlarian..." Suara Sarah hilang begitu saja, dua gadis kecil itu sudah menghilang.


"Mommy..." Rae duduk di kursi kayu sebelah Sarah, matanya berbinar manis.


"Hm..." Sarah menarik kerah mantel Rae, merapikan rambut anak lelakinya itu.


"Tante Sally memberikan Rae ini..." Rae mengeluarkan sesuatu di telapak tangannya.


"What is this?"


Sarah menatap telapak tangan mungil Rae yang terbuka, di atasnya sebuah kancing baju berwarna merah, sebesar koin kecil.

__ADS_1


"Tante Sally bilang, kalau Rae sedang kesepian, Rae boleh pegang ini." Wajah tanpa dosa itu mendonggak pada mommynya.


Sarah mengambil kancing itu, sesaat bibirnya terbuka, menatap kancing berwarna merah itu. Dia tertegun dengan apa yang dilihatnya.


"Karena tante Sally tidak pernah kesepian lagi, dia memberikan ini pada Rae..."


Itu adalah kancing baju yang di berinya saat mereka kanak-kanak, saat itu Sally belum genap empat tahun dan Sarah meninggalkannya karena dia harus pergi sekolah.


"Kalau kamu merasa sendiri, genggam kancing ini erat-erat. Kamu tidak akan merasa sendiri." Sarah memberinya dengan melepaskan kancing itu dari baju yang di pakainya.


Sarah hampir tak percaya jika kancing itu ternyata masih di simpan Sally saat ini. Kancing itu tetap di genggamnya meskipun melewati pasang surut hubungan mereka. Kancing itu tak pernah di buang Sally meskipun dia mengatakan kalau dia membenci Sarah dengan setengah nyawanya.


"Sayang..." Sarah mengelus kepala Rae dengan lembut.


"Jika tante Sally memberimu ini, simpanlah baik-baik. Benda ini adalah sesuatu yang berharga baginya, dia telah memberikan sesuatu yang penting baginya untukmu karena dia sangat menyayangimu." Sarah meletakkan kembali kancing itu di tangan mungil Rae.



"Sekarang pergilah... cari kedua adikmu, jangan sampai mereka berdua keluar, hari akan gelap." Sarah menepuk pipi Rae yang masih menatapnya tak berkedip.


Perpaduan wajah Sarah dan Raka benar-benar sempurna pada Rae.


"Ok, mommy." Rae berdiri memasukkan kembali kancing merah di tangannya ke dalam saku, lalu berbalik masuk ke dalam rumah kayu mereka dengan langkah kecilnya.


Sarah memeluk tubuhnya sendiri, lampu teras itu sudah menyala karena hari mulai gelap.


Sesaat wajah Sally lewat di kepalanya. Tadi pagi Sally pamit dengan Ricard, psikiater pribadinya untuk berangkat ke Swiss, mereka akan menghabiskan liburan natal dan tahun baru di sana.


Yah, kesehatan Sally sudah jauh membaik dalam tiga tahun terakhir di bawah perawatan sang papa. Dan di satu tahun ini, Sally sudah kembali menjadi sehat sepenuhnya.


Ricard adalah psikiater pribadi Sally, yang telah merawat Sally setiap hari, karena intensitas hubungan mereka Ricard dan Sally akhirnya saling menyimpan perasaan satu sama lain.


Benih-benih cinta tak bisa di elakkan, rasa kasih sayang itu terpupuk perlahan-lahan. Kesabaran dan kebaikan Ricard membuat Sally pulih lebih cepat dari perkiraan.

__ADS_1


Tahun ini, Ricard membawa Sally ke kota kecil bernama Spiez, kota kecil yang berada di tepi Danau Thun, dikelilingi oleh kebun anggur dan hutan, tempat di mana orangtua Ricard berada. Papa Ricard adalah pemilik salah satu kebun anggur di sana.


Mereka mengunjungi kampung halaman Ricard sekaligus untuk mempertemukan Sally pada orangtuanya.


Jika tak ada aral melintang, mereka akan mengadakan pernikahan sederhana di sebuah gereja kecil di kota Spiez pada musim panas tahun depan.


Beban di pundak Sarah terasa ringan seringan kapas sekarang, rasanya semua kebahagiaan sedang berpusat padanya. Kehidupannya terasa tenang dan berbeda, banyak cinta yang bertebaran di sekelilingnya.


Roda sungguh berputar, hidup tak melulu sakit dan air mata karena jika kita diberikan ujian dan kesedihan maka di lain waktu kita akan menerima senyum dan kebahagiaan.


Hanya saja, melewati semua itu perlu proses yang tak mudah, menjadi kuat dan yakin adalah hal yang paling penting.


Papa Sarah juga telah menikah setahun yang lalu dengan Charlotte, Pengurus guest House yang di wariskan almarhum ayah kandung Sarah. Perempuan berusia 45 tahun yang telah bekerja hampir 15 tahun dengan ayah Sarah itu, mempunyai anak satu yang telah menikah dan tinggal di kota lain. Dia adalah perempuan yang baik dan perhatian.


Pak Wijaya merasakan hidupnya berbeda, ketika seseorang memperhatikannya dengan tulus, dalam cara yang sederhana. Entah dengan Charlotte menyeduh teh dan menyajikan cookies di waktu sore atau saat mereka berjalan bersama memeriksa kandang kuda dan memetik bunga liar dari pinggir hutan pinus untuk sekedar di letakkan di atas meja tamu.


Kebahagiaan itu bisa ditemukan di mana saja, bahkan pada tempat yang paling sederhana, saat kamu duduk di atas rumput dan orang yang kamu sayangi ada di sebelahmu memegang tanganmu dan mengagumi dirimu seperti saat dia mengagumi pemandangan di senja hari.


Semua yang tak dirasakan pak Wijaya sebagai seorang laki-laki, di temukannya pada Charlotte yang keibuan, yang tak pernah mengeluh saat mengurus Sally dalam masa pemulihan.


"Sayaaaang..." Sebuah pelukan di leher Sarah, dagunya berada dipundak kiri Sarah.


Raka membungkuk memeluk sang istri dari belakang, membuyarkan semua lamunan Sarah.


"Bisakah kamu masuk sebentar?" Tanya Raka dengan manja.


"Punggungku terasa sakit setelah mencoba membelah kayu bakar untuk perapian. Tolong pijat suamimu ini, istriku yang berbakti dan baik hati..."


"Yang menyuruhmu membelah kayu siapa?" Sarah manyun, tapi belum sempat Sarah melanjutkan kalimatnya, Raka menggendong tubuh sang istri dengan gerakan cepat.


"Katanya, punggungmu lagi sakit?" Omel Sarah, tapi tetap pasrah membiarkan Raka menggendongnya menuju kamar.


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2