Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 166 MEMBALAS DENDAM


__ADS_3

"Kenapa?" Pertanyaan Sarah terdengar begitu samar di telinganya, berdenging oleh kesakitan yang menusuk dari deretan ingatannya sendiri.


Telinga Diah benar-benar berdenging karena kenangan buruk demi kenangan buruk berlompatan di pelupuk matanya.


Bram memang akhirnya pulang tapi atas desakan orangtuanya, bukan karena dia menyadari kesalahannya. Bram pulang pada mereka karena terpaksa, meski akhirnya Beni meninggal 3 bulan setelah kepulangan sang ayah.


Lengkap sudah penderitaan Diah, satu kesalahan yang mengawali seribu petaka yang di alaminya dalam pernikahannya adalah karena melakukan satu dosa yang tidak termaafkan, menyerahkan dirinya untuk di perawani pada laki-laki yang tak pernah mencintainya.


7 Tahun pernikahannya dengan Bram hanyalah penderitaan, 7 tahun pernikahannya tak lebih dari kesengsaraan.


Lalu kenapa dia tidak meminta Bram untuk menceraikannya? Sekali lagi, cinta kadang membodohi orang sampai ke tulang-tulangnya, Diah terlalu takut bercerai dengan Bram!


Karena harta? Bukan! Karena anak? Entahlah, jika itu bisa disebut alasan, karena dia tak merasa mampu menghidupi anaknya.


Kenapa? karena kesalahan yang satu bertaut dengan kesalahan berikutnya, dia menikah dengan Bram hanya lulusan SMA, tanpa pernah bisa melanjutkan sekolahnya akibat dia hamil di luar nikah. Dia tidak tahu pekerjaan apa yang layak untuknya menghidupi anaknya nanti jika dia bercerai dengan Bram. Selama ini dia hidup dalam sokongan keluarga Bram yang kaya.


Diah menebus kesalahannya dengan derita yang hampir tak pernah putus, menutup mata atas perselingkuhan suaminya itu adalah yang paling menyakitkan dalam hidupnya.


Cinta yang membodohinya ataukah dirinya yang telah sukarela menceburkan diri dalam kebodohan karena cinta? Bahkan Diah tak tahu, dirinya masuk dalam golongan kebodohan yang mana?


"Diah...?" Sarah meremas jemari Sarah yang terisak di depannya dengan lutut gemetar.

__ADS_1


"Aku tak tahu...Aku benar-benar tak tahu bagaimana mengatakan padamu. Aku tidak baik-baik saja, aku dan Bram tak pernah baik-baik saja. Aku tak tahu apakah Bram pernah kembali padaku.Bahkan aku tak tahu, apakah Bram pernah menyesali semuanya. Sungguh, aku tak tahu..." Kalimat pilu itu akhirnya di keluarkannya, isela isaknya. Hampir seumur pernikahannya dia tak pernah mengatakan apa-apa tentang perasaan dan pernikahannya pada orang lain. Dia hanya memendamnya, menutup semua aib suaminya itu sebagai aib yang harus ditanggungnya sebagai istri. Dan sekarang, mungkin dia sudah lelah untuk menelan aib itu lebih lama lagi.


"Apa maksudmu?" Sarah menatap tajam kepada Diah yang tubuhnya bergoncang-goncang oleh tangisannya.


"Bram telah kembali pada adikmu..." terbata-bata Diah mengucapkannya.


"Bram kembali kepada Sally?" Rasanya Sarah hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya, dia tak menyangka Sally memang tak pernah berubah, meskipun seperti orang gila merecoki kehidupannya meminta Raka untuk kembali padanya tetap saja dia bersama selingkuhannya, suami orang itu.


Sarah tak bisa berkata-kata, bagaimana menggambarkan moral adiknya itu. Jangankan harga diri, rasa malupun dia tidak punya lagi.


Anggukan Diah, memastikan semuanya, Sally memang bukan orang yang pantas membuat Sarah merasa bersalah lagi.


Handphone di dalam tas Sarah berbunyi, Sarah merogohnya dan melihat, suaminya sedang memanggilnya, mungkin dia sudah tak sabar lagi menunggu Sarah.


Diah mengangkat wajahnya yang basah, membalas tatapan Sarah.


"Apakah kamu ingin membalas sakit hatimu?" tanya Sarah kemudian hampir tanpa ekspresi.


Diah terpana mendengar pertanyaan Sarah yang begitu tiba-tiba.


"Apakah kamu ingin membalas dendam pada orang-orang yang telah menghancurkan hidupmu?" Tanya Sarah lagi, terdengar datar tetapi provokatif.

__ADS_1


Diah masih tak menjawab satu katapun, hanya mata yang penuh penderitaan itu, bersinar tak jelas di balik kabut yang menyelimuti tatapannya.


Handphone Sarah berbunyi lagi, dan foto Profil sang suami yang sedang tersenyum mengiringi deringnya. Dering itu mengisyaratkan Sarah harus segera pergi.


Bersamaan dengan Sarah memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas, tanpa menyambut panggilan sang suami, di keluarkannya sebuah kartu nama kecil berwarna coklat keemasan.


"Jika kamu berubah fikiran dan ingin memberi pelajaran pada mereka yang telah membuatmu menderita, hubungi nomor ini." Suara Sarah terdengar lugas, lalu dengan mata tajam lurus menatap kepada Ibu dan anak itu bergantian, dia mengambil tangan Diah, memasukkan kertas itu ke dalam genggaman Diah yang kaku dan dingin seperti es batu.


Tanpa pamit ataupun mengucapkan selamat tinggal, Sarah berbalik dan bergegas pergi, meninggalkan Diah yang menatap kartu nama kecil berwarna coklat tua bertulis tinta emas :


...SARAH DAVIEKA WIJAYA...


...NO.HP : 08135188******...


...(DESAINER)...



(Yeayyyy....akhirnya mak othor ini crazy UP, yaaa 😂 Mari lemparkan Vote, kopi, bunga, koin, poin...semuanyaaaa😁 Mak othor terima dengan jidat mak yg lebar ini, yang penting kalian semua bahagia🤣🤣 Sayang buat semua pembaca setia MTA☺️)


__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......


__ADS_2