Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 90 BUKAN HANYA SEKEDAR RINDU


__ADS_3

Sarah memeluk sang suami dengan rasa mengharu biru, betapa luar biasanya ketika kita merasa dicintai dengan segenap hati.


"Sayang, aku sangat menginginkanmu..."Raka menarik pinggang Sarah sampai menempel pada tubuhnya begitu erat.


Jemarinya menyasar diatas dress tidur sarah yang tipis itu, sementara bibirnya tak sekejappun melepaskan bibir Sarah yang hanya mampu berdecak, hampir tak bisa bernafas.


"Sayang...."Sarah mendorong perlahan perut Raka yang kencang bergelombang tanpa penutup itu.


Raka yang sudah benar-benar dibakar gairah dan rindu itu menatap ke arah Sarah dengan nanar dan menghiba.


"Ada apa?"


"Biarkan aku mengatur nafas dulu." Sarah sampai dibuat tersengal-sengal oleh Raka.


Wajah Raka memerah, baru ingat Sarah sedang hamil muda, dia terlalu terburu nafs* ingin mencumbui sang istri ini karena dikuasai rasa rindu yang begitu luar biasa.


"Pelan-pelan saja, aku tidak kemana-mana." Sarah menaikkan alisnya yang bagus itu, gigi putihnya menyembul begitu manis membentuk senyum lebar yang menggoda.


Jari jemari Sarah bermain, naik dari atas pusar sampai bagian dada Raka, membuat rasa geli yang aneh tapi menyenangkan.


"Oh, sayangku...jangan menyiksaku." Mata Raka menikmatinya dengan setengah terpejam, sementara tangannya menekan kulit punggung Sarah, seolah begitu terprovokasi dengan semua tindakan sang istri.


"Suamiku adalah orang yang teguh pendirian, tak akan semudah ini mengambil keputusan untuk pulang hanya karena rindu pada istrinya." Ucap Sarah hati-hati, sambil masih memainkan jemarinya di dada Raka.


Seketika Raka membuka matanya lebar-lebar, menatap ke arah Sarah.


Sarah mengangkat dagunya, mendapati suatu reaksi yang aneh dari Raka.


Darah yang semula terpompa sampai kepala, seperti segera terjun bebas, semua keinginan terasa seperti buyar.


Raka tahu, Sarah sedang meminta satu penjelasan darinya, supaya kepulangannya ini menjadi bisa masuk akal, bukan hanya karena sekedar melampiaskan rindu.


Perlahan tangan Raka terlepas dari punggung Sarah, lalu menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ada apa, sayang?" Tiga kata itu membuat Raka merasa seribu pertanyaan sedang diajukan padanya.


Raka membuang pandangannya kemudian menghempaskan dirinya di sofa bed.


"Aku sudah bilang, aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan hubungan kita jika kita berjauhan." Raka menjawab perlahan.


Sarah duduk di samping Raka, diam menunggu. Dia tahu, Raka pasti punya alasan lain untuk kepulangannya yang mendadak dan tak biasa ini.


"Aku benar-benar telah mengajukan cuti kuliah." Raka menatap Sarah, begitu dalam.


"Tapi mengambil cuti tentu bukan satu pilihan jika tidak mempunyai alasan? kamu bukan orang yang mudah berubah fikiran."


"Aku tidak mau ada orang ketiga yang mengganggu rumah tanggaku."


Suara Raka tidak keras, tapi membuat Sarah terkesiap.

__ADS_1


"Kamu...mencemburuiku?"


Bibir Sarah bergetar, sekelebat bayangan Dion lewat di kepalanya.


"Aku tidak mencemburuimu." Raka menyandarkan punggungnya yang polos pada pinggiran sofa.


"Aku tak mau ada salah paham antara kita."


"Salah paham?" Sarah mengulang kata-kata itu dengan heran. Dia merasa tidak ada masalah antara mereka berdua yang mengundang kesalahpahaman.


Raka menghela nafasnya,


"Sally menyusulku ke Leiden tiga hari yang lalu...." Raka berucap kemudian dengan berat.


Sarah benar-benar terbelalak sekarang, jantungnya berdegup lebih cepat, dadanya terasa seperti di himpit sesuatu.


"Sally?"


Raka menganggukkan kepalanya. Tatapannya lurus ke depan, sejurus dengan dinding kamar mereka yang berwarna keperakan dipantulkan cahaya lampu.


"Dia datang ke apartemenku, di antar oleh Willem."


Sarah menelan ludahnya yang terasa mencekat di tenggorokan.


"Sally ke apartemenmu?" Segera bayangan-bayangan buruk berlompatan seperti hantu, membuat kepala Sarah pusing dan perasaan mual menyeruduk perutnya.


"Lalu?" Akhirnya, suara Sarah seolah lepas begitu saja, nada tanya yang terdengar takut itu membuat Raka memiringkan badannya, menghadap Sarah yang terpaku seperti patung di sampingnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Raka membalas tatapan yang tak berkedip ke arahnya itu.


Wajah Sarah merah jambu, dengan napas yang terasa satu-satu.


"Aku menyuruhnya keluar tapi dia tidak benar-benar pulang. Dia memilih tinggal di sana bahkan sampai aku pergi, menyewa sebuah hotel di dekat apartemenku. Karena itu aku memutuskan untuk pulang. Sebelum masalah datang tak terkendali. Sally bukan orang yang bisa di tebak dan mudah menyerah. Aku memilih pulang, melindungi rumah tanggaku sebelum badai lebih dulu datang."


Penjelasan panjang dan lebar itu, membuat Sarah tanpa sadar terpejam, ada lega yang tak dapat dia ungkapkan. Matanya yang panas, membuat embun yang menetes tanpa komando dari mata bulatnya, rasa mual karena tegang, gugup dan takut itu sampai di lehernya dan tiba-tiba dia muntah di dada Raka yang bidang, meleleh sampai ke perutnya yang seperti roti sobek itu.


"Owh..." Raka ternganga, dia tak sempat menghindar dari muntahan sang istri.


"Sarah menutup mulutnya tangan kanannya, sementara tangan kirinya melambai-lambai dengan muka merah, lalu dalam sekejap dia sudah berlari ke kamar mandi.


Raka masih melongo dengan dua tangan masih terangkat, istrinya itu tanpa peringatan telah memuntahinya.


"Sayang, kenapa kamu memuntahiku...?" Raka bergumam serupa keluh meskipun Sarah sama sekali tak mendengarnya, lalu dengan raut masam Raka menyusul Sarah ke kamar mandi.


Di sana, Sarah sudah membersihkan wajahnya di depan wastafel, wajahnya segar merona, sepertinya Sarah telah menyiram wajahnya.


"Kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa, sayang?" Raka mencecar dengan cemas.


"Aku hanya tiba-tiba mual." Sarah menggelengkan kepalanya, dengan wajah tak bersalah.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku..." Sarah segera mengambil tissue basah dan membersih tubuh suaminya.


"Ini tak akan bersih." Raka menatap Sarah dengan pandangan kesal yang di buat-buat.


"Aku minta ma...." belum selasai ucapan itu, Raka telah menarik tubuh Sarah ke bawah shower, lalu memeluk istrinya itu sambil menghidupkan shower, sehingga di detik berikutnya mereka terguyur seperti baru saja diterpa hujan.


"Astaga...sayang..." Sarah melotot pada Raka.


"Apa yang kamu lakukan?" Sarah menatap tubuhnya yang basah kuyup dari atas kepala sampai ujung kaki.


"Kita harus membersihkan diri." Raka terkekeh.


"Aku kan sudah mandi?" Sarah merajuk kepada Raka.


"Kamu bilang ingin membersihkan muntahanmu di badanku, sekarang aku mau kamu melakukannya untukku." Pinta Raka sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, seperti orang menyerahkan diri.


"Tapi membersihkannya, tidak harus begini juga." Sarah memukul dada Raka, dengan pias geli.


Raka tertawa senang telah membuat istrinya itu kembali tenang.


Sebuah kejujuran telah diungkapkannya, dia tak ingin ada satupun yang di sembunyikan, yang suatu saat bisa berkembang menjadi bibit kesalahpahaman dan perselisihan.


Suami dan istri tidak harus merahasiakan hal-hal yang bisa saja akan terasa rancu saat perkara tersebut di dengar dari orang lain.


Katakanlah dan ceritakanlah apa yang mengganjal dan biarlah pasanganmu menilai, batas ketulusan dari kejujuran yang kamu ungkapkan.


"Sayang..." Raka menatap tubuh istrinya yang nampak mempesona, dengan dress yang melekat erat menyatu dengan kulitnya karena basah. Rambut panjang Sarah tampak begitu seksi ketika guyuran air membuatnya kuyup.


Sarah mendonggak kepada Raka di sambut sebuah ciuman yang panas seperti bara, di bawah aliran air yang merembes dari kepala keduanya, menetes lewat ujung-ujung rambut seperti rinai hujan.


Sarah menggeliat pasrah, saat tangan Raka menyusup di antara dressnya yang basah.


Lalu dengan refleks Raka mengangkat sebelah paha Sarah hingga bertekuk menggantung menempel pada pahanya sendiri.


"Sayang, aku sedang hamil...." Desah Sarah dengan suara serak, tapi sama sekali tidak menolak.


"Aku tahu, sayang...aku akan hati-hati." Raka menahan leher Sarah supaya tetap di posisinya, menggerang terpejam.


(Ahaha...cut ya Readers sayang, biarlah percintaan panas di bawah shower ini tidak usah di narasikan, readers silahkan berimajinasi sendiri, yang pasti malam ini adalah milik Raka dan Sarah😂😂)


Jangan lupa Votenya yaaaah🙏🤭



...TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI KISAH CINTA SARAH DAN RAKA🙏...


...Terimakasih untuk VOTE, LIKE, KOMEN dan DUKUNGAN semuanya, author tanpa readers bukanlah apa-apa☺️...


...❤️LOVE U ALL❤️...

__ADS_1


__ADS_2