Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 170 LELAKI KEDUA TERBAIK DI DUNIA


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam, Sarah dan Raka masih harus menemani Rae, bukan karena rewel atau urusan tumbuh gigi lagi tetapi anak itu kebanyakan tidur siang hari ini, jadi malamnya dia melek.


Gara-gara undur-undur ganteng itu, dia dan Raka harus bergantian bergadang mengawasi Rae yang tak bisa diam, bergerak ke sana-kemari.


Herannya, meskipun dia sudah tak lagi bergerak mundur tapi tetap saja daddynya itu suka memanggil Rae dengan my baby undur-undur.


Sekarang Rae sudah mulai berdiri dengan bepegangan pada apa saja, sambil menggigit apapun yang berada di dekatnya.



"Astaga, sayang anakmu ini macam rayap sekarang, pinggir tempat tidur kitapun di gigitnya, dia kira kerupuk kulit apa?"


Raka mengoceh sambil menarik anaknya itu, rasanya hampir tak sempat berkedip, ada-ada saja yang dikerjakan Rae. ini bayi merangkak ke sana kemari, berusaha berdiri di sepanjang pinggir tempat tidur dan sofa.


"Kemarin kamu sebut anakmu itu kelelawar, terus undur-undur, sekarang rayap. Orang kasih panggilan yang bagus dikit napa? Jangan-jangan besok kamu panggil anakmu itu dengan buaya." sungut Sarah.


"Tergantung sikon sih, kalau nanti dia suka mengoleksi cewek mungkin bisa di panggil buaya juga." Raka tergelak.


"Hush...! Mommynya tak akan ijinkan dia jadi buaya." Sergah Sarah dengan mulut yang manyun.


"Kenapa tidak boleh? Rae kan ganteng seperti daddynya, punya pacar setengah lusin sebelum dia nikah masih wajar, kok." Seloroh Raka.


"Memangnya kamu dulu suka ngoleksi cewek, ya?" Sarah melotot pada suaminya itu.


"Mengkoleksi foto cewek pernah, kalau koleksi cewek belum. Kali nanti ada kesempatan, kayaknya boleh di coba..."


"Bukk!"


Bantal melayang di wajah Raka, mendarat dengan sukses.


"Kalau berani macam-macam, awas ya!" Sarah mendelik lucu menanggapi candaan sang suami.


"Belum apa-apa sudah di timpuk, mana bisa jadi buaya kalau begini." Raka ngakak sambil menangkap pinggang Rae yang sudah mulai merayap di pinggir sofa.

__ADS_1


"Sayang, aku harus fikir-fikir seratus kali kalau mau koleksi-koleksian, di telpon bu Indah saja, aku sudah dihukum tidak pakai baju satu malam." Raka tergelak, membuat Sarah kesal bukan kepalang dengan polah suaminya itu.


"Pokoknya Rae tidak boleh jadi playboy!" Sarah melotot lebih besar lagi pada Raka.


"Itu hak azasinya dia sayang, kita mau apa kalau ternyata banyak gadis-gadis yang naksir dia." Raka tak dapat menahan seringainya melihat istrinya yang mendadak serius membahas masa depan percintaan sang anak yang masih panjang urusannya, sekarang saja baru belajar berjalan sambil mencari tumpuan.


"Palyboy kok hak azasi? mana ada undang-undangnya melindungi playboy? Pokoknya, Rae nanti kalau sudah besar harus setia pada satu perempuan, tidak boleh mempermainkan perasaan orang, tidak boleh gonta-ganti pacar."


"Kok tidak boleh?"


"Aku mau Rae seperti daddynya."


"Memangnya daddynya seperti apa?"


"Daddynya setia dan baik, sangat penyayang meski kadang cerewet dan usil...tapi dia adalah laki-laki terbaik di dunia. Aku mau Rae sepeti daddynya menjadi lelaki kedua terbaik di dunia..."


Raka sejenak tercengang, menatap pada istrinya yang tampak tersipu dengan wajah merona, dia membuang wajahnya dengan jengah.


"Kamu sedang memujiku, sayang?" Raka terpesona, tanpa sadar di lepasnya pinggang Rae yang menggeliat mau meloloskan diri dari sang daddy.


"Sayang..."Raka memeluk sang istri yang sedang duduk di pinggir tempat tidur mereka itu.


"Ulang sekali lagi..." Pinta Raka, dengan raut memohon yang lucu.


"Eh, kenapa? aku kan cuma bilang..."


Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, Raka telah membungkam bibir istrinya itu dengan ciuman yang kuat dan panjang.


"Ups..." Sarah hampir terjatuh ke belakang karena serangan mendadak yang tak di sangka-sangkanya itu.


Dengan sigap Raka menopang punggung istrinya itu, sehingga tubuh Sarah melengkung masih dalam kungkungan ciumannya.


"Sayang..." Sarah mendelik, mekepaskan diri dari mulut Raka yang seakan ingin melahapnya hidup-hidup.

__ADS_1


"Benarkah aku laki-laki terbaik di matamu?" tanya Raka dengan wajah serius.


Sarah tak menjawab, binar matanya berpendar sambil menggigit bibir bawahnya setengah menggoda sang suami.


"Menurutmu?" Sarah mengedipkan matanya dengan nakal, sudah lama dia tidak menggoda suaminya itu.


"Sayang?" Raka mengoncang lembut tubuh Sarah yang hanya berbalut piyama tidur itu.


"Tak ada yang lebih baik dari kamu..." Des@han Sarah tak urung membuat Raka tak bisa menahan gemasnya.


Sebuah ciuman lain yang bertubi-tubi membuat Sarah kewalahan.


Tangan Raka mulai bergerilya, ke balik piyama Sarah, menangkap gundukan tanpa penutup yang ada di balik atasannya.


"Hey...!" Sarah blingsatan.


Sebuah remasan lembut serupa pijatan, membuat Sarah akhirnya suka rela menerima perlakuan sang suami. Raka tersenyum senang melihat Sarah yang mulai tak berdaya.


Aksinya semakin tak terkendali, tangannya itu berpindah ke sana jemari, sementara bibirnya kembali *****@* bibir Sarah yang sedikit terbuka, sampai kemudian,


"Prang!!"


Mereka berdua terlonjak dari pinggir tempat tidur itu, semua aktivitas yang sempat memanas itu, berhenti seketika.


Mata mereka berdua sekarang terarah pada sumber suara, dimana Rae sedang berdiri di pinggir meja kecil di sudut tempat tidur, sebuah pot bunga kecil dari keramik terjatuh berserakan di dekat kakinya.


"RAE!"


(Menurunkan tensi pemirsah, dengan yang manis-manis aja dulu bersama baby undur-undur, sebelum masuk part tegang🤣)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama RakašŸ¤—...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......


__ADS_2