Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 36 CINTA YANG ANEH


__ADS_3

Dion merasa kakinya lemas, tubuhnya mundur beberapa langkah. Melepaskan tubuh Sarah yang terisak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dion merasa, semuanya menjadi sia-sia.


Dia merasa sanggup berlaku seperti pengemis yang bisa merubah perasaan Sarah, dia bisa menunggu sampai gadis itu berubah fikiran. Asalkan Sarah tidak meletakkan perasaan cintanya pada siapapun.


Tapi, saat Sarah mengatakan dia telah jatuh cinta pada Raka maka apalah arti semua yang diperjuangkannya, bukankah itu serupa mengenggam air. Tak ada yang bisa didapatkannya.


"Kamu bohong, Cay...kamu tidak pernah mencintai Raka." Desis Dion.


"Maafkan aku, Yon. Maafkan aku..."


"Kamu tidak pernah mencintai Raka. Dia hanya suami palsumu. Dia tidak pernah mencintaimu. Dia tidak pernah memperlakukanmu dengan baik." cecar Dion.


"Aku benar-benar minta maaf." Sarah masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menahan isak dan ketakutannya.


Dion menarik tubuh Sarah mendekat padanya, kemudian dengan kasar menggucang bahu Sarah,


"Lihat aku!" Dion berkata setengah berteriak, memaksa Sarah untuk melihat kepadanya.


Sarah menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Apa yang kurang dari diriku? Apa yang dipunyai Raka yang tak bisa ku beri padamu?" Suara Dion gemetar.


Sarah melepas tangannya dari wajahnya, memperlihatkan wajahnya yang basah.


"Kamu tidak kurang dalam hal apapun, Yon. Hanya saja aku tak pernah bisa menganggapmu lebih dari teman. Aku sudah mencobanya untuk menganggapmu lebih, tapi aku tak bisa." jawab Sarah parau.


"Apa yang membuatmu jatuh cinta kepada Raka?" tanya Dion dengan rahang mengeras, hatinya benar-benar terluka.


"Aku tidak tahu! aku tidak tahu kenapa aku mencintainya. Hanya saja...aku tak bisa berhenti memikirkannya!"


Dion mundur dengan tubuh yang oleng, apalagi yang bisa di katakannya, cinta tak harus mempunyai alasan untuk menjatuhkan pilihan.


Memaksa Sarah mengubah perasaannya, akan menjadi sia-sia.


Dion menganggukkan wajahnya berkali-kali dengan begitu putus asa lalu mengambil handphonenya dari meja makan kemudian menghampiri Sarah yang masih mematung dengan gemetar di tempatnya sambil bersandar pada dinding.


"Baiklah jika kamu ingin mengakhirinya, maka marilah kita akhiri." kata Dion, matanya memerah memendam perasaannya yang hancur.


"Jika kamu merasa tak bahagia dengan Raka, kau tahu mencariku di mana." Lanjutnya.


Lalu dia membalikkan badannya, menuju pintu, meninggalkan Sarah yang hanya terpaku tak bisa bersuara.


Pintu itu di banting dengan keras, membuat Sarah hampir terlonjak di tempatnya.


Saat Dion sudah benar-benar pergi, kakinya terada lemas sehingga membuat terduduk di lantai.


Lalu tangisnya pecah, rasa bersalah, rasa berdosa bercampur baur dengan rasa lega telah mengakhiri semua.

__ADS_1


Cinta memang tak bisa dipaksakan, sebesar apapun dia berusaha. Menjadikan Dion sebagai bayangan untuk perasaannya yang sebenarnya sungguh tak adil. Mengakhirinya semakin cepat mungkin lebih baik, daripada memberi harapan-harapan palsu.


Dion, dia adalah teman baik bagi Sarah yang selalu ada kapanpun Sarah membutuhkannya, tapi Sarah tak pernah bisa membuatkan sebuah tempat di mana Dion mengambil alih semua ingatannya.


Seburuk apapun Raka telah memperlakukan dirinya tapi tetap saja dia menginginkan lali-laki itu.


Cinta memang aneh, benar-benar aneh!


Ponselnya bergetar di atas meja sudut kamarnya, menimbulkan suara berisik di atas meja kayu itu.


Sarah berdiri dengan susah payah sambil menghapus sembab di wajahnya dengan punggung tangannya.


Mengambil ponsel itu dan melihat sebuah nomor kontak memanggil.


"Raka?" Sarah terpana, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya di layar handphonenya.


Ini adalah kali pertama Raka menghubunginya setelah kepergiannya ke Leiden. Hari ini dia menelpon, pertanda apakah ini?


"Hallo..." Sarah menyambut dengan suara bergetar.


"Hallo..." Sarah memejam matanya, suara di seberang itu benar-benar terasa begitu lama tak di dengarnya, seperti bertahun-tahun telah berlalu.


Dadanya terasa berdesir hangat.


"Apakah kamu ada waktu berbicara denganku?"


"Ya..."Sarah menjawab dengan serak.


"Ya, aku baik-baik saja."


" Terasa kamu berbicara seperti...terpaksa."


Sarah menggigit bibirnya, dia tidak merasa terpaksa sama sekali tapi kerinduan yang di rasakannya benar-benar tak bisa dikendalikannya.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar, apakah kita bisa video call?"


Sarah terpana, di lihatnya jam di dinding.


Sekarang menunjukkan jam 9 malam, dengan Belanda ada selisih waktu 5 sampai 6 jam, berarti di sana masih sore.


Sarah menghapus wajahnya yang sedikit basah telapak tangannya.


"Ya..." Jawab Sarah seperti mengambang, dia begitu gugup memikirkan sebentar lagi akan bertemu muka dengan Raka walaupun hanya lewat layar ponsel.


Bunyi nada telpon di tutup, rasanya membuat Sarah semakin gugup. Dengan Reflek dia melepaskan HPnya di atas tempat tidur, membalikkan badan, berkaca di cermin meja riasnya.


Lalu dengan segera merapikan rambutnyadengan sela jemarinya, menepuk-nepuk pipinya yang agak pucat dengan telapak tangan supaya kelihatan segar.


Matanya yang sembab itu, di lapnya dengan tissue.

__ADS_1


Entah mengapa Sarah benar-benar salah tingkah.


Telpon bergetar menunjukkan panggilan video call dari Raka, Sarah mengambilnya dari atas tempat tidur.


Sedikit gugup Sarah menyambutnya dan seraut wajah di sana, yang begitu banyak menyita fikirannya, menatapnya dengan wajah dinginnya yang tanpa ekspresi. Raut wajah Raka yang terakhir diingatnya memang begitu.


Baju Tshirt oblong biru bavy yang di kenakan begitu santai. Dia sedang duduk di tempat tidur sepertinya jika melihat latarnya.


"Hai..." sambut Sarah, buru-buru duduk di pinggir tempat tidurnya juga.


"Kamu sedang di apartemenmu?" Tanya Raka dengan alis yang sedikit mengernyit.


"Ya..."


"Oh..."


"Ada apa?" pertanyaan aneh yang tidak bermutu itu keluar begitu saja dari mulut Sarah, benar-benar membuat Sarah merutuki kebodohannya.


Seharusnya dia menanyakan hal lain yang lebih santai, mungkin bagaimana kabarmu? sedang apa? atau apa sajalah yan penting bukan pertanyaan yang terlalu to the point setengah keberatan itu.


"Aku baru nelpon mama."


"Ya..." Sarah mengigit bibir bawahnya sedikit, berharap Raka tidak terlalu peka terhadap ketegangan yang di rasakannya.


Dia bingung sendiri, kenapa dia menjadi salah tingkah begini, seperti baru pertama kali bertemu dengan Raka.


"Mama bilang, kamu mau menyusul ke Leiden tiga hari lagi, apa benar?"


"Owh...aku..." Sarah bingung harus menjawab apa, dia tidak bilang akan berangkat secepat itu. Dia hanya bilang tadi malam, akan mempertimbangkan menyusul Raka ke Leiden tanpa menyebutkan waktu.


Dan sekarang tanpa membicarakan apa-apa dengan Sarah, mama menyampaikan hal sepenting itu kepada Raka, yang dia sendiri belum menyetujuinya, tentu saja membuatnya kehilangan kata-katanya.


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Raka dengan tatapan menyelidik.


"Aku...sebenarnya..." Sarah tergagap


"Hai, Honey...kamu menungguku?" seorang perempuan berambut pirang berwajah indo itu tiba-tiba muncul di layar HP Sarah, mengalungkan lengannya di leher Raka dengan manja, membuat Sarah mendadak kehilangan suaranya.


Bibirnya terbuka, kalimat yang hampir keluar dari mulutnya, hanya sampai di kerongkongan.



Para readersku tersayang, maafkan jika UP novel ini tertunda begitu lama sehingga mengecewakan para pembaca, di karenakan kesibukan author yang sulit membagi waktu.


Untuk ke depannya, author akan berusaha lebih konsisten dan kalau bisa UP tiap hari🤭🤭


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2