Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 162 RAE SAKIT


__ADS_3

"Sayang...Rae sepertinya sakit..." Itu bunyi telpon dari Sarah yang membuat Raka seperti kesetanan pulang dari kantor. Mereka sudah tinggal di rumah yang baru, otomatis tak ada mama yang biasanya menjadi penyelesai masalah yang berhubungan dengan bayi dan perawatannya.


Memang ada mbok Yem yang bersama Sarah merawat Rae, selain suster Dian. Tapi seorang ibu selalu saja panik jika terjadi sesuatu yang tidak biasa dengan anaknya.


Raka kalau sudah menyangkut keluarga kecilnya itu, sangat over protektif. Dia paling tidak bisa mendengar jika ada yang tak beres menimpa anak dan istrinya itu.


"Sayang...Rae kenapa?" Raka sudah muncul di depan pintu kamar, dengan nafas yang tidak teratur, sepertinya dia sangat terburu-buru pulang dari kantor.


"Rae sepertinya demam, dari tadi dia cerewet, tidak mau lepas dari gendonganku. Biasanya mau sama mbok Yem, sekarang dia benar-benar tak ingin di sentuh orang." Sarah menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rae di dalam pelukannya yang nampak tertidur, meskipun dalam keadaan setengah tidur sepertinya dia masih saja terdengar merengek kecil.


"Rae juga barusan mencret, aku jadi benar-benar kuatir..."


"Dia makan apa tadi?"


"Tidak makan apa-apa, cuma bubur tim, susu dan biskuit, seperti biasa."


"Dia tidak menelan sesuatu yang lain, tidak sengaja?"


Tanya Raka lagi seperti reporter yang sedang mewawancarai korban banjir.


"Sepertinya tidak..."


"Apa dia..."


"Sayang, jangan bertanya terus, sebaiknya kita bawa Rae ke dokter." Sarah menyela, dia mulai terlihat kesal dengan pertanyaan-pertanyaan suaminya yang menurutnya tidak menyelesaikan masalah.


Raka menganggukkan kepalanya, kelihatan dia bingung sejenak sembari menggaruk-garuk kepalanya. Daddy muda yang ganteng ini sepertinya benar-benar sedang berusaha menekan kepanikan dalam hatinya.


Raka mennyentuh kepala sanaknya, terasa hangat.


"Dia sudah minum obat?"


"Aku sudah memberinya obat penurun panas. Sekarang sudah tak sepanas tadi."

__ADS_1


"Suster Dian mana?" Raka bertanya, perawat itu adalah pengasuh Rae kalau Sarah sedang ada keperluan ke luar rumah. Latar belakangnya adalah seorang perawat, tapi di pekerjakan khusus oleh mama Raka untuk membantu mengurus Rae dari awal kelahiran putra Raka, untuk kesehatan Rae, biasanya sustr Dian yang lebih tahu. Suster muda ini adalah anak dari tetangga pelayan rumah mereka, bi asih.


"Dian sedang ke rumah mama, karena ada yang mau dititipnya kepada bi Asih untuk orangtuanya soalnya bi Asih besok pulang kampung menghadiri pernikahan keponakannya."


"Sudah telpon suster Dian?"


"HPnya ketinggalan."


"Telpon mama?"


"Ku rasa jangan telpon mama, nanti dia kefikiran, sebaiknya kita bawa Rae ke dokter saja."


Raka tercenung sesaat, matanya bergantian menatap pada Sarah kemudian pada Rae dengan pandangan cemas.


"Kita bawa Rae ke rumah sakit..."Sambut Raka.


Sarah cuma mengangguk, dia tak tahu harus berbuat apa, Rae benar-benar cerewet sedari tadi. Rae berhenti menangis dan merengek karena capai kemudian tertidur.


Rae sangat jarang sakit, kecuali panas sedikit setelah di imunisasi karena itu Raka maupun Sarah menjadi kuatir berlebihan saat terjadi sesuatu dengan Rae.


"Bukannya Yogi sedang ke Jerman." Raka menyahut.


"Di kliniknya kan' ada dokter anak juga."


"Oh, iya."


Raka benar-benar blank, karena terlalu fokus pada Kecemasannya.


"Kita pergi sekarang?"


"Iya. sebaiknya kita pergi sekarang saja." Sahut Sarah.


Rae merengek bangun melihat daddynya lalu tangannya terjulur seolah minta di ambil, babby undur-undur ini memang sangat dekat dengan ayahnya.

__ADS_1


"Sini Rae ku gendong." Raka mengambil anaknya.


"Sana, bersiap cepat. Siapkan semua tas perabotan Rae, susunya, bajunya, selimutnya, mainannya..."


"Sayang, kita tidak mau pindah rumah, cuma mengantarkan Rae periksa ke dokter."


"Dia tidak langsung di rawat inap?" Raka menatap anaknya yang langsung memeluk lehernya.


"Sayaaaang, Rae cuma demam...bisa di rawat di rumah, kita cuma perlu memeriksakannya penyebab demamnya kenapa, minta resep, terus pulang. Ada aku dan suster Dian nanti merawatnya di rumah.


Kalau memang perlu rawat inap, kan' kamu bisa balik nanti..." Sarah menjelaskan panjang lebar, sang suaminya hanya mengerjap matanya menatap istrinya yang mulai tak sabar.


"Ayo, kita berangkat sekarang kalau begitu!" Ra



Raka menyetir mobil, sementara Sarah memeluk Rae, rautnya sedikit tegang ketika Rae mulai merengek, bibirnya nampak merah dan dia seperti tak nyaman.


"Rae tidak apa-apakan? jagoan daddy tidak apa-apa kan?" Raka sebentar-sebentar melirik pada anaknya yang dipangku oleh Sarah.


"Rae jangan sakit dong, daddy jadi takut nih..." Oceh Raka dengan mimik gugup.


"Sayang, Rae cuma demam." Sarah menyahut, meakipun dia mencemaskan Rae, tapi sekarang dia mencemaskan daddy undur-undur yang terlihat lebih panik dari dirinya.



Begitu sampai klinik, beruntung dokternya baru saja tiba, dan jam prakteknya juga baru di mulai. Mereka pasien di daftar urut pertama.


"Dia tidak apa-apa kan, dok?" Raka bertanya tak sabar, meski baru saja dokter meletakkan stetoskop di dada Rae, dia sudah tak sabaran.


"Tenang, bapak...kita periksa dulu, ya..."


(Sakit apa Rae, ya? VOTE selalu novel ini, biar daddy undur-undur tidak cemas lagi😅 Biasanya emak-emak yang lebih panik kalau anak sakit, tapi ini si daddy lebih gugup🤭)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2