
Suasana pemakaman berlangsung khidmat, hanya di hadiri oleh beberapa orang keluarga dekat.
Pak Wijaya, papa angkat Sarah tak banyak bicara hanya menatap seperti patung ketika peti mati Mytha di turunkan.
Matanya hanya menatap tak berkedip pada lubang yang menganga menybut peti itu. Bahkan do'a yang di ucapkan pendeta serta lagu pengantar yang dinyanyikan para pelayat nyaris tak terdengar oleh telinganya.
Papa Sarah tidak menitikkan air mata setetespun tetapi dia tidak menunjukkan ekspresi yang mewakili perasaannya dengan benar. Hanya terdiam sepanjang upacara.
Sally tak nampak di sana, kesehatan mental Sally tidak memungkinkan untuknya menghadiri pemakaman sang mama.
Sally di titipkan pada seorang perawat dan di bawah penjagaan di kamarnya sendiri dalam rumah mamanya, sementara pemakaman di laksananakan, karena dia seperti orang yang linglung, kadang bicara sendiri seolah sedang berbicara dengan mamanya, kadang dia histeris tak jelas.
Setelah pemakaman, akan direncanakan apa tindakan terbaik untuk Sally.
Tak seorangpun yang cukup baik di kenalinya kecuali Sarah dan papanya. Semua orang merasa prihatin dengan keadaan Sally.
"Papa, seharusnya mama tidak pergi dengan cara begini..." Sarah bersimpuh di depan makam mamanya, menaburkan bunga di atas pusara yang masih merah itu.
Para pelayat sudah pulang, papa dan mama Raka juga sudah pamit, yang tertinggal di sana hanya Raka, Sarah dan papanya.
"Mamamu telah memilih jalannya sendiri, dia adalah orang yang keras hati. Tak akan ada yang bisa mencegahnya melakukan apapun jika dia menginginkannya." Suara Papa Sarah terdengar datar, seolah emosinya begitu jauh.
"Seharusnya, aku tidak terlalu keras pada mama." Kalimat itu di ucapkan Sarah, sarat dengan sesal.
__ADS_1
"Ini mungkin adalah jalan terbaik..." Hanya itu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut mantan suami yang telah menemani hidup almarhum Mytha selama 31 tahun.
Banyak kekecewaan yang tersimpan dalam masa hubungan mereka tetapi tetap saja pernah ada cinta antara dua orang itu.
Meskipun tak ada yang tahu sebesar apa cinta yang pernah ada itu. Tapi mungkin masih ada sisa bara di sana sehingga Wijaya tak punya banyak kata untuk mengatakan apapun soal kesedihannya.
Sejenak kepalanya tertunduk di depan pusara itu, entah doa apa yang sedang di sampaikannya pada Tuhan tapi Sarah tahu, papanya yang pendiam itu sedang berusaha menyimpan rapih perasaan yang kini bercokol di hatinya.
"Pa..." Buliran bening jatuh di sudut mata Sarah.
"Papa tidak apa-apa, Sarah. Mamamu telah lama pergi sejak dulu. Papa saja yang selalu berusaha menahan raganya untuk tetap bersama papa. Tapi sekarang, dia telah bebas, terbang kemanapun dia mau. Tak ada lagi yang membuatnya marah, kesal dan terikat. Dia pergi dengan caranya sendiri. Selamanya Mytha tak bisa terikat pada siapapun, bahkan dia memilih sendiri caranya untuk pergi." Dengan tangan gemetar dia meletakkan setangkai bunga mawar merah di atas dada pusara yang membusung oleh tanah itu.
"Aku tak akan pernah melupakanmu...Seperti apapun dirimu, sesakit apapun luka yang kau gores di sepanjang perjalanan kita. Kamu tetap perempuan pertama yang membuatku kehilangan kata-kata." Bisiknya pelan, hampir tak kedengaran.
Ada seorang pemuda culun yang pendiam, jatuh cinta pada seorang gadis agresif yang terlihat menonjol di manapun dia berada.
Dia cantik, dia memabukkan, dia tak mengenal aturan tetapi seorang Wijaya muda itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari perempuan itu.
Dia seperti magnet yang membuatnya tak bisa menggelengkan kepala, semua hal tentang Mytha membuatnya mengenal bagaimana itu cinta, bagaimana menjadi laki-laki. Dan tanpa Mytha kadang kala dia berfikir dia tak bernafas.
Beberapa bulan terakhir ini setelah perceraian mereka, Wijaya merenungkan banyak hal, dari seberapa panjang masa pernikahan mereka sampai pada seberapa besar pengkhianatan dan kerusakan hubungan mereka selama ini.
Wijaya terluka, dia tak pernah bisa membenci dan mencintai orang lain sebesar dia membenci sekaligus mencintai Mytha dalam hidupnya
__ADS_1
Lalu dengan senyum yang begitu hambar, Wijaya berdiri. Tangannya yang mulai menua itu terulur kepada Sarah yang masih terdiam di depan pusara mamanya itu.
"Nak, mari kita pulang..." Ucapnya dalam suara yang berat tetapi tegas.
Sarah mendonggak pada ayahnya, tak ada penghakiman apapun dari mata tua yang teduh dan diliputi kesedihan itu.
Perlahan Sarah menyambut tangan sang ayah, dan berdiri dalam bimbingannya.
"Berdirilah di atas kakimu tanpa banyak penyesalan, jalan setiap orang berbeda, kamu tidak harus merasa bersalah atas pilihan orang lain. Selama kamu merasa benar, teruslah berjalan, nak..."
"Aku hanya merasa, seharusnya aku bisa mencegah mama melakukan ini."
"Apa yang bisa kamu cegah? kamu tak punya kemampuan melawan jalan takdir hidup seseorang. Kamu telah melakuka apa yang menjadi bagianmu dengan benar dan Tuhan juga melakukan apa yang menjadi bagianNya. Yang terpenting kamu telah begitu berani tetap pada kesetiaan dan kebenaran. Ketika hal buruk ini terjadi, itu sudah bukan tanggungjawabmu. Karena itulah yang memang harus terjadi." Papa Sarah tersenyum pada Sarah, meski raut wajahnya tidak baik-baik saja.
Dia merasa kehilangan, tetapi dia lega dalam waktu bersamaan. Tak ada yang bisa menjelaskan perasaannya dengan benar. Tetapi seperti itulah kenyataannya.
(Ini adalah Cover awal dari novel ini🤭 sekedar mengingatnya sebagai kenangan, nantikan bab berikutnya, yaaa🙏😊)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....
__ADS_1