Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 178 JANGAN MENJADI JAHAT


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Raka berdiri dari duduknya, beranjak dari belakang meja kerjanya, menyambut sang istri yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.


"Aku tidak apa-apa." Jawab sarah sambil tersenyum pada Raka, meletakkan tasnya di atas meja kaaca di tengah ruangan.


"Sally tidak menindasmu lagi, kan?"


"Apakah aku kelihatannya sedang tertindas?" Sarah menyeringai, saat suaminya itu mendekat tangannya mengalung manja di leher Raka.


"Biasanya Sally akan bersikap keras mengancammu, rasanya tak tenang jika kamu harus bertemu dengannya."


"Aku tak akan lagi membiarkannya merampas kebahagiaanku. Apalagi mengambilmu dariku." Sarah mendonggak dengan mesra, rasanya hari ini dia begitu lega, tak lagi membiarkan dirinya di injak-injak oleh adiknya itu.


"Memangnya aku barang yang bisa di ambil dengan sembarangan." Raka merengut pada Sarah, meskipun sebenarnya dia begitu senang melihat bagaimana istrinya mengucapkan kalimat itu dengan possesif padanya.


Seorang laki-laki kadang merasa bangga ketika diperlakukan oleh perempuan dengan begitu berharga. Itu membuat harga dirinya sebagai laki-laki naik seketika. Tetapi di lakukan tidak dengan secara berlebihan.


"Aku tahu, Sally tak akan berhenti untuk mengusikku demi rasa penasarannya padamu. Tapi aku bukan lagi Sarah yang dulu, tak akan ku biarkan apapun yang sudah menjadi hakku direbut begitu saja. Aku tidak akan bersikap lemah lagi dan mempertaruhkan kebahagianku untuk menjadi bahan permainan orang lain." Sahut Sarah dngan mata yang tak berkedip pada Raka.


"Kamu menjadi pemberani sekarang, sayang..." Raka merapikan helaian rambut yang yang jatuh di dahi sang istri dengan perlahan.


"Apa aku salah?" Sarah menatap Raka seperti sesorang yang sedang mencari dukungan.


"Tidak apa sedikit keras saat kita ingin mempertahankan hak dan harga diri kita, tapi tetaplah di dalam koridor yang benar. Kadang kala dendam dan sakit hati bisa menyeretmu menjadi orang yang berbeda tapi jangan kotori jiwamu hingga menjadi jahat." Raka mengatakannya seperti seorang ayah yang sedang memberi wejangan pada puterinya, sikapnya itu terlihat begitu mengayomi.


"Apakah aku terlihat seperti orang yang jahat sekarang?" tanya Sarah, menyeringai dengan lucu pada suaminya itu.


"Aku yakin kamu tak pernah bisa menjadi jahat meskipun kamu berusaha terlihat seperti orang jahat, matamu tak bisa berbohong jika hatimu selalu baik karena kamu sudah terbiasa menjadi orang baik. Aku hanya kuatir kamu terluka oleh apa yang kamu lakukan." Raka mencium dahi Sarah lembut, bahagia rasanya melihat senyum yang menghias bibirnya setelah hampir satu pagi ini dia menyaksikan wajah tegang Sarah dalam perjalanan menuju kantor.

__ADS_1


"Aku tahu sayang, aku tahu apa yang sedang kulakukan, aku selalu mengingat semua yang kamu katakan padaku, kalau aku harus berdiri di batas emosi jangan melangkahinya, jangan biarkan emosi yang mengendalikan kita tapi kitalah yang berkuasa atas perasaan kita sendiri, dengan begitu kita tidak akan menjadi berada di luar batas. Bukankah begitu?" Sarah menggelayut manja, bibirnya yang merah basah itu membuka saat dia mengungkapkan kalimat yang di akhiri tanya itu.


"Isteriku ini semakin pintar saja sekarang...bahkan kata-kataku sendiri telah bisa dia copy paste dengan sempurna." Raka terkekeh lalu dengan gemas melancarkan sebuah ciuman di bibir sang istri.


"Aku adalah murid yang pintar." Sambut Sarah sambil cekikikan ketika raka menggigit kecil bawah bibirnya.


"Dan murid yang pintar tak akan menjadi mahir jika tidak ada guru handal yang mendidiknya." Raka menukas, kedua tangannya melekat erat di atas panggul Sarah menekan ke depan dengan begitu nakal.


Sarah tak menjawab lagi dia sibuk menyambut ciuman sang suami yang tiba-tiba memanas begitu saja.


"Ayolah, Sayang...kenapa kamu memancingku begini dan menjadi begitu bersemangat di siang bolong begini." Raka kewalahan dengan sikap sang istri yang sedikit agresif.


"Aku senang jika akhirnya aku kehilangan kantorku di sini...karena dengan begitu aku bisa mengklaim tempatmu ini sebagai tempatku." Sarah tertawa, melepaskan ciumannya, sementara raka mengejar bibirnya dengan penasaran.


"Akhirnya kamu memberikan ruangan itu padanya? Kamu mengalah begitu saja?"Raka mengernyitkan dahinya pada Sarah.


Mata Raka berbinar terpesona menatap pada Sarah, dia tak pernah menyangka istrinya itu selalu bisa bersikap bijak dalam segala situasi dengan mempertimbangkan segala hal.


"Dimanapun aku berada, jika aku berada di dekatmu, rasanya tak ada yang lebih penting lagi. kamu tidak keberatan kan' kalau aku hijrah ke ruanganmu?" Sarah memicingkan matanya pada Raka, melihat wajah suaminya yang seperti terpekur ke arahnya.


"Aku keberatan..." Akhirnya suara Raka keluar dengan mimik serius.


"Kamu keberatan???" Sarah melepaskan tangannya dari leher Raka, dengan pias yang berubah pula.


"Apa kamu tak ingin aku sering berada di sini?"


"Aku keberatan...karena itu bisa membuatku tak bisa membedakan di mana ranjang dimana meja kerja." raka tergelak melihat wajah emak-emak yang penuh penghakiman itu muncul di permukaan wajah cantik sang istri.

__ADS_1


"Kamu nakal sekali, sayang..." Sarah mencubit perut sang suami denagn cemberut tapi Raka sudah memeluknya dengan gemas, menyosor seperti bebek mencari cacing di wajah sang istri.


Sarah menggeliat dengan mimik kesal yang di buat-buat, yang membuat Raka tak tahan untuk tak menciuminya bertubi-tubi.


Jemari Sarah naik ke kepala Raka, memasukkan tangannya di sela rambut sang suami, menjambaknya dengan mesra.


Tangan Raka sendiri sudah turun dari pinggang sampai ke panggul, meremasnya dengan lebih provokatif.


"Ishhhh..." Sarah menggigit bibirnya, ketika jemari nakal itu berselancar semakin jauh, menyusup ke sana kemari.


"Sayang, jangan begini." Sarah akhirnya berbisik dengan parau.


"Aku harus bagaimana? Kamu yang memulai..." Raka terus bergerilya.


"Aku hanya main-main saja tadi." Bisik Sarah, dengan raut memohon supaya Raka menghentikan gerakan-gerakannya yang semakin liar.


(Ops...Othor tarik nafas dulu, sementara si kukuk sedang bangun mendadak siang-siang ini, mak othor jadi bingung sendiri😅


"Suami yang baik, adalah imam dan pengingat bagi sang istri". Selalu berada di koridor yang benar membuat kita dan pasangan kita tidak tersesat atau kemungkinan untuk salah bilik😅


Double UP gak ya hari ini🤔🤭)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......

__ADS_1


__ADS_2