
Dengan tatapan yang tak beralih sedikitpun dari wajah Diah, Doddy menegakkan tubuhnya di kursi, jemarinya bertaut, bibirnya yang tipis itu terbuka perlahan,
"Saat aku berpisah dengan seseorang, kemudian aku menyadari bahwa aku sangat mencintainya...jika aku bertemu kembali dengannya di lain waktu setelah itu dan dia tak terikat pada siapapun lagi...aku mempercayai satu hal tentang takdir itu....berarti dia adalah jodohku."
Diah seperti orang baru keselek sesuatu karena rasa terkejut yang tak bisa di bendungnya, mendengar kalimat yang keluar dari laki-laki tampan berwajah serius ini.
"Hah..." sepotong kata itu terdengar dari mulut Diah, matanya mengerjap lucu.
"Aku tidak sedang merayumu, Diah...aku hanya menyampaikan keyakinanku terhadap perasaanku." Doddy menjadi salah tingkah sendiri, tetapi dia merasa telah selangkah lebih maju dari saat sebelumnya, sekarang dia pantang untuk mundur atau meralat semua kata-kata yang telah dikeluarkan oleh mulutnya.
Seorang pelayan tiba membawakan juice yang mereka pesan dan hidangan pembuka yang ringan, melegakan Doddy menghindari sejenak tatapan Diah yang terpana pada ucapannya dan mengatur diri untuk berbicara lagi.
Dia sudah merancang kalimat per kalimat selama dalam pesawat dari Jakarta menuju Surabaya, bahkan tadi siang dia melewatkan jam makan siang, terlalu sibuk berfikir untuk berusaha bersikap normal jika bertemu dengan Diah.
Dan sekarang dia benar-benar merasa dirinya seperti orang bodoh, tak satupun kata yang sungguh bisa di ingatnya, dia seperti anak remaja yang kebingungan saat harus mengatakan perasaannya.
"Apakah kamu pernah bertanya kemana saja aku pergi selama ini? atau mungkin sedikit merasa kehilangan? " Tanya Doddy sambil terkekeh, seolah sedang bercanda, padahal karena dia tak bisa menyembunyikan gugup yang sedang dirasakannya.
Diah adalah cinta pertamanya, Setelah sepuluh tahun kemudian berjumpa dan perempuan yang disukainya itu telah menikah bahkan telah memiliki anak dengan orang lain, itu bukan hal yang mudah bagi Doddy.
Hanya saja, perasaan cinta memang tak pernah bisa dimengerti, Doddy tetap saja tak bisa menglihkan matanya saat melihat Diah. Cinta lama yang dipendamnya itu bersemi seperti bunga di siram air hujan.
"Tentu saja." Diah menyahut, membuyarkan semua fikiran Doddy yang sedang mengambang ke sana ke mari.
"Tentu saja aku sedikit penasaran dengan kemana saja kamu selama ini? Aku bingung kenapa kamu tak pernah memberi kabar apapun. Aku takut telah berbuat salah padamu di waktu terakhir kita bertemu." Lanjut Diah dengan malu-malu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak berusaha menghubungiku jika kamu memikirkanku?" tanya Doddy tiba-tiba.
"Aku tak bisa melakukan itu, sangat tidak sopan seorang perempuan dengann status sepertiku menghubungi seorang laki-laki lebih dulu, apalagi tanpa kepentingan apa-apa." Diah menjawab sambil berusaha tertawa meskipun sangat terdengar garing.
"Apakah kamu tak pernah merasa penting padaku?" cecar Doddy.
"Aaa...bukan begitu maksudku. Hanya saja, rasanya tidak etis jika aku berusaha menghubungi seorang laki-laki." Diah menjawab salah tingkah.
"Aku hanya bercanda, Diah...jangan merasa bersalah begitu." Doddy tak tega melihat wajah Diah menjadi merona, walaupun karena pias itu wajah Diah malah semakin cantik saja.
"Aku menyelesaikan kuliahku di London, karena sebelumnya saat aku terlibat projek Sarah dan Raka, aku dalam keadaan libur dan mengumpulkan data untuk tugas akhirku menyelesaikan program S-2.
"Dan apa?" Tanya Diah sambil menaikkan alisnya, menunggu.
"Dan aku ingin menguji hatiku, apakah aku benar-benar hanya memikirkanmu." Doddy menelan ludahnya sendiri, berusaha membasahi kerongkongannya yang mendadak menjadi kering.
Dia tak pernah melakukan ini, dan bersikap seperti layaknya seseorang yang jatuh cinta.
Diah hanya bisa melongo menatap kepada Doddy, jantungnya semakin berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Aku sampai kemarin sore di jakarta dari London dan hari ini aku tidak tahan untuk tidak langsung ke Surabaya. Dan orang yang ingin kutemui hanyalah kamu. Kemudian aku mennyadari bahwa aku tak bisa berhenti memikirkanmu." Lanjut Doddy, matanya tak lepas dari Diah yang memandangnya tak berkedip.
"Apakah kamu memikirkan aku juga?" Tanya Doddy, begitu to the pointnya sampai-sampai Diah hanya termangu.
__ADS_1
Sejenak keduanya hanya terdiam dan saling pandang, sebelum Diah menunduk dalam-dalam.
"Aku...aku tak berani memikirkan dirimu." Jawab Diah terus terang.
"Saat kamu tak lagi menghubungiku, aku menjadi tahu diri bahwa aku bahkan tak mungkin menjadi temanmu lagi. Kita sangat jauh berbeda dalam hal apapun juga...aku benar-benar tak berani untuk memikirkanmu." Suara Diah hampir tak terdengar.
"Aku memang tak berniat menjadi temanmu, Diah..."Doddy menyambut dengan nada yang sangat tegas.
Diah mengangkat wajahnya yang seperti shock mendengar kalimat yang dilontarkan Doddy.
"Aku hanya ingin menjadikanmu teman hidupku." Ucap Doddy kemudian setelah menghela nafas panjang, sebuah kalimat yang dirancangnya dalam setahun ini, akhirnya keluar juga.
Diah sekarang benar-benar shock. Doddy tanpa banyak kiasan telah membuat jantungnya serasa melompat dari dalam rongganya.
"A...apa maksudmu?" Diah benar-bnar takjub dengan apa yang di dengarnya.
"Aku tak ingin berbicara tentang langit biru, tentang janji yang mungkin tak bisa kutepati. Aku bukan perayu ulung yang bisa membuat hatimu berbunga-bunga. Aku sungguh tak bisa melakukannya." Doddy berucap, di bawah lampu yang bersinar di dinding-dinding sudut tempat meja mereka itu, mata Doddy berkilat begitu hangat.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, Diah...Will You marry me?"
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1