
Raka mematung, jantung berdebar keras. Bukan karena pelukan Sarah yang begitu erat sehingga membuatnya sesak nafas, tapi luapan perasaan yang tiba-tiba terasa begitu ruah tak terbendung.
"Sarah..."Raka terpaku di tempatnya berdiri, aliran darahnya seperti sedang pasang, berusaha meraba bagaimana harus menyikapi adegan yang mendadak ini.
Sesaat mereka berdua seperti patung, terdiam tanpa bicara, hanya desahan nafas mereka terdengar bersahutan.
"Aku memang bodoh, menganggap pernikahan kita ini adalah hal yang serius. Maafkan aku, yang tak bisa menepati janjiku meneruskan sandiwara ini, aku telah menghianati perjanjian kita dengan jatuh cinta kepadamu."Suara Sarah pelan dan getir di telinga Raka.
Raka meremas tangannya sendiri dengan keras, dia tidak sedang bermimpi. Sarah benar-benar sedang berbicara kepadanya.
Gadis itu sadar sepenuhnya dan tidak sedang mengigau.
"Raka, kamu boleh memulangkan aku besok jika kamu tidak menginginkanku. Aku akan bersedia dengan suka rela menandatangani surat cerai sekembalinya kamu ke Indonesia. Aku berjanji tak akan menganggumu lagi."Suara Sarah terdengar semakin perlahan, pelukan erat Sarah terasa mengendor.
Tiba-tiba Raka memegang kedua jemari itu sebelum lepas dari bahunya dan berbalik menghadap gadis yang kini tertunduk di hadapannya dengan rambut tergerai.
"Aku tidak akan memulangkanmu!"Sahutnya kemudian, dengan cepat.
"Aku tidak akan melepasmu begitu saja!"lanjutnya dengan tegas.
Diangkatnya dagu Sarah dengan lembut dan mendapati pelupuk mata gadis itu sedang berkaca-kaca seperti embun yang hendak jatuh dari permukaan daun.
"Sarah, kenapa kamu jahat sekali? Kenapa kamu baru bilang sekarang?"pertanyaan Raka membuat Sarah mendonggak kepadanya dengan tatapan tidak mengerti.
"Tak tahukah kamu?Aku lebih tersiksa darimu!"
Raka menarik tubuh Sarah dengan kasar ke pelukannya, lalu mendekap Sarah yang tiba-tiba terisak dalam pelukannya.
Semua perasaan yang di tahannya seolah saling berlomba untuk keluar dari dalam dadanya.
Seperti air dalam gelas yang sudah tak muat lagi.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu sebelum aku pergi, supaya aku tidak pernah meninggalkanmu." Raka membungkukkan badannya, supaya wajah mereka menjadi sejajar. Dia berusaha mencari mata gadis itu, seperti ingin menemukan sesuatu yang sangat dicarinya.
"Aku...aku..."Sarah tergagap, lalu menggigit ujung bibir merahnya yang sedikit basah itu, matanya yang bulat bening itu berkedip, seolah hendak mencari kata-kata.
Tanpa sempat membuka mulutnya lagi, tiba-tiba Raka dengan gerakan tak terduga, menempelkan bibirnya kepada bibir Sarah, sebelum Sarah menyelesaikan kalimatnya. Dengan tak sabar dan tergesa dia menarik leher gadis itu, mencium bibir Sarah dengan gemas seolah-olah itu adalah hal yang sangat ingin di lakukannya sejak lama.
__ADS_1
Sarah menerima perlakuan mendadak itu, dilanda gelombang shock, matanya tak berkedip lagi karena terkejut dengan apa yang dilakukan Raka, jemarinya yang dalam genggaman tangan Raka yang lain mengepal dengan tegang.
Dia serupa manequin yang dipajang, berdiri kaku tanpa sedikitpun berani bergerak.
Ciuman penuh kerinduan itu hanya berlangsung singkat, karena perlahan Raka melepasnya mendapati Sarah sama sekali tak bereaksi.
Sarah mendonggak pada wajah Raka yang sudah berdiri tegak, seolah sedang menata kesadarannya itu.
"Kenapa?"Raka mengernyit dahi dengan salah tingkah, ketika menyambut pandangan menuntut dari Sarah.
Seseorang yang sedang jatuh cinta, memang kadang bersikap melawan kebiasaannya. Sarah yang cenderung pemalu itu tiba-tiba berjinjit dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, kedua tangannya mengalung di leher Raka, bergantung supaya tidak kehilangan keseimbangan lalu tanpa bicara dia meraih bibir Raka mendarat ciuman lembutnya di sana.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa berhenti?"Bisik Sarah dengan suara yang parau.
Mendengarnya, Raka terkesima, si gadis lukisan yang dingin ini ternyata begitu berani padanya.
Raka menurunkan wajahnya dan sedikit menunduk, lalu kedua lengannya merengkuh punggung ramping Sarah sehingga gadis itu melengkung di dalam pelukannya.
Dengan bersemangat dipagutnya bibir Sarah yang basah dan panas itu, dilum*atnya dengan penuh gairah. Nafas mereka berdua saling berpadu sampai tersengal, berusaha saling membalas. Kerinduan yang di tahan begitu lama ternyata terlalu banyak untuk ditampung. Ciuman itu hanya mampu memuaskan sebagian dari banyak keinginan yang mereka pendam.
Ciuman kedua ini, begitu panjang dan membuat mereka berdua hampir kehilangan keseimbangan.
Mereka berdua melanjutkan ciuman panjang itu, benar-benar penuh penghayatan.
Raka menarik wajahnya setelah sekian lama, menatap tubuh Sarah yang melengkung pasrah tersandar di punggung kursi.
"Apakah kamu tahu, aku telah jatuh cinta padamu sejak lama?"tanya Raka dengan suara gemetar.
"Sejak kapan?"tanya Sarah sambil berusaha mengatur nafasnya yang turun naik tak beraturan, ciuman panas tadi hampir membuatnya kehilangan oksigen.
Raka memicingkan matanya, seolah mengingat-ingat, tapi kemudian dia ragu sendiri, tidak yakin sejak kapan itu.
Apakah sejak dia berangkat ke Leiden, ataukah sejak mereka berdua sering berbagi kamar? Atau mungkin lebih lama dari itu, mungkin sejak mereka berdua bersandiwara mesra di depan seluruh keluarganya?
Bahkan sekarang dia berusaha mengingat ke hari pernikahan mereka, jangan-jangan sebenarnya dia telah jatuh cinta kepada gadis ini sejak hari itu, saat melihatnya menggunakan pakaian pengantin dan berjalan seperti melayang di udara kearahnya.
Raka mengangkat jemarinya, lalu dengan lembut menyibak beberapa helai rambut yang jatuh di dahi Sarah.
__ADS_1
"Sayangnya aku benar-benar lupa kapan aku mulai jatuh cinta kepadamu."Sarah tersenyum kecil melihat reaksi Sarah yang kecewa mendengar jawabannya itu.
"Kamu sendiri sejak kapan jatuh cinta pada suamimu ini? Aku yakin kamu telah jatuh cinta kepadaku sejak pertama kali melihatku, sehingga kamu suka rela menikah denganku." Raka mengedipkan sebelah matanya menggoda Sarah.
"Sembarangan!" Sarah mencubit perut Raka dengan muka masam, wajahnya merah padam.
Raka menangkap tangan itu lalu mengambil jemari sarah, menggenggamnya dengan erat lalu menatap terharu pada jari manis di mana cincin pernikahan mereka melingkar dengan manisnya.
Dengan lembut diciumnya jemari Sarah, betapa berbedanya jemari itu dari saat dia menyematkan cincin itu, berbulan-bulan yang lewat.
Dulu, jemari itu begitu kaku dan dingin di genggamannya, sekarang terasa sangat hangat.
Dia merapatkan tubuhnya kepada tubuh Sarah, yang terpaku kaku menunggu itu, jemarinya menyusuri pipi Sarah sampai ke lehernya, lalu dengan perlahan wajahnya menyusup kesana, menghujaninya dengan ciuman. Sarah mendesah dengan pasrah matanya terpejam menikmati semua sentuhan itu dengan badan panas dingin.
Jemari Raka bergerilya di antara dress katun Sarah, menyusuri kulit mulus nan lembut yang ada di baliknya. Sarah bergelinjang, tangannya sendiri bertahan pada tubuh yang kini mendominasi berusaha membuat lehernya terkulai di sandaran kursi.
"Aku benar-benar mencintaimu, sayang."Bisik Raka di telinga Sarah.
Sarah tiba-tiba mendorong tubuh Raka dengan raut kesal.
"Aku tidak suka di panggil sayang!"
"Kenapa?"Raka menghentikan gerakannya.
"Karena kamu hanya memanggilku sayang, jika bersandiwara di depan orang-orang."Jawab Sarah masam.
Raka tertawa tergelak mendengarnya lalu dalam detik berikutnya tubuh Sarah sudah berada di dalam gendongannya.
"Kamu akan tahu, apakah aku benar-benar serius atau tidak dengan kata sayangku itu sebentar lagi di atas sana." Raka mencium bibir Sarah sekilas, saat gadis itu bergelayut manja di lehernya.
Lalu dengan langkah tegap dan tak sabar dia membawa tubuh ramping di pelukannya itu menaiki tangga menuju kamar di lantai atas.
(Nantikan next episode yaaa...🤭🤭 Sabar author mengatur nafas dulu🤣🤣)
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...