
"Sayang..."
Raka tak bergeming.
"Sayaaaang..."
Raka membuka matanya dengan enggan, wajah sang istri terpampang di depan hidungnya, berbinar-binar seolah berharap dia segera terbangun.
"Ya..." Raka benar-benar merasa baru saja memejamkan matanya, istrinya ini sudah membangunkannya.
Suara rengekan baby Rae mau tak mau membuatnya harus membuka mata lebar-lebar, meski terasa diberi pemberat batu besar.
"Aku harus ke toilet, tolong tenangkan Rae sebentar." Wajah penuh permohonan itu membuat Raka benar-benar tak berdaya.
Selama tiga minggu ini, dia benar-benar merasa menjadi daddy siaga, yang harus bangun dan tidur tidak jelas bersama Sarah.
Baby Rae akan tidur tenang di siang hari hampir sepanjang hari, bahkan Sarah kadang harus membangunkannya untuk menyusui tetapi malam dia melek seperti kelelawar saja.
"Entah bagaimana, dia telah menukar hari sesukanya, siang jadi malam, malam jadi siang."Raka benar-benar tak habis fikir.
"Ya, aku akan melihatnya." Raka mengumpulkan kesadarannya, lalu bangun. Tempat tidur baby Rae ada di sebelah tempat tidur mereka berdua, persis di sebelah tempat Sarah.
Baby Rae yang berumur belum genap bulan ini, bukan bayi yang suka menangis, tapi dia sanggup terjaga di malam hari dan pasti merengek-rengek kalau merasa tidak ada orang yang berada di dekatnya.
Dia hanya akan menangis jika merasa tidak nyaman dengan popoknya yang basah saat ia buang air kecil atau besar dan terlebih lagi saat lapar ingin menyusu.
Sarah memang memberikan asi eksklusif buat si ganteng Rae ini, jadi Sarah tidak pernah jauh-jauh dari Rae.
"Sayang, Daddy di sini..." Raka mendekati baby box tempat Rae tampak sedang sibuk menggerak-gerakkan kaki dan tangannya.
Mendengar suara Raka, bayi mungil ini terdiam, seolah memberi reaksi bahwa dia mendengar daddynya ini berbicara padanya.
Raka menepuk-nepuk lembut kaki Rae sambil tersenyum, entah kenapa Raka merasa selalu kagum pada putranya ini, seolah tak percaya, bayi tampan ini adalah buah karyanya.
"Aku adalah seorang kreator pemahat bayi ulung...nanti, kalau kamu mau memberikan adik untuk Rae, aku siap bekerja keras dengan suka rela." Goda Raka pada Sarah.
"Sayang, sakitnya melahirkan masih terasa, masa buru-buru memberikan Rae adik?" Sarah protes.
"Untuk hamil selanjutnya di caesar saja sayang, aku tidak sanggup lagi mendampingimu melahirkan normal. Rasanya aku sewaktu-waktu bisa pingsan."Usul Raka.
"Katanya daddy siaga?"
__ADS_1
"Aku siaga yang lain saja, kalau untuk yang itu cukup satu kali. Melihatmu seperti orang sekarat membuatku hampir tak bisa bernafas."Jawab Raka.
Dia benar-benar masih merasa trauma untuk pengalaman mendampingi sang istri bersalin.
"Ih, jadi suami kok begitu?"
"Karena aku tak bisa hidup memikirkan kehilanganmu."
"Suami penggombal!" Senyum Sarah yang lebar selalu membuat Raka merasa hidupnya senpurna.
Rengekan Rae dari dalam box segera menyadarkan Raka, si bayi kesayangannya ini sedang ingin di pegang olehnya.
Memang sedikit aneh kebiasaan Rae kecil ini , hanya Raka yang bisa menenangkan Rae jika sedang menangis tak jelas atau tidak nyaman dengan sesuatu.
"Sayang, mommy pergi sebentar saja." Raka berucap lembut, Rae menggerak-gerakkan kaki tangannya, selimutnya di tendangnya kesana kemari.
Raka menggaruk-garuk kepalanya, mata anaknya ini lebih cerah dari cahaya lampu, tak ada tanda-tanda mengantuk.
"Sayang, ini sudah jam dua subuh, bisakah kita berdamai malam ini?" Raka mengambil Rae dan menggendongnya.
Rae tampak terkekeh, berusaha menatap wajah sang daddy seolah sedang memperhatikan. Tangan mungilnya bergerak-gerak di udara.
Raka sudah cukup mahir mengganti popok, Sarah dan Raka sudah belajar cepat dalam merawat bayi mereka.
Raka dan Sarah memang sangat terbantu dengan sikap protektif mama dan bantua dari suster Dian, perawat pribadi mama. Kalau malam, mereka berjibaku mengurus Rae yang senang terjaga itu.
Untuk sementara Sarah dan Raka merasa tidak perlu bantuan pengasuh, mereka enjoy merawat Rae, bahkan Raka lebih sering di rumah dari pada di kantor. Edgar sang kakak dengan suka rela membereskan urusan bisnis bersama papa, mereka sangat memahami euforia seorang ayah baru itu.
Sarah muncul beberapa saat kemudian, tersenyum senang melihat ayah dan anak yang tampak akur itu.
"Sayang...sini..." Sarah menjulurkan kedua tangannya, mau mengambil Rae dari gendongan daddynya.
Begitu berpindah tangan, Rae menangis keras, seolah sadar dia tak lagi berada di pelukan sang daddy.
Sarah berusaha menenangkan Rae tapi tangisannya makin menjadi.
Raka meminta Sarah menyerahkan Rae kembali padanya.
Seperti benar-benar mengerti, tiba-tiba Rae berhenti menangis.
Sarah hanya menggedikkan bahu, seperti itulah ritual malam mereka. Rae hanya tenang jika dipeluk oleh Raka.
__ADS_1
"Oh, sayangku...betapa pengertiannya kamu dengan mommymu ini." Sarah terkekeh melihat Raka yang hanya bisa menikmati kemanjaan Rae di pelukannya.
"Sayang, kamu telah memanjakannya dari dalam kandungan, dia sekarang sangat terikat padamu." ucap Sarah sambil tersenyum lebar pada Raka.
"Sayang, dia sepertimu, suka sekali mengerjaiku." Keluh Raka.
"Dia sepertimu juga, sangat manja dan pemilih." Sarah menimpali, lalu naik ke tempat tidur.
"Bawa kemari, biarkan Rae berbaring di sini." Sarah menunjuk bantal bayi yang audah di letakkannya di antara mereka berdua.
"Aku akan menggendongnya sebentar lagi sampai dia tertidur. Kamu tidurlah lebih dulu, Rae sepertinya sudah kenyang, mungkin sebentar lagi batman kecil ini mengantuk."
Raka memeluk Rae di dadanya, menepuk-nepuk dengan sangat lembut punggung Rae.
Sarah tak mau mendebat sang suami, dia tersenyum sendiri sambil bergelung di dalam selimut. Membiarkah daddy muda itu menina bobokan Rae kecil dalam pelukannya.
Beristirahat bergantian sambil menjaga batman kecil mereka itu adalah trik yang cukup membantu.
"Sayang, ayo tidurlah...biar daddy bisa tidur juga. Kasihanilah daddy mu ini. Besok daddy ada meeting pagi." Bisik Raka sambil mencium kepala Rae. Si bayi mana mengerti, tangannya malah bergerak-gerak senang diperlakukan seperti itu.
Raka mengelus-ngelus punggung Rae sambil mondar mandir, dilihatnya sang istri sudah terlelap tenang sepertinya, seolah mempergunakan kesempatan tidur mumpung ada yang mengasuh Rae.
Handphone Raka bergetar diatas meja, menandakan ada pesan yang masuk.
Raka melirik ke arah jam dinding, masih jam dua lewat lima belas menit. Siapakah yang mengirim pesan pada jam sesubuh ini?
Dengan penasaran, Raka mengambil handphonenya, sementara tangannya memeluk erat Rae yang sudah mulai tertidur di dadanya.
Sebuah pesan dari Willem,
hallo hoe gaat het met je bro?
Bijna het nieuwe semester ingaat, moet je je meteen opnieuw inschrijven als je verder wilt studeren.
(Hallo, apa kabar bro? hampir masuk semester baru, kamu harus segera registrasi ulang jika ingin melanjutkan kuliahmu)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...