
Sarah terbangun pagi-pagi, melirik kesampingnya Raka masih terlelap sementara Rae di boxnya tak kalah lelapnya dari sang daddy.
Sarah tersenyum sendiri, matanya beralih ke jam di dinding, pukul 04.30 WIB. Rae tidak terganggu sama sekali saat Sarah menyentuhnya. Dia benar-benar tidur nyenyak.
Sarah berjinjit perlahan, dia masih punya waktu setengah jam untuk mandi dan membersihkan diri sebelum membangun Rae, memberikannya ASI.
Untuk seorang ibu dengan anak bayi, waktu yang hanya setengah jam itu sangat berarti.
Mandi tanpa di iringi tangisan tak sabar adalah hal yang luar biasa nikmat.
Sarah sedang merapihkan rambutnya di depan cermin ketika sebuah pelukan dari belakang di lanjutkan sebuah ciuman di atas kepalanya.
"Istriku sudah cantik pagi-pagi..." Suara Raka terdengar serak dan berat.
"Ah, sayang...kamu sudah bangun." Sarah memeluk lengan Raka dan mendonggak pada wajah tampan yang sedikit acak-acakan itu.
"Ya, pangeran kecil itu tidak terlalu rewel tadi. Dia tidur lebih cepat dari perkiraan." Raka terkekeh.
Tangan Raka menggerayangi leher dada montok Sarah dengan nakal.
"Hush...Sayang! ini belum 40 hari, lho." Sarah menepis tangan Raka.
"Iya..iya...cuma kangen pegang. Rae selalu saja menguasai wilayah favoritku ini."Raka merengut pada sang istri.
Sarah tertawa mendengar selorohan Raka yang sok cemburu dengan anaknya itu.
"Aku akan membangunkan Rae, ini hampir tiga jam dia tidur, terlalu nyenyak sampai lupa lapar." Sarah mengernyitkan dahinya sambi melirik pada baby Rae yang masih terlelap dalam boxnya. *********** terasa mulai nyeri dan bengkak, sepertinya isinya harus segera di keluarkan.
"Sayang..." Tiba-tiba Raka menahannya.
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu."
Sarah terpana sejenak mendengar suara Raka yang mendadak serius, tak seperti biasanya.
Sarah perlahan berbalik dan berdiri, sementara Raka menariknya ke sofa bed dan membimbing istrinya duduk di sana.
Sejenak Raka dan Sarah bertukar tatap, sepertinya Raka bingung harus memulai dari mana.
"Ada apa?" Akhirnya Sarah membuka suara.
"Aku hanya ingin mendiskusikan sesuatu denganmu." Jawab Raka sambil menggedikkan bahu.
"Tentang apa?"
__ADS_1
"Tentang berangkat ke Leiden."
"Leiden?" Sarah sedikit terhenyak, otaknya baru syncron dengan maksud Raka, dia segera sadar Raka sudah melewatkan satu semester dan liburan semester. Yang berarti semester baru di mulai lagi, jika Raka ingin melanjutkan, sekaranglah waktunya.
"Ya, Willem mengirimkan jadwal registrasi daftar ulang, sepertinya masuk awal semester di awal bulan depan." Sahut Raka sedikit ragu.
Sarah menghela nafasnya yang terasa sedikit berat, matanya melirik pada baby Rae yang sedikit menggeliat di dalam tempat tidurnya.
"Aku...aku...harus bilang apa?" Sarah bertanya setengah terbata. Dia tak tahu harus bilang apa.
Sebagai istri yang baru saja melahirkan rasanya bohong dia tidak keberatan jika suaminya itu harus pergi jauh sementara dari dia dan anak mereka.
Tapi, di sisi lain, seorang istri yang bijak tidak bisa menjadi batu sandungan bagi karier dan cita-cita suaminya.
"Kamu mau aku melanjutkan kuliah atau tidak?"
tanya Raka kemudian.
"Mau tidak mau, itu bukan keputusanku, kalau menurutmu itu baik dan sesuai dengan keinginanmu...maka aku juga cuma bilang...lakukan saja." Jawab Sarah meskipun sedikit ragu.
" Hey, kamu kan istriku, kamu berhak bilang setuju atau tidak setuju." Tukas Raka.
"Aku setuju..." Sarah menyahut cepat. Raka tercengang dengan kecepatan jawaban istrinya itu.
"Dan aku tidak setuju..." Sarah menarik nafasnya sesaat.
"Itu jawaban sebenarnya, jika kamu ingin tahu tentang perasaanku sesungguhnya. Jauh darimu, bukan hal yang mudah dan menyenangkan bagiku dengan baby Rae. Kami sangat membutuhkan kehadiranmu di saat-saat seperti sekarang. Tidak ada istri yang benar-benar tak masalah jika harus LDR dengan suaminya." Sarah tertunduk.
Dia tak tahu apakah sikap jujurnya ini merupakan sikap yang tepat, tapi setidaknya Raka tahu seperti itulah perasaannya sekarang.
Sarah juga bingung, sejak kehadiran baby Rae, dia merasa begitu ingin selalu berdekatan dengan Raka, rasanya ada yang kurang jika sang sang suami tidak ada di dekatnya. Mungkin itu adalah perasaan emosional seorang ibu baru ataukah memang dia jatuh cinta lagi pada suaminya itu.
Raka menaikkan alisnya dan mengangkat dagu Sarah yang tiba-tiba tertunduk.
"Kamu tidak sedang mencemburuiku, kan?"tanya Raka setengah menggoda.
"Aku tidak cemburu padamu." Mata Sarah mengerjap pada Raka, istrinya itu mengingatkannya pada gadis yang di anggapnya seperti lukisan saat di awal pernikahan mereka, hanya saja lukisan yang kini dilihatnya itu begitu hidup dan penuh kehangatan.
"Bener? Tidak cemburu?" Raka terkekeh.
"Sumpah, aku tidak merasa cemburu padamu, aku tak punya alasan untuk menyimpan perasaan seperti itu." Sarah cemberut.
"Kenapa kamu tidak pernah merasa cemburu pada suamimu ini? apakah aku kurang tampan? Apakah aku bukan salah satu type perempuan-perempuan di luar sana..."
__ADS_1
"Sttt..." Sarah menutup bibir suaminya itu dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak punya alasan untuk cemburu untuk suami sebaik kamu, apa yang harus kutakutkan karena aku tahu benar tempatku ada di sini." Sarah menunjuk dada suaminya itu.
Kalimat yang teramat manis itu, tak urung membuat Raka terenyuh, dadanya menggelayar hangat, sebuah ciuman mendarat di bibir Sarah yang begitu dekat dengan wajahnya. Dia sungguh tak bisa menahan diri.
"Ops...sayang, kamu belum sikat gigi." Sarah mendorong Raka dengan sikap enggan yang di buat-buat.
"Akh...dulu, pagi-pagi kamu mau saja ku cium, merem melek malah!" Raka menyahut dengan cemberut.
"Ih, enak saja...merem melek apanya, kamu yang maksa!" Sarah mencubit perut sang suami, di sambut pelukan Raka yang mendekapnya erat.
"Sayang..." Raka berkata kemudian dengan lembut.
"Aku tak akan pergi kemana-mana..." Lanjutnya kemudian sambil mengecup rambut Sarah yang wangi.
Sarah terdiam, dia tertegun beberapa saat.
"Aku sudah mempertimbangkannya bahwa kamu dan Rae jauh lebih penting dari apapun di dunia ini. Jika saling berjauhan membuat kita tidak bahagia, mengapa kita harus memaksa melakukannya?"Pertanyaan itu bukan semata ditujukan pada sang istri tetapi lebih pada dirinya sendiri.
"Pendidikan memang penting, tapi keluarga jauh lebih penting. Apa yang ku cari lagi? aku punya istri dan anak, aku punya kalian yang membuatku selalu rindu untuk pulang. Berada di tempat yang benar, pada waktu yang tepat.
i'will standbye here with you, honey..." Raka memeluk erat Sarah yang tak dapat menahan perasaannya untuk tidak menitikkan air mata.
"Bagaimana mungkin aku melewatkan tumbuh kembang si batman kecil kita itu...takutnya kalau aku pergi, dia tidak kenal yang mana daddynya yang mana sopir..." Raka tertawa kecil, seolah mencairkan keseriusan mereka berdua.
Saat Sarah mendonggak ke arah Raka dengan mata basah, Raka tak tahan untuk tidak mencium bibir istrinya itu. Sarah menyambutnya dengan lembut, menyalurkan rasa bahagia yang tak bisa di bendungnya atas keputusan sang suami.
Suara tangisan Rae yang keras dan melengking, seolah dia terbangun oleh ketidak nyamanan, mungkin dia lapar atau popoknya basah. Tangisan si Raka junior itu membuyarkan kemesraan sang daddy dan mommy yang lagi tenggelam dalam suasana.
"Bocah ini tahu benar kalau daddynya lagi mengganggu mommynya." Sungut Raka.
"Dia bilang, ini belum 40 hari daddy...dilarang dekat-dekat." Ledek Sarah sambil beranjak melepaskan diri dari pelukan sang suami.
Jika ingin semuanya fokus dan berhasil, di antara dua pilihan salah satu memang harus di korbankan. Setiap orang mempunyai prioritas untuk dirinya, yang mana yang layak untuk di jalani.
(Terimakasih sudah stay bersama Raka dan Sarah, semoga ada hikmah dari setiap cerita ini😅 Nantikan episode selanjutnya, ya...🙏☺️)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...