Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 199 MENGANTAR SURAT


__ADS_3

Hari sudah lewat tengah hari, Sarah dan Raka baru saja kembali dari makan siang. Setelah mencek beberapa dokumen yang di kirimkan oleh kantor cabang mereka di Bali, Raka tak bisa menahan kantuknya. Dia masuk ke kamar rahasia mereka di belakang lemari arsip, sementara Sarah masih memeriksa laporan dari butiknya yang di kirim Jen lewat email.


Ya, sekarang mereka sudah mempunyai satu ruangan khusus di dalam ruangan kerja Raka yang lumayan besar itu, dengan permintaan Raka satu ruangan tak seberapa besar di dalamnya itu disulap dan di dekor ulang untuk menjadi ruang istirahat berisi sofabed besar yang dijadikan tempat santai sekaligus menjadi tempat tidur. Kadang-kadang Rae dibawa ke kantor dan menjadi tempat tidur yang nyaman bagi bayi yang sebentar lagi berusia satu tahun itu.


Sebelumnya ruangan itu adalah ruang wardrobe yang berisi lemari beberapa sepatu dan pakaian Raka, memang di buat untuk menyimpan barang-barang darurat Raka dari masa dia masih lajang, karena kesibukannya kadang-kadang Raka tak sempat pulang dari pagi hingga malam. Pada waktu tertentu malah harus langsung menghadiri pertemuan atau semacamnya, karena itu dulu ruangan itu di fungsikan untuk menjadi ruang segala kebutuhan Raka oleh Dea.


Sekarang ruangan itu, dinamakan Raka sebagai ruang rahasia, pintunya berada di balik lemari buku dan arsip.


Tapi yang paling utama, tempat itu adalah tempat si kukuk kalau lagi kebelet ingin bertemu sarangnya, si kukuk yang nakal itu kadang-kadang gemas tak tahan melihat Sarah.


Setiap hari dia selalu saja merasa jatuh cinta dengan sang istri. Raka tidak bohong dengan perasaan itu. Meski pernikahan mereka sudah memasuki tahun ketiga, tapi mereka masih seperti pasangan muda yang baru berpacaran.


Maklum saja, mereka menikah hampir tanpa saling mengenal baik, kemudian disatukan dalam pernikahan yang terpaksa, lalu jatuh cinta stelah merek sudah menikah.


Belum sempat menikmati Indahnya berdua, mereka langsung dikaruniakan putra pertama mereka Rae, si undur-undur ganteng yang lucu itu.


Sekarang, Sarah dan Raka sedang menikmati berpacaran setelah menikah dan mempunyai anak.


Nikmatnya bukan main, tidak perlu takut kebablasan karena mereka adalah pasangan yang sudah di ikat dalam pernikahan suci.


Raka benar-benar sedang sangat bahagia dengan pernikahannya itu, begitupun Sarah, dia sangat termanjakan oleh sang suaminya yang selalu menatap dirinya dengan cinta itu.


"Kita harus selalu berusaha intim di manapun memungkinkan, demi program Rae punya adik terlaksana segera."


Raka sangat ingin Sarah segera memberikan anak lagi,


"Rumah akan ramai jika ada banyak bayi di dalamnya."


"Menurutmu apa Rae tida terlalu kecil untuk punya adik?" Sarah sepertinya ragu jika dia segera hamil lagi, meskipun sebenarnya dia tidak memakai kontrasepsi. Jika memang di beri cepat, Sarah pasrah saja tapi andai boleh memilih, Sarah ingin menundanya sampai setengah tahun lagi.


"Sayang, pokoknya kalau Tuhan kasih, cepat atau lambat, kita terima saja."


"Ya, bagaimana tidak cepat, itu si kukuk getol sekali bersarang." Sarah manyun pada Raka, suaminya itu sepertinya semangat dalam siaga produksi baby sangat luar biasa. Bahkan jika mereka tidak sedang sibuk, dan Sarah ikut ke kantor untuk beberapa urusan, sempat-sempatnya menculik sang istri ke kamar rahasia di dalam ruang kerja Raka.

__ADS_1


"Bagaimana tidak getol, punya istri secantik ini, sayang lho di anggurin." Kilah Raka, sementara tangannya segera travelling kemana-mana.


"Kalau Rae punya adik, kamu janji lebih memperhatikan Rae kagi? Biar dia tidak kekurangan kasih sayang, karena mommynya pasti akan sibuk dengan si adek?"


"Siap, nyonyaku...aku akan lebih perhatian lagi, dua kali lipat malah."


"Janji?"


"Janji, sayang...suamimu ini belum pernah ingkar janji, lho."


"Baiklah, kalau kita sudah deal, sekarang silahkan kukuk itu melaksanakan programnya dengan baik dan benar."


Beuh, Raka senang bukan main, sekarang Sarah malah lebih lihai mengimbanginya, membuat Raka senantiasa klepek-klepek.


Sepasang suami istri yang sepakat untuk sesuatu hal, tentunya akan lebih enjoy melakukan segala sesuatunya berdua.


...***...


Tiba-tiba Sarah menghentikan kesibukannya, dia teringat sesuatu, di ambilnya ponsel yang ada di atas meja dan menghubungi Diah.


Kata Sarah. Sambil tangannya menulis sesuatu di selembar kertas.


"Baik, bu." Jawaban Diah pendek dan lugas.


Sarah menutup telponnya itu, dia tampak sedang menulis sederetan tulisan di atas kertas seperti sebuah instruksi, alisnya mengernyit sebentar tampak sedang menpertimbangkan sesuatu.


Lalu seulas senyum kecil singgah di sudut bibirnya. Dia sangat puas dengan apa yang ditulisnya.


Sarah duduk menyandarkan punggungnya di kursi ruang kerja Raka yang kini juga menjadi ruang kerja Sarah, menunggu asistennya, Diah tiba. Dia mempunyai tugas khusus untuk asistennya itu.


TOK! TOK! TOK!


Pintu di ketuk.

__ADS_1


"Masuk."


Diah muncul dari balik pintu yang terbuka, dalam balutan kemeja putih lengan panjang dan rok plisket coklat muda, Diah tampak sederhana tapi begitu cantik.



"Ada apa, bu?" Diah bertanya dengan sikap anggun tetapi tetap dengan santun.


"Diah, aku ingin kamu mengantar surat ini, harus sampai sore ini." Kata Sarah sambil memasukkan kertas yang di tulisnya tadi, dilipatnya rapih dan di masukkannya ke dalam sebuah amplop.


Amplop berwarna coklat muda itu di selipkannya ke dalam sebuah map dokumen warna senada.


"Surat ini harus sampai sebelum di adakannya rapat voting untuk pengajuan Sally besok oleh Dewan Komisaris." Suara Sarah terdengar bening.


"Baik, bu. Kepada siapa saya harus mengantarkan surat ini."


"Kepada seseorang, alamat kantornya akan kukirim lewat WA saja padamu. Aku telah menghubunginya, dia menunggumu sekarang." Sahut Sarah.


"Pak Ardie akan mengantarmu ke sana." Lanjut Sarah.


Selama ini untuk berbagai kepentingan yang berurusan dengan kantor, Diah memang di antar oleh sopir pribadi papa Raka itu, karena Diah memang tak bisa menyetir, Pak Ardie siap sedia di kantor, apalagi pak Rudiath sedang berada di luar kota.


Diah mengangguk dengan patuh sambil menerima map dokumen yang di serahkan Sarah.


"Saya akan segera berangkat, bu. Siapa yang akan menerima surat ini nanti?" Tanya Diah, sambil memeluk map itu di dadanya.


"Pak Doddy Alfajri. Nanti ku kirimkan nomor kontaknya ke WAmu, supaya kamu bisa menghubunginya jika sampai kantor pak Doddy."



(Em...entah mengapa Othor malam ini, pengen banget UP di jam kunti kelayapan😅😅 Tunggu lanjutannya besok, ya...Othor lagi pengen membahagiakan para readers kesayangan, biar subuh-subuh dapet notif😂😂😂 Terimakasih buat kopi serta Vote yang dikirimkan para readers kesayangan untuk teman othor bergadang malam ini🥰 Hari ini othor double UP, yaaah...😁)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....


__ADS_2